Ex Philosophia Claritas

Kebebasan petanda Keberadaan Manusia

Manusia akan mencapai dirinya yang autentik tatkala melewati lorong kebebasan.
Jean-Paul Sartre Potrait

Daftar Isi

Kebebasan merupakan anugerah yang dimiliki manusia. Dengan kebebasan, manusia dapat menguasai dirinya sendiri, alam, hewan, juga manusia lainnya. Selain itu, kebebasan berarti melepas bentuk jerat dogma, mitos, nilai, dan moral yang menjeruji manusia. Menurut Jean Paul-Sartre, manusia dikutuk menjadi bebas.

Manusia akan mencapai dirinya yang autentik tatkala melewati lorong kebebasan. Kebebasan menjadi petanda keberadaan manusia. Tapi, pernahkah kita berpikir bagaimana kebebasan itu berasal dan terbentuk?

Etre-en-soi dan Etre-pour-soi

Kesadaran pada sesuatu menjadi pangkal kesadaran akan dirinya. Cogito Descartes hanya berkisar pada dirinya dan jauh dari dunia. Melalui Edmund Husserl, kita dapat memetik pelajaran bahwa kesadaran berkelindan dengan intensionalitas. Namun, fenomenologi Husserl hanya berhenti di tingkat eidos (esensi).

Sartre mengklasifikasikan keberadaan manusia dalam dua bentuk, yakni Etre-en-soi dan Etre-pour-soi. Etre-en-soi (Ada-pada-dirinya) berarti keberadaan yang lahir tanpa tujuan, tidak pasif, tidak aktif, dan juga tidak afirmatif. Dapat dikatakan bahwa keberadaan itu kontingen, ada begitu saja tanpa pendasaran apa pun, tanpa dibentuk, dan diciptakan. Kita hanya dapat menerima “Ada” sebagai entitas yang berada pada dirinya sendiri. Berbeda dengan Etre-en-soi, Etre-pour-soi (it is not what it is; kesadaran akan jarak, distansi dan non-identitas) berarti ketiadaan yang mengada. Maksudnya kesadaran kita akan sesuatu didasari akan jarak, ketika kita menyadari sesuatu, berarti kita bukan atau tidak sama dengan sesuatu tersebut. Misalnya ketika kita melihat buku dan jam dinding, kita sadar bahwa kita bukanlah buku dan jam dinding. Untuk dapat melihat sesuatu, maka diperlukan syarat mutlak, yakni jarak. Bila sesuatu dekat sekali dengan mata (misalnya kornea dan retina), maka kita tidak bisa melihat apa-apa. Contoh lain lagi misalnya saya sedang membaca, kondisi ini mengandaaikan saya sadar bahwa saya sedang membaca. Namun, saya juga sadar bahwa diri saya secara sepenuhnya tidak identik dengan orang yang membaca. Saya bisa melakukan aktivitas lain seperti bersepeda atau berlari.

Semuanya itu merupakan negativitas yang menjadi ciri khas Etre-pour-soi. Manusia mampu merengkuh ketiadaan sebagai manifestasi dari kehendak dan sikap menidak pada dunia. Dengan menolak dan memilih aktivitasnya, seperti diktum Sartre yang cukup populer, “Manusia telah dikutuk menjadi bebas”.

Sartre mengistilahkan mauvaise foi (sikap malafide), sebagai manusia yang lari dari kebebasannya, kecemasannya, dan menuju kebebasannya yang lain. Ketika manusia mendekap nilai-nilai, norma-norma yang berbenturan dengan hasratnya, ia menjadi terasing dari dirinya. Sebab nilai-nilai tersebut tidak mempresentasikan keinginan dan kebutuhannya, alih-alih melemparnya dari identitasnya sebagai manusia.

Karena nilai, norma, ataupun hukum merupakan produk dari manusia itu sendiri, maka mungkin bagi manusia untuk menciptakan nilai, norma, moral dan hukumnya yang baru. Namun, manusia juga berhak bertanggung jawab atas kebebasannya. Meski kebebasan sebagai petanda manusia berada, kebebasan manusia dibatasi oleh manusia yang lain, agar meminimalisir ketidak-harmonisan di antara mereka.

Pustaka

K. Bertens, Sejarah Filsafat Kontemporer Prancis (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2014), hlm. 97.

profil mohammad fauzi
Mohammad Fauzi

Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email