Dalam berkeimanan, terkadang manusia menyerahkan segala keinginan sebagai tanggung jawab Tuhan. Kelemahan manusia ini selanjutnya menjadi sumber permasalahan bagi dunia barat pada abad pertengahan hingga masa pencerahan. Voltaire melalui karyanya yang berjudul Candide berusaha untuk menguraikan permasalahan ini melalui beberapa percakapan Candide denggan beberapa tokoh lain yang ditemuinya.
Voltaire Candide
Dalam berkeimanan, terkadang manusia menyerahkan segala keinginan sebagai tanggung jawab Tuhan. Kelemahan manusia ini selanjutnya menjadi sumber permasalahan bagi dunia barat pada abad pertengahan hingga masa pencerahan. Voltaire melalui karyanya yang berjudul Candide berusaha untuk menguraikan permasalahan ini melalui beberapa percakapan Candide denggan beberapa tokoh lain yang ditemuinya.
Ditulis oleh
dalam

Comments
Baca Juga

Menimbang Kembali Wacana Redenominasi Rupiah dan Krisis Deliberasi Dalam Perspektif Habermasian: Pelajaran dari Keberhasilan Turkiye
Turkiye mengajarkan bahwa angka baru dapat menjadi instrumen modernisasi ekonomi yang sah dan efektif jika prosesnya menyeluruh, transparan, dan partisipatif.…

Jadi Berapa Besar Kapital Seksualmu?
Metafora kapital seksual digunakan untuk menjelaskan bagaimana individu dalam masyarakat neoliberal mendapatkan keuntungan dari subjektivitas seksualnya (termasuk di dalamnya adalah…

Filsafat Sains Kant
Immanuel Kant, yang dianggap sebagai filsuf sains, membagi sains menjadi historis atau rasional, dan mengakuinya sebagai sistem kognitif yang terorganisir.

Memikirkan Yang Berpikir: Mini-Tesis tentang Pure-Thinking
Berpikir, dalam pengertian sejatinya, bukan sekadar aktivitas intelektual — ia adalah pergulatan antara rasio dan pengalaman, antara yang historis dan…

Simulakra dan Hiperrealitas dalam Game Balap Assetto Corsa
Assetto Corsa memperlihatkan bagaimana modding dan komunitas dapat menciptakan dunia simulakra dan hiperrealitas ala Baudrillard.

Max Stirner sebagai Proto-Posthumanis: Kritik Humanisme dan Subjektivitas Unik dalam The Ego and Its Own
Stirner, dengan seluruh keanehannya, bukan sekadar pemikir marginal abad ke-19. Namun sebagai suara yang perlu didengar ulang dalam percakapan tentang…

Berikan komentar