Memahami Budaya Carok8 min read

Carok adalah sebuah kebudayaan yang kaya akan makna-makna sosial.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Daftar Isi

Beberapa  waktu  yang  lalu  di  dusun  Sumbergentong, Desa Klepu, Kecamatan  Sumbermanjing  Wetan, Kabupaten  Malang  telah  terjadi  perkelahian. Pertikaian tersebut  terjadi di antara kalangan  masyarakat  Madura yang kerap dikenal sebagai  carok.  Mengutip  berita  dari  jawapos.com, perkelahian  itu  mengakibatkan  dua  orang  meninggal  dunia. Dua  korban  tersebut  merupakan  ayah  dan  anak  yang  tengah  membersihkan  kebun  tebu. Perkelahian  itu  dilatarbelakangi  oleh  sengketa  tanah  bengkok  oleh  kepala  dusun  lama  dengan  yang  baru.  Para  pelaku  kini  telah  diproses  secara  hukum.

Peristiwa  tersebut  seakan  menciptakan  sebuah  pertanyaan  tentang  apakah  gunanya  carok,  jika  hanya  menimbulkan  korban  jiwa.   Guna  menjawab  pertanyaan  tersebut  kita  dapat  merujuk  pada  tulisan  A. Latief  Wiyata  dalam  bukunya  Carok: Konflik  Kekerasan  dan  Harga  Diri  Orang  Madura.  Pada  kajiannya  tersebut  Latief  menerangkan  bahwa  carok  diartikan  sebagai  pembunuhan  antar  laki-laki, pelecehan  harga  diri  seseorang  khususnya   berhubungan  dengan  perempuan,  perasaan  malu,  dan perasaan  bangga  bagi  pemenang  duel  tersebut.  

Dalam  sebuah  artikel  tirto.id yang  mengulas  karya  Latief, diterangkan  bahwa  carok  merupakan  kebudayaan  yang  baru  dikenal  pada  abad  ke-18. Kebudayaan  tersebut  muncul  karena  letak  Madura  yang  jauh  dari  pusat  pemerintahan  VOC  di  Surabaya.  Hal  ini  menyebabkan  penegakkan  aturan  yang  ada   tidak  optimal. Jadilah  setiap  orang  menyelesaikan  masalahnya  sendiri  dan  carok  menjadi  salah  satu  opsi.

Budaya  carok  seiring  waktu  menimbulkan  anggapan  tidak  baik  dari  masyarakat  non-Madura.  Pernyataan  tersebut  merujuk  pada  kajian  dari  Muwaffiq  Jufri  dalam  jurnalnya  berjudul  Nilai  Keadilan  Dalam  Budaya  Carok. Budaya  carok  dianggap  sebagai  perilaku  yang  menyimpang  dan  biadab  karena  dianggap  tidak  memperhatikan   sikap  kemanusiaan.  Padahal carok sendiri merupakan langkah  terakhir  dalam  menyelesaikan  masalah.  Sebelum  itu  pihak-pihak  yang  terlibat  melakukan  musyawarah  baik  dengan  pihak  keluarga  maupun  dengan  lawan. Jikalau  musyawarah  tersebut  tidak  membuahkan  hasil  barulah  carok  diadakan.  Ketika  jalan  carok  telah dipilih  berarti  pihak-pihak  yang  terlibat  telah  melewati  tahap-tahap  mediasi  yang  dan  paham  akan  konsekuensinya.

Guna  memahami  budaya  carok  kita  sedapat  mungkin  untuk  melihat  tahapan-tahapannya  secara  utuh.  Hal  tersebut  berguna  untuk  menghindarkan  kita  dari  penilaian  sepihak.  Carok  sendiri  harus  diakui  merupakan  salah  satu  cara  orang  Madura  dalam  mengekspresikan  identitas  kelompoknya. Dengan  begitu  carok  adalah  sebuah  kebudayaan  yang  kaya  akan  makna-makna  sosial.  Namun  tidak  dapat  dipungkiri  bahwa   budaya  carok  berkontradiksi  dengan  hukum  pidana  yang  berlaku  di  Indonesia.  Pernyataan  tersebut  merujuk  pada   Kitab  Undang-undang  Hukum  Pidana  Bab  VI  tentang  Perkelahian  satu  lawan  satu  pasal  184  ayat  dua  dan  tiga.

Permasalahan   carok  pada  masyarakat  agar  tidak  menimbulkan  korban  jiwa  lagi  dibutuhkan  sistem  preventif  khusus.  Hal  ini  merujuk  pada   kajian   dari  W.P. Djatmiko  berjudul   Rekonstruksi  Budaya  Hukum  Dalam  Menanggulangi  Carok  di  Masyarakat  Madura  Berdasar   Nilai-nilai  Pancasila  Sebagai  Sarana  Politik  Kriminal.  Mengoptimalkan  peran  ulama   ulama  atau  kiai  guna  menjunjung  tinggi  ajaran  agama  Islam  yang  syarat  akan  kedamaian.  Sebenarnya  mereka  merupakan  faktor  penentu    perubahan  budaya  di  masyarakat. Hal  tersebut   dapat  terjadi  karena  masyarakat  Madura  meyakini  konsep  bapa’ babhu’ ghuru  rato.  Konsep  tersebut  mengharuskan  orang  Madura  untuk  patuh  pada  kedua  orang  tua,  ulama,  dan   sistem birokrasi  yang  berlaku.

Selain  memaksimalkan  peran  kiai  guna  menjadi  agen  budaya  agar  tidak  ada  korban  yang  berjatuhan.  Sangat  penting  untuk  juga   menggiatkan  mediasi  lewat  Lembaga  Musyawarah  Adat.  Lembaga  informal  seperti  ini  dapat  menjadi  salah  satu  opsi  masyarakat  yang  hendak  mencari  keadilan  namun    terkendala  belum  adanya  elemen  penegak  hukum  di  daerahnya.  Lembaga  Musyawarah  Adat   sangatlah  efektif  apabila  ditempatkan  di  daerah  rawan  konflik.  Tentunya  lembaga  ini  sudah  sangat   memahami  proses  penyelesaian  masalah  dalam  masyarakat  yang  masih  tradisional (Djatmiko,2019).

Peran  pendidikan sangat vital  bagi  upaya  rekulturasi  budaya  carok.  Pendidikan  berfungsi  memberikan  pemahaman  yang  utuh  pada  generasi  muda agar  dapat  berpikiran  terbuka.   Salah  satu  contoh  yang  dapat  kita  telaah  adalah  lewat  kajian  Zainuddin  Syarif  dalam  jurnalnya  berjudul  Rekulturasi  Pendidikan  Islam  di  Tengah  Budaya  Carok  di  Madura.  Beliau  melakukan  penelitian  di  Desa   Bujur,  Kecamatan  Batumarmar,  Kabupaten  Pamekasan,  Madura.  Dalam  kajiannya  tersebut  diterangkan  bahwa  lembaga  pendidikan  Islam   banyak  diminati  di  daerah  itu  melebihi  lembaga  pendidikan  umum .

Dominasi  dari  lembaga  pendidikan  Islam  pada  akhirnya  membentuk  generasi  muda  untuk  memiliki  preferensi  lebih  baik  berkaitan  dengan  budaya  kekerasan.   Hal  tersebut  tergambar   dari  orientasi  lembaga  pendidikan  Islam  apabila  ditinjau  dari  visi  dan  misi yang  tertera. Jikalau  dicermati  secara  garis  besar  orientasi  lembaga  pendidikan  Islam  adalah  membentuk  generasi  yang memiliki  akhlak  mulia, paham  terhadap  aturan  agama,  serta  insan   yang  bertanggung  jawab.  Namun  proses  internalisasi  nilai-nilai  keteladanan  bukan  hanya  tugas  lembaga  pendidikan  saja , melainkan  juga  dibutuhkan  peran  orang  tua.   Pola  komunikasi  lembaga  pendidikan  Islam  dan  orang  tua  pada  anak  juga  harus  dua  arah.  Hal  ini  untuk  menjadikan  nilai-nilai  yang  diajarkan  dapat  diterima  dengan  optimal  baik  dari  pengajar  maupun  murid (Syarif  Zainuddin,2014).

Terakhir penulis  hendak  mengingatkan  kembali  untuk  dapat  lebih  bijak  dalam  menilai  sebuah  kebudayaan.  Dengan  begitu  kita  dapat  mengambil  pelajaran  positif  dari  kebudayaan  yang  ada sebagai  dasar  perbaikan  ke depannya.

Daftar Pustaka

Antara.2021. “Dua Tewas akibat Carok, Polres Malang Tangani Kasusnya”. https://www.jawapos.com/nasional/hukum-kriminal/29/01/2021/dua-tewas-akibat-carok-polres-malang-tangani-kasusnya/. Dikutip  11  Februari  2021

Djatmiko, W. P. “Rekonstruksi Budaya Hukum Dalam Menanggulangi Carok di Masyarakat Madura Berdasar Nilai-nilai Pancasila Sebagai Sarana Politik Kriminal.” Jurnal Hukum Progresif 7.1 (2019): 40-63.

Jufri, Muwaffiq. “Nilai Keadilan dalam Budaya Carok.” Jurnal YUSTITIA 18.1 (2019).

Syarif, Zainuddin. “Rekulturasi Pendidikan Islam di Tengah Budaya Carok di Madura.” KARSA: Journal of Social and Islamic Culture 22.1 (2015): 114-136.

Wibisono  Nuran.2016.”Masih  Ada  Carok  di  Madura”. https://tirto.id/masih-ada-carok-di-madura-b5l2. Dikutip  11  Februari  2021

Wiyata, A. Latief. Carok; Konflik Kekerasan & Harga Diri Orang Madura. Lkis Pelangi Aksara, 2002.

Dion Faisol Romadhon

Mahasiswa Antropologi Universitas Airlangga