fbpx

Memaknai Pendidikan Lewat Pedagogi Kritis Giroux

Pedadogi kritis akan mengantarkan kita pada pemakanaan hidup lewat pertanyaan atas segala bentuk hubungan atas kekuasaan yang ada.
The Black Stain karya Albert Betannier
The Black Stain karya Albert Betannier

Pedadogi merupakan istilah yang sering dipahami sebagai metode dalam proses pengajaran yang berisi teori mengenai pendidikan dan sistem pengajaran. Oleh salah satu tokoh bernama Henry Giroux, pedadogi diperluas maknanya menjadi paradigma kritis terhadap kehidupan, sebuah pandangan yang melihat hubungan antara dunia dengan individu secara lebih mendalam. Pedadogi ini akan mempertanyakan keterkaitan antara kekuasaan yang terletak di dalam struktur masyarakat dengan pola masyarakat yang terbentuk sebagai akibat kekuasaan tersebut. Pedadogi ini dikenal sebagai pedadogi kritis.

Dalam pedadogi kritis, kita perlu mengenal Giroux yang menekankan pentingnya wawasan dan kepekaan moral. Giroux seorang pemikir yang lahir pada 18 September 1943 menekankan dalam pentingnya wawasan, individu perlu memiliki wawasan yang luas dengan mampu melihat keterkaitan suatu persoalan dengan persoalan lainnya. Sedangkan dalam kepekaan moral, individu didorong untuk mampu memiliki kemampuan yang dapat membuat penilaian baik dan buruk dengan alasan yang masuk akal. Kedua hal tersebut dibersamai dengan sikap kritis, cara pandang yang lebih mendalam dengan harapan mampu mendorong keterlibatan indvidu dalam dinamika sosial untuk perubahan di masyarakat.

Giroux memberikan sebuah paradigma terhadap pedadogi dengan maksud merubah pemahaman pedadogi agar bersifat kritis dan kontekstual. Sebagai salah satu pendiri pedadogi kritis atau Critical Pedadogy, Giroux berupaya mengkritisi secara tajam berbagai cara pandang, termasuk neoliberalisme, lewat tulisannya yang berkutat pada kajian budaya, pendidikan, media, pedadogi, teori sosial dan pendidikan dengan jumlah lebih dari 60 buku serta artikel yang diterbitkan di berbagai media. (Wattimena, 2018)

Kondisi dunia pendidikan terus menjadi sorotan. Hal ini tidak lepas dari bagaimana praktek pendidikan yang semakin sulit dijangkau, mengekang, dan otoriter. Istilah reformasi pendidikan seringkali dianggap sebagai harapan untuk menyelamatkan pendidikan. Namun hal tersebut dikritik oleh Giroux, karena baginya reformasi pendidikan biasanya justru diajukan untuk mengubah pendidikan menjadi tidak kritis.

Giroux berpendapat bahwa dunia pendidikan global hari ini sedang mengalami proses komodifikasi, yang menjadikan pendidikan sebagai barang dagangan untuk tujuan keuntungan ekonomis (Giroux, 2011). Dalam komodifikasi pendidikan, segala tujuan selain keuntungan ekonomis akan disingkirkan. Di atas landasan neoliberalisme, kecenderungan pelaksanaan pendidikan diarahkan pada tata kelola ekonomi, dengan motif pada pencarian keuntungan merupakan sikap yang ditunjukkan oleh homo economicus (Priyono, 2007).

Dalam pemikiran di dunia pendidikan, Giroux banyak mendapatkan inspirasi dari Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan asal Brazil. Pendidikan bagi Paulo Freire memiliki keterkaitan erat dengan keberanian intelektual dan politis. Intelektual seharusnya memiliki kepekaan moral dan ketajaman analisis serta tidak hanya berdiam diri pada menara gading keilmuannya. Keterlibatan intelektual dalam berbagai upaya mewujudkan kebaikan bersama dalam masyarakat merupakan hal penting untuk mendorong perubahan sosial serta melepaskan pendidikan yang dijadikan sebatas alat untuk menindas dan menjajah. 

Pada hari ini terdapat paradigma neoliberalisasi pendidikan yang melakukan penekanan atas kemampuan untuk memenangkan kompetisi bisnis adalah hal utama yang perlu dilakukan. Proses pendidikan dalam paradigma ini ditentukan pada tiga hal, yaitu sistematisasi pembelajaran, hafalan mutlak, dan tes-tes standarisasi wajib yang terus- menerus dilakukan. Bagi peserta didik yang tidak mau terlibat dalam tiga hal tersebut akan di singkirkan dan dianggap bodoh karena tidak sesuai dengan standarisasi yang ditetapkan. Sistem pendidikan neoliberal memaksakan sistem sekolah untuk membentuk robot produksi yang patuh serta tidak kritis dalam berpikir. Sistem ini juga mengesampingkan tujuan mulia pendidikan dengan menjadikan tujuan pemenuhan kepentingan bisnis dan industri sebagai target utama. Hal ini dapat dilihat dari penghargaan yang lebih tinggi terhadap kemampuan menghafal, kepatuhan, hingga kompetisi yang individualistik dibandingkan kemampuan analisis kritis, kreativitas ataupun kerjasama yang kolektif  (Giroux, 2011).

Kondisi pendidikan yang cenderung otoriter akan mematikan budaya kritis. Hal ini akan berimbas kepada matinya kebebasan dan ruang mempertanyakan suatu hal sehingga melahirkan sikap ketidakpedulian terhadap permasalahan yang terjadi. Masyarakat yang lahir dalam model pendidikan semacam ini akan kehilangan esensi sebenarnya dari kehidupan sosial karena tidak mampu untuk berpikir reflektif dan memberi penilaian yang berimbang sehingga tidak memiliki tanggung jawab sosial. Cukup jelas hal ini akan berdampak negatif dalam kehidupan sosial manusia di masa kini dan nanti.

Hasil pendidikan neoliberal telah membuat akal budi sebatas digunakan untuk tujuan keuntungan ekonomis. Bagi Giroux, pendidikan neoliberal telah membunuh pendidikan dengan membuat peserta didik menjadi manusia yang hampir sepenuhnya kehilangan kemanusiaan. Hal ini tunjukkan dengan perilaku pendidikan yang seolah menyokong tindakan “saling menggigit” di antara individu hasil pendidikan tersebut.

Berangkat dari beberapa hal tersebut, Giroux menyatakan bahwa pendidikan harusnya mampu menyadarkan peserta didik tentang identitasnya. Identitas tersebut tidak bersifat secara langsung, namun didapat melalui proses pembentukan yang berkelanjutan lewat tahapan-tahapan pengenalan hubungan antara diri sendiri dengan lingkungan sekitar. Proses tersebut dilakukan secara kritis dalam kepekaan untuk terlibat aktif di dalam perubahan sosial dengan tujuan kebaikan bersama. Pendidikan inilah yang nantinya mampu menawarkan cara pandang baru terhadap masyarakat dalam perubahan sosial dan mencegah langkah pendidikan neoliberal yang melepaskan nilai-nilai hidup bersama dari isi dan cara pengajarannya.

Pedadogi kritis menitikberatkan keluasan wawasan, kepekaan moral dan sikap kritis dalam paradigmanya. Ketiga hal ini dimulai dengan perbaikan pendidikan dengan maksud untuk mendorong keterlibatan sosial dalam perubahan masyarakat. Perbaikan pendidikan nantinya juga mampu membentuk lingkup sosial yang setara, adil dan penuh kesadaran.

Pada akhirnya, pedadogi kritis akan mengantarkan kita pada pemakanaan hidup lewat pertanyaan atas segala bentuk hubungan atas kekuasaan yang ada. Kita juga mampu mempertanyakan kembali atas berbagai kebiasaan lama yang sudah dilakukan. Pedadogi kritis sejatinya membawa kita menemukan kebaikan bersama lewat pendekatan yang berakar pada konteks sosial dan sejarah masyarakat tertentu. Tentu, hal ini berangkat dari masyarakat terdidik yang memiliki keberanian untuk terlibat dalam perubahan sosial lewat sikap yang lebih terbuka, bebas, dan adil melalui pemaknaan atas konteks sosial secara terus menerus.

Referensi

Bronner, S. E. (2011). Critical Theory: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press.

Giroux, H. (2011). On Critical Pedagogy. London: The Continuum International Publishing Group.

Priyono, B. H. (2007). Sesudah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.Wattimena, R. A. (2018). Pedadogi Kritis: Pemikiran Henry Giroux Tentang Pendidikan dan Relevansinya Untuk Indonesia. Jurnal Filsafat.

Muhammad Iqbal Kholidin

Pembelajar filsafat

2 Responses

Berikan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Skip to content