10–16 minutes

Memikirkan Yang Berpikir: Mini-Tesis tentang Pure-Thinking

Berpikir, dalam pengertian sejatinya, bukan sekadar aktivitas intelektual — ia adalah pergulatan antara rasio dan pengalaman, antara yang historis dan yang melampaui sejarah.

Ilustrasi kontemplasi manusia

Berpikir dapat didudukkan secara diametral dengan aktivitas biologis, namun keduanya berbeda secara locus organicus. Jika disandingkan dengan aktivitas fisik seperti makan dan minum, berpikir juga termasuk bagian dari kebutuhan dasar manusia. Kemampuan berpikir tetap membutuhkan pancaindra-luaran (fakultas empiris) sebagaimana aktivitas biologis lainnya. Namun, secara locus organicus, berpikir tidak dapat dikategorikan semata sebagai aktivitas biologis, sebab proses berpikir juga melibatkan dimensi batiniah (non-fisik) seperti aspek mental dan spiritual.

Mungkinkah manusia berpikir tanpa pancaindra? Ada satu kondisi yang memungkinkan hal itu: ketika manusia mampu berpikir tanpa bergantung pada pengalaman empiris. Fenomena ini menjadi cita-cita para filsuf, terutama ketika René Descartes membayangkan adanya aktivitas berpikir yang benar-benar murni (pure-thinking). Dalam kategori berpikir ini, prosesnya tidak bergantung pada kemampuan biologis, melainkan pada kemurnian rasio. Dari sinilah lahir sebuah hipotesis matematis: ada hal-hal yang bisa dipikirkan, namun tidak bisa dilihat.

Immanuel Kant kemudian melanjutkan jalur ini dengan mengonstruksi sebuah metode berpikir apriori. Apriori adalah proses berpikir yang tidak bersumber dari pengalaman, melainkan dari struktur rasional manusia itu sendiri. Hal ini dapat ditelusuri secara empiris melalui realitas angka. Misalnya, untuk mengetahui bahwa 1 + 1 = 2 atau bahwa 1 detik = 109 nanodetik, kita tidak perlu mengalami secara langsung peristiwa matematis tersebut. Angka tidak memiliki realitas pengalaman; atau kalaupun ada, kemungkinan pengalaman itu sangat kecil. Kenyataan semacam ini dapat dipikirkan secara apriori. Maka, pernyataan matematis sesungguhnya adalah hipotesis yang tidak mesti memiliki kenyataan empiris.

Menariknya, realitas matematis ini sejalan dengan sebagian pemikiran dalam Islam. Beberapa ulama menyebutnya sebagai bentuk pemikiran Ilahi (divine-thought), yakni kebenaran yang bersumber dari ilmu Tuhan yang tidak memerlukan pembuktian empiris. Ilmu Tuhan mencakup yang tampak (seen) dan yang tidak tampak (unseen). Angka termasuk kategori unseen, sebab keberadaannya hanya dapat dieksplisitkan melalui simbol: notasi. Artinya, simbol-simbol angka adalah representasi dari sesuatu yang sejatinya tidak berwujud secara fisik, namun “ada” dalam ranah apriori, di wilayah pikiran murni, tempat manusia berpikir tentang pikirannya sendiri.

Namun bagaimana pure-thinking berlangsung—dan apa syarat-syaratnya—masih menyisakan problem teoritis yang memerlukan penjelasan lebih dalam. Dengan demikian, tulisan ini adalah mini-tesis yang berupaya untuk menelusuri fondasi-fondasi yang memungkinkan manusia melepas ketergantungan pada pengalaman empiris. Dengan menelaah konsep-konsep seperti frame of thought, perangkat berpikir, benua pemikiran, historisitas berpikir, dan semesta berpikir. Tulisan ini juga berupaya menunjukkan bahwa proses berpikir murni bukanlah aktivitas yang spontan, tetapi membutuhkan kesadaran reflektif terhadap mekanisme berpikir itu sendiri. Pure-thinking dapat diupayakan sejauh manusia mampu menata ulang perangkat penalarannya secara kritis dan menyadari batas-batas pengalaman yang mempengaruhi pikirannya

Skema Berpikir dan Frame of Thought

Membahas tentang pikiran tentu kita akrab dengan istilah logika. Pada dasarnya logika adalah upaya manusia untuk membuat peta berpikir dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Melalui logika, manusia belajar menelusuri dan memetakan batas-batas berpikirnya sendiri. Namun batas-batas itu ternyata tidak statis; hari demi hari, ia bisa terus meluas seiring setiap manusia memperluas skema berpikir yang telah dimilikinya.

Saya menyukai istilah skema berpikir, sebab berpikir memang memiliki skemanya sendiri. Skema dapat dipahami sebagai gambaran kasar, semacam outline dari proses berpikir. Sedangkan kerangka berpikir berbeda sifatnya: ia lebih rigid. Kerangka berpikir (frame of thought) mengisyaratkan arah yang jelas, sebab “frame” selalu menunjuk pada sesuatu yang sedang dibidik.

Derrida pernah memberi komentar menarik tentang persoalan frame ini. Apa sebenarnya arti dari sebuah kerangka? Kerangka adalah rangka, sebuah batas yang kita pasang untuk melihat realitas yang jauh lebih kompleks. Ketika kita mengarahkan lensa pandang, sesungguhnya kita hanya mengambil satu sudut dari kenyataan yang luas. Pertanyaannya, apakah kerangka itu benar-benar mewakili realitas? Barangkali tidak. Namun setidaknya, kerangka tersebut mencerminkan pilihan kita tentang bagaimana ingin melihat dunia.

Masalahnya, siapa yang menentukan kerangka itu? Dari mana asalnya kerangka berpikir seseorang? Banyak orang sering “menyerobot” realitas, seolah-olah apa yang ia lihat adalah kenyataan itu sendiri. Padahal, apa yang kita persepsikan belum tentu identik dengan kenyataan yang sesungguhnya. Inilah problem empiris yang kerap terjadi di mana-mana: antara persepsi dan kenyataan selalu ada jarak.

Immanuel Kant berusaha keras menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan dunia tidak pernah langsung. Ada kerangka apriori, sebuah struktur berpikir yang terlepas dari pengalaman, yang membentuk cara kita memahami realitas. Di wilayah perbatasan antara diri dan dunia inilah muncul berbagai problem besar: subjektivitas, prasangka, interpretasi, hermeneutika, epistemologi, dan tentu saja, kebenaran itu sendiri. Jika benar bahwa yang kita persepsikan bukanlah kenyataan itu sendiri, maka sejauh mana persepsi kita dapat menjangkau kenyataan? Dan sejauh mana kenyataan itu hadir dalam persepsi kita?

Bayangkan, misalnya, sebuah gunung yang kita potret dengan kamera. Gambar di layar kamera itu bukanlah gunung itu sendiri, ia hanya representasi, ilusi visual dari kenyataan. Seberapa jauh gambar itu mampu mewakili realitas gunung yang sesungguhnya? Kita kerap menyebutnya “objektif”, padahal klaim itu justru bersandar pada ketidaktahuan kita tentang keterbatasan cara pandang kita sendiri. Sesungguhnya, pemahaman manusia terhadap realitas bersifat gradatif, bertingkat dan berlapis. Ada gradasi dalam cara kita menangkap kenyataan. Objek yang sama dapat dipersepsikan secara berbeda oleh setiap orang, tergantung pada keterbatasan maupun latar belakangnya. Seperti objek gajah, orang buta, orang tuli, dan ahli kebinatangan: objektifikasi gajah hadir menyesuaikan latar belakang subjek, sehingga masing-masing orang menyentuh dengan sudut pandang berbeda. Demikian pula realitas yang lain, akan tampil berbeda bagi setiap subjek yang mengamatinya.

Keragaman persepsi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: jika setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda, lalu apa yang sebenarnya disebut objektif? Apa yang hakiki dari realitas itu sendiri? Immanuel Kant, setelah berjuang keras mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, akhirnya menyimpulkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar berhadapan langsung dengan realitas murni. Ia menyebut konsep ini sebagai das ding an sich (“the thing in itself”), sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri. Menurut Kant, realitas dalam dirinya sendiri itu tidak pernah bisa kita ketahui secara langsung. Dengan kata lain, tidak ada “realitas murni” yang dapat kita akses tanpa perantara persepsi.

Namun, di titik inilah Kant justru menghadapi kebuntuan. Kesimpulannya seolah meniadakan realitas objektif sama sekali. Padahal, masalahnya bukan pada ada atau tidaknya realitas, melainkan pada jarak yang selalu terbentang antara manusia dan kenyataan yang ia pahami. Semakin dekat seseorang dengan objeknya, semakin berbeda pula corak dan kedalaman pemahamannya.

Perangkat Berpikir

Manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengatasi keterbatasan persepsi tersebut. Menggunakan perangkat berpikir seperti ilmu pengetahuan (sains modern), misalnya. Dulu, bintang-bintang di langit disangka berjarak sejauh pandangan mata; kini, dengan teleskop dan sains modern, kita tahu bahwa pandangan itu semata persepsi terbatas. Dulu orang hanya mengenal “darah” sebagai satu entitas, sekarang sains membuktikan ada banyak jenis dan komposisi darah. Dengan kata lain, alat bantu persepsi memungkinkan kita melihat realitas dengan lebih jernih. Jika dalam ranah ilmu alam persoalan epistemologi dapat dijawab melalui instrumen empiris seperti mikroskop atau teleskop, maka berbeda halnya dengan ranah metafisika, seperti pembahasan tentang Tuhan, hakikat kebenaran, atau kesucian alam. Di wilayah inilah manusia kerap berpecah pandangan.

Seorang muslim memiliki cara sendiri untuk menempuh jalan menuju kebenaran: melalui dalil. Dalil berfungsi layaknya teleskop, sebuah perangkat yang mendekatkan kita kepada objek yang jauh, agar dapat dipahami dengan lebih tepat. Jika seorang muslim ingin memahami realitas objektif kehidupan Nabi, misalnya, tentu mereka perlu mendekatinya melalui dalil yang sahih, melalui kitab-kitab hadis, sejarah, dan tradisi keilmuan Islam. Tanpa perangkat itu, mereka hanya akan menebak-nebak realitas dari kejauhan.

Berpikir selalu melibatkan dua hal yang tak terpisahkan: objek yang ingin dipahami, dan perangkat yang digunakan untuk mendekati objek tersebut. Namun, tidak semua perangkat cocok untuk setiap objek. Sering kali alat yang kita pakai justru tidak berfungsi. Misalnya jika seseorang ingin memahami kebenaran teori Einstein tetapi belajar melalui metodologi fikih Imam Syafi‘i, tentu pendekatan itu tidak akan nyambung. Bukan karena fikih tidak benar, melainkan karena alat epistemologis-nya berbeda dan tidak relevan dengan objek yang dikaji. Setiap objek pengetahuan memiliki problematikanya sendiri, dan karenanya memerlukan cara pendekatan yang berbeda pula. Dari kesadaran inilah lahir berbagai metodologi yang kemudian disusun secara ketat dan sistematis. Metodologi menjadi semacam peta jalan berpikir yang menuntun manusia agar tidak tersesat dalam menyingkap suatu objek. Namun, di sisi lain, metodologi yang terlalu ketat juga membatasi ruang bagi apa yang disebut pure thinking.

Di zaman sains modern yang serba terukur dan detail seperti sekarang, pemikiran spekulatif nyaris tidak memperoleh tempat. Mungkin ia masih bisa tumbuh di ranah individu, tapi sulit bertahan dalam ruang kolektif yang dikuasai oleh sistem-sistem pengetahuan mapan dan metodologi ilmiah yang telah menjadi bagian dari sejarah intelektual umat manusia.

Meski begitu, skema-skema berpikir individual tetap memiliki potensi besar untuk menggugat sistem-sistem lama. Gagasan baru sering kali muncul dari individu yang berani menentang cara berpikir dominan. Namun tanpa dasar yang kuat, pemikiran semacam itu mudah dianggap ilusi atau sekadar fantasi pribadi. Misalnya, jika seseorang memiliki klaim besar tanpa dukungan data dan sejarah, maka pandangannya akan segera berhadapan dengan kritik dari sistem pengetahuan yang lebih mapan. Seperti halnya narasi politik dan historis Israel yang berusaha membentuk citra sebagai “bangsa besar”, namun harus berhadapan dengan sejarawan dan bukti-bukti faktual yang mempersoalkan klaim tersebut. Di sinilah sering terjadi perang pemikiran (war of thought) dalam sejarah.

War of Thought dan Benua Pemikiran

Perang pemikiran adalah benturan antara gagasan-gagasan subjektif yang mencoba menembus sistem berpikir yang sudah mapan. Ketika sebuah pemikiran baru dapat membuktikan diri dengan bukti yang kuat, ia berpotensi menjadi sistem baru yang diikuti banyak pemikir setelahnya. Tetapi jika gagal menembus batas itu, ia hanya akan dikenang sebagai olah pikir kreatif yang tidak berhasil menggoyang arus pemikiran jamak. Patut dipahami pula bahwa sistem berpikir yang dominan di dunia saat ini tidak lahir begitu saja, melainkan dari proses warisan panjang tradisi keagamaan dan sejarah peradaban. Tiga agama besar, Yahudi, Kristen, dan Islam, memainkan peran besar dalam membentuk fondasi cara berpikir manusia modern. Tradisi Yudeo-Kristen, misalnya, menjadi akar bagi kebudayaan dan filsafat Barat (oksidental), sementara Islam membentuk tradisi intelektual di dunia Timur Tengah dan sekitarnya. Masing-masing menjadi semacam “benua pemikiran” yang membentuk cara manusia memahami dunia.

Kita, sadar atau tidak, hidup dalam bayang-bayang sistem berpikir tersebut. Perdebatan yang kita hadapi hari ini mungkin hanya bersifat lokal, sekadar tukar gagasan dalam lingkup sempit. Namun, jika seseorang terus mengasah ijtihad berpikir, berani menjelajahi ide, menulis, dan mengekspresikan kreativitas intelektualnya, maka suatu saat ia akan menemukan “benua pemikiran” yang baru. Di situlah terbentang jarak yang luas antara yang hanya mengikuti dan yang benar-benar mencipta.

Sebelum mengenal berbagai aliran filsafat, sebaiknya kita berlatih berpikir kreatif terlebih dahulu. Karya tulis, refleksi, atau bahkan spekulasi yang orisinal adalah bentuk latihan intelektual yang akan memberi warna baru bagi dunia pengetahuan. Dari titik kecil itulah gagasan dapat tumbuh dan meluas. Namun kini, pamor para filsuf yang hanya bergerak dalam pure-thinking telah banyak tergeser oleh para ilmuwan yang bekerja dengan bukti empiris. Pemikiran Aristoteles tentang fisika dan biologi, misalnya, kini nyaris tinggal catatan historis belaka. Ia telah memberi fondasi, tetapi jarang dipakai sebagai acuan sains modern.

Historisitas Berpikir

Proses berpikir pada hakikatnya bersifat ganda: historis sekaligus ahistoris. Ia terikat oleh konteks zaman, tetapi sekaligus memiliki potensi untuk melampaui batas waktu. Setiap orang berpikir dalam ruang dan waktu tertentu. Namun, pada saat yang sama, pemikiran juga dapat menembus sejarah: beyond history, melampaui konteks, ruang, dan zaman. Kita bisa saja, pada detik ini, di Indonesia, dalam lanskap sosial dan budaya yang khas dimiliki oleh Indonesia, namun memikirkan peristiwa yang terjadi lima ribu tahun lalu di tengah problem bani Israel, atau membayangkan dunia masa depan yang belum pernah kita alami.

Berpikir yang mampu melampaui sejarah tentu tidak mudah. Untuk bisa melampaui batas historis, seseorang harus terlebih dahulu mampu melampaui bukti-bukti konvensional dan menawarkan kerangka baru dalam memahami realitas. Pemikiran semacam ini visioner: tidak repetitif, tidak hanya mengulang warisan lama, tetapi justru memberi kebaruan.

Sayangnya, di ranah pure thinking, para filsuf zaman sekarang tampak kehilangan pamornya. Namun bukan berarti dunia kekurangan masalah untuk dipikirkan. Justru realitas kontemporer, seperti problem politik, kapitalisme, produksi yang serakah, krisis lingkungan, menyediakan begitu banyak bahan bagi momen-momen reflektif. Pertanyaannya, mampukah kita berpikir melampaui konteks historis kita sendiri? Apabila sebagian besar cara berpikir kita masih sangat lokal dan aksidental, pola pikir yang hanya bergantung pada momentum dan kasuistik sesaat, maka berpikir beyond history sulit dilakukan. Para pemikir Yunani kuno pernah beranggapan bahwa bentuk pemikiran yang paling universal adalah kosmologi, ilmu yang membahas keberadaan di luar diri manusia, tentang other-beings yang berpotensi ada dalam realitas. Bagi mereka, metafisika adalah bagian dari kosmologi: sebuah upaya untuk memahami hakikat keberadaan itu sendiri. Jika kita mau berdialog dengan “monumen-monumen filsuf besar” itu, kita akan menemukan bahwa berpikir, dalam pengertian sejatinya, memang dapat melampaui zaman. Ada ide-ide yang tetap hidup, bahkan setelah ribuan tahun, karena daya jangkaunya melampaui konteks kelahirannya.

Namun, hal ini tentu hanya berlaku bagi manusia biasa. Para nabi tidak membutuhkan proses berpikir dalampengertianfilosofis, sebab mereka adalah penerima wahyu. Nabi adalah minan-naba’, penyampaian berita kebenaran yang bersumber langsung dari Tuhan.

Dalam sejarah intelektual Islam, sering terjadi perdebatan antara dua fakultas besar pengetahuan: wahyu dan pemikiran. Wahyu bersumber dari informasi gaib yang tidak dicapai oleh rasio; ia bersifat transenden dan final. Sementara pemikiran manusia selalu bersifat progresif dan terbuka terhadap kebaruan. Dari sinilah kita mengenal konsep ‘ilm an-nubuwwah (ilmu kenabian) sebagai hakikat pengetahuan yang bersumber langsung dari Tuhan, yang kedudukannya berada di atas pengetahuan hasil olah pikir manusia.

Semesta Berpikir

Lalu, apa syarat agar berpikir dapat berdialog dengan zamannya? Berpikir adalah aktivitas yang sangat kompleks. Setiap hari, pancaindra kita dikepung oleh beragam data dan pengalaman. Pertanyaannya: apa yang akan kita lakukan dengan semua itu? Di sinilah letak keajaiban berpikir. Pikiran memiliki kebebasan yang luar biasa; ia mampu menembus batas ruang dan waktu.

Kebebasan berpikir adalah prasyarat utama bagi munculnya gagasan-gagasan besar. Seorang pemikir sebetulnya dapat berpikir dari mana saja, kapan saja, dan tentang apa saja, tanpa dibelenggu oleh suatu tekanan dari luar, sekalipun diri sendiri, kecuali jika ia sendiri memilih pasif dari proses berpikir itu. Banyak orang tersesat dalam apa yang bisa disebut sebagai jebakan pikiran, yaitu ketika seseorang berhenti berpikir karena lelah, takut, atau terjebak dalam keraguannya sendiri. Maka, sekali lagi, berpikir pada hakikatnya bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga pergulatan spiritual dan mental. Beruntunglah mereka yang benar-benar memiliki kebebasan berpikir. Sebab dengan itu, mereka mengenali salah satu sifat dasar pikiran manusia: ia tidak dibatasi oleh dirinya sendiri. Meski begitu, kebebasan ini tetap berada dalam wilayah yang pada akhirnya dikendalikan oleh Tuhan, karena hanya Dia-lah yang sepenuhnya mengetahui dan menguasai alur berpikir manusia.

Intinya, jika kita meninjau dari “semesta berpikir” itu, manusia sesungguhnya memiliki ruang berpikir yang amat luas dan terbuka. Sayangnya, tidak semua orang mampu memanfaatkannya. Banyak yang justru memilih menutup diri, mengisolasi pikirannya dengan alasan ketidakmampuan atau ketakutan untuk melangkah lebih jauh.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa tidak setiap gagasan yang muncul dari pikiran manusia dapat langsung diterima. Antara ide dan sistem berpikir terdapat jarak yang panjang dan proses yang kompleks. Gagasan baru harus melalui tahap-tahap pengujian, penajaman, dan pembuktian sebelum diakui sebagai bagian dari bangunan pengetahuan.

Para pemikir besar adalah mereka yang mampu menjelajahi semesta berpikir itu secara luas, menyentuh banyak persoalan kehidupan, dan mengekspresikannya dalam bentuk yang kompleks. Kebesaran seorang pemikir bukanlah mitos; kebesaran itu diukur dari keluasan objek pikirannya. Semakin luas objek yang digelutinya, semakin besar pula cakrawala berpikir yang ia miliki. Inilah wilayah apriori, ruang di mana manusia berupaya memahami hakikat sebelum realitas empiris ditangkap oleh pancaindra.

Ahmad Zainul Khofi

Comments

Berikan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga