4–7 minutes

Quo Vadis, Metasantri?

Metasantri adalah bukti empiris yang mengafirmasi filsafat metamodernisme Vermeulen dan Akker.

Arab School karya John Frederick Lewis

Sudah terlalu sering kita membahas pondok pesantren dan santri dalam menghadapi tantangan modernisme dan postmodernisme. Tampaknya zaman terus berubah, dan ini melahirkan tantangan baru bagi santri dan pesantren. Barangkali modernisme menawarkan modernitas dan kemajuan, sedangkan postmodernisme memberikan kebebasan dan penghormatan atas keragaman. Apakah modernisasi, kemajuan, kebebasan dan pluralisme sudah cukup sebagai tantangan yang harus dihadapi santri dan pesantren? Tentu saja tidak. Di sana masih terus bermunculan tantangan-tantangan baru bagi pesantren, yang tidak cukup dilihat dari kacamata modernisme dan postmodernisme.

Tulisan ini akan membahas perspektif Timotheus Vermeulen dan Robin van den Akker (2010) mengenai metamodernisme. Vermeulen dan Akker menemukan sebuah ekspresi baru kebudayaan yang bolak-balik (osilasi) antara antusiasme modern dan ironi postmodern, antara harapan dan melankolis, antara kenaifan dan pengetahuan, antara empati dan apati, antara kesatuan dan pluralitas, antara totalitas dan fragmentasi, serta antara kemurnian dan ambiguitas. Karenanya, asumsi bahwa santri dan pesantren hanya tertantang menjawab tuntutan-tuntutan modernitas dan postmodernitas perlu ditinjau ulang. Perspektif Vermeulen dan Akker akan mengantarkan santri dan pesantren pada tantangan baru, metamodernisme.

Vermeulen dan Akker dalam Notes on metamodernism mengartikan metamodernisme sebagai “structure of feeling,” rangka bangun perasaan yang campur aduk, tidak jelas keberpihakan dan konsistensinya, terombang ambing antara percaya diri dan mengecewakan, antara optimisme menggebu dan pesimisme yang layu. Perasaan yang benar-benar tak pasti merupakan fenomena psiko-sosial dimana-mana, mudah kita temukan pada perilaku orang lain dan juga dirasakan diri sendiri. Bukan tidak mungkin perasaan itu akan mengkristal oleh berbagai sebab dan dalam pelbagai kondisi, lalu menjelma bagian tak terpisahkan dari kebudayaan kita.

Secara leksikologis, Vermeulen dan Akker menjelaskan kata metamodernisme terdiri dari dua suku kata; meta dan modernisme. Kata meta berasal dari Yunani yang berarti “between,” “beyond,” atau “with”. Maksudnya, secara epistemologis, metamodernisme ada di antara (between) modernisme dan postmodernisme; secara ontologis beriringan (with) dengan modernisme dan postmodernisme; namun secara historis melampaui (beyond) modernisme dan postmodernisme. Metamodernisme adalah babakan baru bagi perjalanan filsafat sekaligus berakhirnya kejayaan postmodernisme.

Woro-woro kematian postmodernisme salah satunya dimulai dari buku The Politics of Postmodernism – 2nd Edition – Linda Hutcheon, yang kata Vermeulen dan Akker melecut para pemikir setelahnya untuk memberikan tanggapan. Gilles Lipovetsky menawarkan istilah Hipermodernisme, Alan Kirby mengajukan istilah digimodernisme atau pseudo modernisme, Robert Samuels membawakan istilah automodernisme, Nicholas Bourriaud memperkenalkan altermodernisme, bahkan ada yang menawarkan istilah post-postmodernisme. Apapun istilahnya mengacu pada matinya postmodernisme.

Penyebab utama kematian postmodernisme, menurut Vermeulen dan Akker, ketidakmampuan dalam menjawab tantangan-tantangan yang muncul dari peristiwa-peristiwa material (material events) seperti perubahan iklim, krisis finansial, aksi terorisme, dan revolusi digital. Itu bisa dimengerti. Manusia tidak butuh pada jawaban-jawaban ala postmodernisme yang menunda narasi besar kebenaran, merayakan perbedaan pandangan, atau bersilat lidah yang menghalangi usaha-usaha konkret, logis, dan mendesak mengatasi semua jenis krisis material tersebut. Perasaan semacam ini, kebutuhan pada aksi nyata ini, adalah warisan lama modernisme.

“Metasantri”

Rangka bangun perasaan, structure of feeling, metamodernisme yang digambarkan Vermeulen dan Akker terkonfirmasi dalam masyarakat subkultur di Indonesia, yang kita sebut komunitas santri dan lembaga pendidikan pesantren. Di satu sisi, kita diperkenalkan dengan  Program Pesantren Hijau, Kolaborasi Tiga Lembaga di PBNU …yang membawa semangat pengentasan krisis perubahan iklim. Di sisi yang lain, Ulil Abshar Abdalla: PBNU Kelola Tambang Itu Bid’ah Maslahat, Bid …, yang menangguhkan komitmen awal untuk menjaga alam. Perasaan terombang-ambing santri, antara komitmen menjaga lingkungan dan legitimasi keagamaan atas praktik eksploitasi sumber daya alam, layak disebut fenomena psiko-sosial metamodernisme kaum sarungan itu.

Fenomena yang sama terjadi dalam ranah yang lebih luas, kebudayaan, keagamaan, ekonomi, dan politik. Budaya santri adalah takzim dalam mengikuti pemikiran dan sikap kiai/ulama, sebagai bentuk implementasi akhlakul karimah, yang sekaligus merupakan ciri khas pendidikan pesantren. Perasaan takzim tersebut tertunda ketika Kiai Lirboyo Halalkan Politik Uang – Tempo.co, dan pada saat yang sama Santri Situbondo sambut HSN ajak masyarakat stop politik uang. Tumpang tindih logika keagamaan, kebudayaan dan pandangan politik menandai babak baru perjalanan santri menuju metasantri,  yang tidak berani menunjuk kepada sosok tertentu, tetapi dengan lantang menyuarakan sikap berbeda.

Tumpang tindih logika keagamaan dan kebudayaan disebabkan ketidakmampuan narasi-narasi besar untuk menjawab tantangan konkret, aktual, dan kontekstual yang terus berkembang. Namun, pada saat yang sama, menghargai perbedaan dan keragaman pandangan juga problematik. Dalam konteks ini, politik uang terlalu merajalela dan tak terhindarkan, sehingga pilihan tokoh agama adalah meminimalisir sisi mudharatnya. Karenanya, politik uang diperbolehkan dengan syarat yang ketat. Tetapi, menerima pandangan yang demikian juga bermasalah, karena dinilai tidak mendorong demokrasi ke arah yang lebih bersih, transparan dan adil.

Ketidakmampuan narasi besar menjawab tantangan juga terlihat dalam ranah teologi, dalam hal ini konsep Islam moderat. Masdar Hilmy dalam WHITHER INDONESIA’S ISLAMIC MODERATISM? A … dengan tegas menyatakan bahwa konsep moderatisme Islam ala Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sudah tidak lagi kompatibel menjawab berbagai tantangan yang muncul, sehingga perlu pembaharuan. Menurut Masdar Hilmy, hal itu dibuktikan dengan keberadaan beberapa elite NU di Jawa Timur yang menjadi juru bicara dan corong gagasan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pandangan Masdar Hilmy ini menunjukkan ketidakmungkinan menerima narasi besar (grand narrative) moderatisme Islam ala NU dan Muhammadiyah, tetapi juga mustahil merayakan kebebasan dan pluralisme dengan membiarkan gerakan ideologis ormas HTI.

Sampai pada titik itu, Masdar Hilmy telah meninggalkan modernisme dan postmodernisme. Namun tidak sepenuhnya. Masdar Hilmy kemudian terlempar lagi ke nalar modernisme dengan membangun narasi besar. Ia menawarkan narasi baru dengan mengatakan: “…It must emanate the country’s public sphere if it wishes to provide a moderate vision of Islam. ” Moderatisme Islam yang ideal bagi NU dan Muhammadiyah haruslah berupa moderasi yang selaras dan senafas dengan kebutuhan masyarakat, bangsa dan negara di ruang publik.

Pandangan Profesor Masdar Hilmy mengingatkan kita pada pengertian metamodernisme Vermeulen dan Akker, yang bolak-balik dari modernisme ke postmodernisme, dari postmodernisme ke modernisme. Ia begitu antusias menawarkan konsep baru moderatisme Islam yang lebih selaras dengan kebutuhan publik, setelah sebelumnya memandang secara ironis ketidakmampuan versi NU dan Muhammadiyah menjawab tantangan. Pola serupa terlihat dari semangat para santri mengkampanyekan gagasan anti politik uang, setelah adanya pernyataan ironis kiai yang membolehkan politik uang bersyarat. Atau juga, semangat pesantren menjalankan program-program hijau yang berujung pada religiusasi aktivitas eksploitasi sumber daya alam.

Metasantri adalah bukti empiris yang mengafirmasi filsafat metamodernisme Vermeulen dan Akker. Namun, penulis rasakan metamodernisme di tangan para metasantri bukan semata tentang struktur perasaan (structure of feeling), melainkan juga struktur sosial, kebudayaan, keagamaan, ekonomi dan politik. Oleh karenanya, penulis lihat metamodernisme metasantri adalah cabang lanjutan dari filsafat strukturalisme. Secara aksiologis, metamodernisme metasantri adalah kembali pada struktur-struktur yang membentuk jati diri, identitas, tujuan hidup santri. Dengan begitu, kita menemukan jawaban atas pertanyaan: quo vadis, metasantri?!

Imam Nawawi

Alumnus Magister Sejarah Peradaban Islam di Universitas. Penerjemah buku-buku Jalaluddin Rumi dan Ibnu Arabi.

Comments

Berikan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga