fbpx

Seni mencintai hidup

Kita perlu bersikap moderat dalam mengontrol diri, salah satunya adalah tidak meninggalkan nilai-nilai spiritual di dalam kehidupan.
Sartre dan Beauvoir
Sartre dan Beauvoir

“Fantasi kehidupan masyarakat modern mengantarkan kita pada atmosfer kehidupan yang gersang. Perlahan dan tanpa kita sadari, nilai-nilai spiritual dan kemanusian tereduksi begitu saja. Sebenarnya, bukanlah healing yang kita butuhkan, tapi bagaimana kita memaknai hidup itu semanusiawi mungkin.”

Fenomena Masyarakat Modern

Kompleksitas kehidupan masyarakat modern mengantarkan kita pada beragam fenomena kehidupan yang baru. Fenomena itu datang silih berganti tanpa ada sedikit pun kepekaan kita untuk melihat lebih dalam. Kita hanya melihatnya sebagai sebuah perkembangan begitu saja, tanpa ada upaya untuk mencari sebab musababnya. Barangkali, tidak banyak di antara kita yang mau dan nimbrung untuk mencari akar fenomena itu terjadi. Kehidupan modern secara tidak langsung mengantarkan kita pada kehidupan yang terasing meski di tengah kerumunan banyak orang. Sehingga, banyak di antara kita yang merasa tidak bertanggung jawab atas fenomena-fenomena yang terjadi, jika itu tidak terjadi pada diri kita sendiri. Lebih nahasnya, ketika diri sendiri yang mengalami dilema modernitas, kita tidak mampu berbuat apa-apa. Dan pada akhirnya kita melarikan diri.

Perkembangan teknologi pada masa modern, atau yang biasa kita sebut dengan revolusi 4.0 telah mereduksi nilai-nilai kemanusiaan. Kita tidak sadari bahwa manusia kehilangan titik sentralnya sebagai subjek dalam kehidupan. Manusia seolah-olah menjadi mesin yang terus bekerja tanpa kenal berhenti.

Para sosiolog dan ilmuwan telah banyak mencoba untuk menerjemah fenomena yang terjadi. Banyak teori sosial yang bermunculan berupaya mengurai problematika di dalam tubuh masyarakat.

Berangkat dari teori Behaviorisme

Dalam studi psikologi pendidikan, dikenal sebuah teori yang bernama Behaviorisme. Teori ini lebih menekankan pada perubahan tingkah laku yang didasari oleh prinsip stimulus dan respons (Asfar, 2019). Namun, yang menjadi kekurangan dalam teori ini jika diterapkan secara terus menerus adalah dapat menjadikan kita seolah-olah berwatak seperti mesin. Kita selalu mengejar stimulus-stimulus yang ada di depan mata dalam kehidupan. Stimulus-stimulus itu secara tidak langsung akan menghadirkan sebuah respons melalui tindakan. Sebenarnya tidak masalah ketika stimulus kehidupan dijawab dengan respons dalam tindakan. Tapi ketika stimulus menjadi kelewat batas dan pada akhirnya kita tidak dapat memaknai segala tindakan dengan penghayatan spiritual.

Deadline itu penting, target itu harus ada. Tapi jangan bertindak dalam kehidupan layaknya sebuah mesin. Bahkan sebuah mesin pun harus diberi pelumas agar tidak kekeringan. Perlu adanya kemandirian dalam memaknai kehidupan lebih dari sekedar merespons stimulus yang ada. Bebaslah dari belenggu-belenggu yang memenjarakanmu dalam kehidupan; eksislah.

Eksistensialisme humanis Sartre

Berbicara tentang kebebasan dan eksistensialisme, kita bisa melihat kepada proyek filsafat Sartre sebagai salah satu rujukan. Rujukan yang tentunya tidak kita telan mentah-mentah. Eksistensialisme merupakan paham yang menempatkan manusia pada titik sentrum dari segala relasi kemanusiaan. Eksistensialisme berakar dari upaya untuk bangkit dari segala hegemoni untuk menemukan eksistensi dan esensi diri (Yunus, 2011). Dalam buku pengantar filsafat (K. Bertens, 2018) disebutkan istilah eksistensialisme berasal dari bahasa Latin existentia atau bahasa Inggris existence yang berarti keberadaan. Istilah ini sudah tidak menjadi asing lagi di telinga kita. Karena istilah ini sudah lumrah dipakai dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Sartre ada dua cara ber-ada (mode of being) yang berbeda, pertama ada-pada-dirinya (being in itself). Dan kedua adalah ada-bagi-dirinya (being for itself). Ada-pada- dirinya menurut Sartre adalah dunia material yang tampak dan tidak banyak yang bisa dikatakan tentangnya. Sedangkan ada-bagi-dirinya adalah kesadaran manusia, kesadaran untuk “menolak” dan “penolakan”. Kesadaran dalam keberadaan manusia pada ada-bagi-dirinya mampu membuat manusia berani berkata “tidak”. Sebagai contoh, saya tidaklah handphone yang sedang dilihat, atau saya bukanlah tulisan yang sedang dibaca. Dari pandangan ini, Sartre menyatakan bahwa manusia itu harus bebas, sama bebasnya saat berkata tidak pada kalimat “Saya bukan mesin atau robot.” Prinsip kebebasan yang dibawa oleh Sartre adalah kebebasan mutlak tanpa batas. Ketika kebebasan itu mutlak pada diri manusia, maka manusia akan benar-benar eksis dan otentik. Karena, jika kebebasan itu terbatas dan tidak otentik, maka sejatinya manusia masih diatur dan tidak bebas. Oleh karena itu, beberapa kalangan menyebutkan bahwa kebebasan Sartre atau Filsafat Eksistensialisnya ini adalah pembelaan terhadap posisinya yang ateis. Sartre beranggapan, jika kebebasan diatur oleh Tuhan, bukanlah sebuah kebebasan yang otentik.

Keringnya nilai spiritualitas masyarakat modern

Namun, kita juga perlu menyadari bahwa kebebasan yang benar-benar bebas tentu akan membawa pada kegersangan hidup. Maka, dalam upaya mencari eksistensi di tengah fenomena kehidupan masyarakat modern. Kita perlu bersikap moderat dalam mengontrol diri, salah satunya adalah tidak meninggalkan nilai-nilai spiritual di dalam kehidupan.

Nilai-nilai spiritual—bukan hanya agama—dalam kehidupan bermasyarakat mampu memberikan ketenangan secara psikologis yang nantinya akan berdampak pada kehidupan sosial. Sementara itu, dimensi spiritualitas berfungsi sebagai radar yang mengarahkan pada suatu titik tentang realitas bahwa terdapat aspek-aspek kompleks pada diri individu yang tidak terjangkau untuk ditelusuri dan dijamah dalam kehidupan itu sendiri (Solikin, 2015). Nilai-nilai spiritual menjadi sebuah prinsip yang harus digenggam dalam hidup ini. Terkadang, kebingungan karena tidak adanya nilai atau prinsip yang dijadikan sebagai pegangan hidup.

Referensi

Asfar, A. M. irfan T. A. & andi muhammad iqbal. (2019). TEORI BEHAVIORISME ( Theory of Behaviorism ). Researchgate, February, 0–32. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.34507.44324

K. Bertens, J. O. (2018). Pengantar Filsafat. Yogyakarta: PT Kasinius.

Solikin, A. (2015). Bimbingan Spiritual Berbasis Nilai-Nilai Budaya. Al-Tahrir: Jurnal  Pemikiran Islam, 15(1), 219. https://doi.org/10.21154/al-tahrir.v15i1.166

Yunus, F. M. (2011). Kebebasan Dalam Filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre. Jurnal Al-Ulum, 11(2), 267–282. http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/au/article/view/75.

Ramadhanur Putra

Mahasiswa Pendidikan Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Leave a Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.