5–8 minutes

Simulakra dan Hiperrealitas dalam Game Balap Assetto Corsa

Assetto Corsa memperlihatkan bagaimana modding dan komunitas dapat menciptakan dunia simulakra dan hiperrealitas ala Baudrillard.

Ilustrasi permainan Assetto Corsa

Assetto Corsa adalah game balap simulasi yang dikembangkan oleh developer asal Italia, Kunos Simulazioni. Game ini dirilis pada akhir 2014. Hal yang menjadi nilai jual utama dari game Assetto Corsa adalah pengalaman mengemudikan mobil—khususnya mobil balap—yang realistis bahkan untuk standar game balap sekarang. Selain itu, ada satu hal yang membuat game ini terus hidup hingga hari ini, yakni modding atau kustomisasi.

Fitur modding yang diberikan oleh game Assetto Corsa memungkinkan pemain untuk kustomisasi mobil, baju pembalap, helm pembalap, sirkuit, bahkan hingga kustomisasi grafik untuk membuat game-nya lebih realistis. Fitur seperti ini memungkinkan pemain untuk mensimulasikan hal—seperti mengendarai mobil tertentu dan mencoba sirkuit tertentu—yang tidak bisa atau setidaknya belum bisa digapai oleh mayoritas pemain.

Simulakra, Menuju Realitas Semu

Filsuf asal Prancis, Jean Baudrillard, menyebut hal ini sebagai “simulakra”. Bagi Baudrillard, manusia telah terjebak pada dunia simulakra (simulasi), yakni sebuah pikiran imajiner terhadap realitas tanpa menghadirkan realitas itu sendiri. Simulakra mengontrol dan menjebak manusia untuk percaya sepenuhnya bahwa dunia simulasi itu nyata adanya. Dari situ, timbul ketergantungan manusia terhadap dunia simulasi, dan manusia tidak sadar bahwa dirinya telah dikontrol oleh dunia simulasi (Dinora & Al-ahmed, 2020:179).

Simulakra mengandalkan media dan teknologi digital untuk membentuk dunia imajinasi. Media dan teknologi digital yang kita konsumsi hari ini—contohnya seperti media sosial dan media massa—membawa kita “mengaburkan” batas antara realitas dan representasi, dan masyarakat tidak lagi mampu membedakan keduanya. Baudrillard juga menambahkan bahwa kondisi tersebut membuat segala sesuatu menjadi “penampakan atas penampakan (appearance of appearance)”, yakni makna tidak lagi berakar pada dunia nyata, tetapi pada sistem tanda yang saling merujuk satu sama lain secara sirkular. Akibatnya, realitas menjadi “terhapus” oleh banjir simulasi yang terus direproduksi oleh media dan budaya populer (Baudrillard 1995, dikutip dalam Agustina dkk. 2025:111-112).

Dalam konteks game Assetto Corsa, modding atau kustomisasi yang diberikan oleh game tersebut membuat pemain merasakan mengendarai banyak mobil balap, eksotis, klasik, dan lain-lain dalam game Assetto Corsa—hal yang belum tentu bisa dirasakan pemain Assetto Corsa di dunia nyata. Tidak hanya berhenti di mobil, modding sirkuit yang bisa dilakukan oleh game ini membuat pemain bisa mencoba berbagai sirkuit di belahan dunia mana pun di dalam game.

Dari situ, simulasi yang dirasakan oleh pemain dalam game Assetto Corsa tidak lagi sekadar “meniru” realitas karena ia bergeser sebagai “realitas tandingan”. Ketika pemain mengendarai Ferrari F40 di sirkuit Suzuka dalam game, pengalaman itu tidak hadir sebagai representasi dari dunia nyata, melainkan sebagai pengalaman yang memiliki otonominya sendiri—lengkap dengan sensasi kecepatan berkendara, risiko berkendara, dan estetika mobil yang dirasa “cukup nyata” untuk memuaskan hasrat yang tidak terjangkau dalam kehidupan sehari-hari. 

Di sinilah simulakra bekerja: game tidak lagi menunjuk pada dunia nyata sebagai referensi tunggal, tetapi menciptakan dunia yang justru terasa lebih “nyata” ketimbang realitas itu sendiri. Dunia yang melampaui realitas itu disebut sebagai hiperrealitas. 

Hiperrealitas, Melampaui Realitas Sesungguhnya

Lebih jauh, Jean Baudrillard menyatakan bahwa ciri dari simulakra adalah hiperrealitas. Hiperrealitas adalah ketika representasi tidak meniru realitas, tetapi menggantikannya. Hiperrealitas menghasilkan dunia yang begitu konsisten, begitu memikat, dan begitu lengkap sehingga realitas sungguhan. Dengan kata lain, hiperrealitas adalah ketika manusia hidup dalam “kenyataan” yang dibangun oleh teknologi, media, dan imajinasi kolektif, sebuah kenyataan yang tidak menyalin realitas, tetapi menciptakan realitas versinya sendiri. 

Dalam konteks game Assetto Corsa, hiperrealitas bekerja melalui penciptaan pengalaman berkendara atau balap yang bukan hanya meniru dunia nyata, tetapi menawarkan versi yang lebih ideal, lebih lengkap, dan lebih “ramah” serta “murah” bagi pemain. Fisika mobil yang presisi, suara mesin yang detail, grafik yang diperindah melalui mod grafik, hingga sirkuit yang direkonstruksi dengan teknologi laser-scan membuat pengalaman berkendara di dalam game terasa sangat meyakinkan—bahkan bagi orang yang belum pernah sekalipun mengemudikan mobil balap di dunia nyata. 

Di titik ini, simulasi berkendara yang ditawarkan dalam game Assetto Corsa tidak lagi bergantung pada realitas sebagai sumber otentisitas. Yang terjadi justru sebaliknya, yakni ia membentuk standar pengalaman yang bisa dianggap “realistis”, meskipun standar itu sendiri adalah konstruksi digital.

Komunitas Memperkuat Hiperrealitas

Komunitas pemain game Assetto Corsa—yang membuat game ini terus hidup hingga hari ini—juga memainkan perannya. Para modder (pembuat mod), sim racer (pembalap simulasi/virtual), hingga kreator konten bekerja layaknya “arsitek realitas” yang terus menambahkan mobil, sirkuit, dan fitur baru ke dalam ekosistem game. Komunitas tidak hanya mereproduksi dunia nyata, tetapi juga menciptakan versi dunia yang tidak pernah ada. Contohnya adalah memasukkan mobil konsep atau mobil prototype, varian mesin yang tidak diproduksi untuk umum, atau sirkuit yang seluruhnya imajiner tetapi memiliki detail dan fisika yang terasa sepenuhnya “masuk akal” ke dalam game. Ketika karya-karya mod ini digunakan oleh ribuan pemain, ciptaan tersebut mendapatkan legitimasi sebagai bagian dari realitas balap yang sah di dalam ruang virtual. 

Kehadiran server online dalam game Assetto Corsa juga membuat pemain membentuk ruang sosial yang membuat hiperrealitas semakin hidup. Di server tersebut, setiap pemain memiliki style-nya masing-masing, mulai dari mobil yang digunakan, kostum yang digunakan oleh karakternya, bahkan hingga gaya berkendaranya yang juga berbeda-beda. Hiperrealitas membuat manusia—secara sadar atau tidak sadar—membuat batas antara realitas dan representasi (imitasi atas realitas) menjadi kabur melalui media dan teknologi digital. Dalam konteks ini, berarti media dan teknologi digital yang dimaksud adalah game Assetto Corsa itu sendiri beserta komunitasnya.

Dalam komunitas pemain game Assetto Corsa, banyak pemain lebih memahami perilaku mobil balap GT3 versi digital ketimbang mobil yang mereka kendarai sehari-hari. Mereka lebih “khatam” dengan berbagai macam sirkuit dalam bentuk simulasi ketimbang “khatam” dengan jalanan di kota mereka sendiri. Pengetahuan dan kompetensi mereka tumbuh di tanah yang tidak bersentuhan dengan realitas, tetapi tetap memiliki efek dan makna di dunia sosial virtual.

Kekhasan Homo Digitalis

Manusia yang hidup di era digital dan menggunakannya disebut sebagai Homo digitalis. Homo digitalis bereksistensi lewat gawai. Eksistensinya ditentukan oleh tindakan digital, yakni: uploading, chatting, posting, dan seterusnya. Manusia di era digital betah dengan entitas-entitas digital dalam bentuk platform digital—seperti media sosial—sebagai lingkungannya. Keterlibatan kita dalam platform digital adalah cara “berada” kita secara digital, dan keberadaan digital ditandai dengan tindakan-tindakan, yakni tindakan-tindakan digital (Hardiman, 2018:180-182).

Dari sini, pemain game Assetto Corsa, bisa dibilang sebagai Homo digitalis. Pemain game Assetto Corsa hadir dalam komunitas digital pemain game Assetto Corsa—dalam bentuk grup Facebook, Discord, Reddit—agar bisa “berada” secara digital. Tidak berhenti di situ, keberadaan digitalnya dalam komunitas tersebut juga ditandai dengan tindakan-tindakan digital seperti memosting atau mengunggah foto-foto mobil, sirkuit, dan lain-lain yang ada dalam game Assetto Corsa. Selain itu, adanya diskusi-diskusi perihal game oleh sesama pemain di dalam komunitas juga menjadi petanda keberadaan digital dari individu atau kelompok di dalam komunitas tersebut.

Game dan Realitas Digital Hari ini

Video game, pada akhirnya, menjadi salah satu media menuju simulakra. Tidak hanya game Assetto Corsa saja, tetapi semua game adalah media menuju simulakra. Begitu juga dengan komunitas game yang membawa manusia menuju hiperrealitas. Manusia hari ini, sebagai Homo digitalis, mampu bereksistensi melalui komunitas virtual yang menyatukan mereka atas dasar kesukaan dan kepentingan yang sama. Tidak hanya sekadar bereksistensi, Homo digitalis juga menunjukkan keterlibatannya dalam komunitas virtual dengan cara memberikan kontribusi yang dapat dilihat oleh komunitas.

Inilah realitas digital hari ini, sebagaimana ditunjukkan oleh dinamika game Assetto Corsa dan komunitasnya, kita hidup di tengah dunia yang semakin dipenuhi simulasi—dunia di mana batas antara yang nyata dan yang representasi tidak lagi tegas, bahkan kerap tidak lagi penting. Ketika pengalaman berkendara, identitas digital, hingga ruang sosial dapat dibangun sepenuhnya di depan gawai kita, maka simulasi bukan hanya pelengkap realitas, tetapi menjadi realitas itu sendiri. Dari sini, game Assetto Corsa menjadi contoh kecil dari kondisi eksistensial manusia kontemporer: bahwa kita, sebagai Homo digitalis, terus-menerus menciptakan dan menghidupi dunia-dunia yang merupakan hiperrealitas, dan barangkali, tanpa kita sadari, justru merasa lebih “utuh” di dalamnya dibandingkan dunia nyata yang kita pijak serta rasakan setiap hari. 

Referensi

Agustina, Tri Puspa dkk. (2025). Simulasi dan Simulakra Jean Baudrillard dalam Dinamika Budaya Konsumsi Berlebihan Masyarakat Postmodern. An-Nas: Jurnal Humaniora, 9(1), 111-112. https://journal.unugiri.ac.id/index.php/an-nas/article/view/4478

Dinora, Aloysius Germia & Sholahuddin Al-ahmed. (2020). Logika Kritis Filsuf Klasik. Yogyakarta: Sociality.

Hardiman, Fransisco Budi. (2018). Manusia dalam Prahara Revolusi Digital. Jurnal Diskursus, 17(2), 180-182. https://journal.driyarkara.ac.id/index.php/diskursus/article/view/252

Farhan M. Adyatma

Comments

Berikan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga