Deisme: Sebuah Catatan Kecil

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on whatsapp
Dika Sri Pandanari

Dika Sri Pandanari

Deisme

Deisme merupakan pandangan yang mulai berkembang pada abad pencerahan, terutama di Inggris. Di saat itu pula, ilmu pengetahuan mulai meniti kritisisme terhadap dogma agama. Penganut deisme percaya atas keberaadaan Allah, namun bukan dalam aritian Allah pencipta mujizat seperti dalam kitab agama abrahamik. Allah bukanlah sosok berambut perak dengan balutan kain bercahaya yang mengapung di atas awan. Franz Magnis-Suseno, seorang filosof kenamaan Indonesia, menyitir dalam Menalar Tuhan (2006) bahwa penganut deisme percaya terhadap adanya Allah yang menciptakan segala sesuatu yang ada. Allah menciptakan hal seperti material dan non-material, termasuk di dalamnya segala sistem. Segala sesuatu yang terjadi merupakan ciptaan Allah yang melalui sistem sebagai mediumnya, jadi Allah bukanlah pencipta sekaligus pengawas. Deisme percaya akan konsep harmonia praestabilisata atau keselarasan yang sejak semula sudah dipastikan. Semacam program dasar yang dibuat untuk mengatur segalanya. Program ini yang kemudian menjalankan segala sesuatu, yang umum disebut sebagai siklus alam atau hukum atas segala sesuatu.

Penganut deisme bisa saja seorang yang memeluk agama ataupun tidak. Bagi penganut yang tidak beragama, kepercayaan terhadap Allah tidak lalu mengharuskan manusia untuk memeluk agama. Sekularisme masyarakat modern sering dilabeli sebagai varian desime: mereka yang menolak untuk patuh terhadap hukum dan norma tertentu. Hal ini terjadi karena agama dipandang sebagai sebuat sistem. Dan bagi mereka yang beragama, agama merupakan sistem yang telah diciptakan Allah yang senagaja ditujukan langsung pada manusia. Sistem kehidupan merupakan kesatuan komponen yang memiliki keterkaitan untuk memungkinkan terjadinya suatu tujuan. Hal ini diperkuat dengan semakin berkembanganya sains yang memberi kesan bahwa segala sesuatu bergerak menurut hukumnya.

Sebagai sistem buatan manusia, agama rawan menerima kritik. Agama dianggap oleh para deis sebagai suatu institusi kesombongan manusia, bahwa manusia merupakan makhluk yang paling berkemampuan, paling tinggi dengan segala kemungkinan yang dapat dilakukannya. Paradoks yang terjadi dalam diri manusia terlihat jelas dalam pertentangan antara kaum agamis dan deis, di mana mereka saling menyerang menurut gagasan dan kemampuan bernalar masing-masing. Para deis kemudian berusaha untuk mengambil garis tengah bahwa pada dasarnya manusia akan mempertanyakan asal dari keberadaannya dan apa yang menjadi penyebab dari sekelilingnya.

Pada perkembangannya, deisme dapat menjadi langkah awal manusia menjadi ateis. Hal ini terjadi karena penganut deisme mengakui alam sebagai keberadaan mutlak. Apabila manusia tidak mempermasalahkan asal usul keberadaan yang mutlak, maka keberadaan Allah sebagai pencipta akan ditiadakan. Di sisi lain, deisme juga sangat mendukung pengakuan terhadap Allah. Penganut deisme mempercayai bahwa segala yang majemuk memiliki asal yang tunggal, yang dipercayai sebagai Allah. Dengan kata lain, Allah bukan salah satu dari beberapa penyebab, segala ciptaan disebabkan oleh satu dasar. Penganut deisme berkembang dan terbukti, pada abad ke-18 SM ateisme secara terbuka diajarkan oleh beberapa filosof dengan tesis utama mengutamakan sistem/hukum alam. Pendapat yang menyerang paham deisme adalah mengenai hubungan Allah dengan penciptanya. Pertanyaan besar yang belum dapat terjawab oleh penganut deisme adalah kemampuan Allah untuk berinteraksi dengan hal yang telah diciptakannya.

Penulis sepakat mengenai paham deisme di mana Allah merupakan penyebab dasar. Dalam menanggapi efek samping deisme, penulis berpegang pada satu kepercayaan bahwa manusia memiliki rasio sebagai sistem yang berguna untuk memahami keberadaan yang lain, sebagaimana Tindal dalam Christianitu as Old as the Creation (2012). Dengan diciptakannya rasio, maka timbul pertanyaan apa penyebab adanya rasio. Pertanyaan ini akan terus berkembang sehingga manusia mempertanyakan causa primae dari segalanya. Segala usaha untuk “mencoret” keberadaan Allah seperti melalui ilmu alam, filsafat atau azas fungsionalis dapat terbantahkan ketika subyek mengingat pertanyaan tersebut. Manusia dapat percaya bahwa segalanya berasal dari ikatan karbon, letusan unsur-unsur yang bertumbukan atau makhluk hidup bersel satu. Namun, dari segala hal yang eksisten, akan ada asal yang berujung pada proses menjadi. Dengan demikian  tudingan bahwa deisme berkembang menuju ateisme dapat terhindarkan.

Leave a Replay

×
×

Cart