Skip to content

Deisme: Sebuah Catatan Kecil

Print Friendly, PDF & Email

Deisme merupakan pandangan yang mulai berkembang pada abad pencerahan, terutama di Inggris. Konteks perkembangan ilmu pengetahuan menyuburkan pandangan kritis atas dogma-dogma yang lahir sebelumnya. Penganut deisme percaya akan adanya Allah, namun bukan merupakan Allah pencipta mujizat seperti dalam kitab abrahamik. Allah—bagi deisme—bukan subyek berambut perak dengan balutan kain bercahaya di atas awan. Menurut Franz Magnis-Suseno, penganut deisme percaya akan adanya Allah yang menciptakan segala sesuatu yang ada[1]. Yang diciptakan Allah yaitu berupa hal material dan non-material, termasuk di dalamnya segala sistem. Deisme percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan ciptaan Allah melalui sistem, jadi Allah bukanlah pencipta sekaligus pengawas. Deisme percaya akan konsep harmonia praestabilisata atau keselarasan yang sejak semula sudah dipastikan. Semacam program awal yang dibuat untuk mengatur segalanya. Program ini yang kemudian menjalankan segala sesuatu, yang umum disebut sebagai siklus alam atau hukum atas segala sesuatu.

Penganut deisme dapat merupakan subyek yang beragama maupun yang tidak beragama. Bagi subyek yang tidak beragama, percaya akan Allah tidak lalu mengharuskan manusia untuk memeluk agama. Masyarakat modern sering melabeli pada deis dengan judul sekularis, yaitu mereka yang menolak untuk patuh terhadap hukum dan norma konstruksi manusia tertentu. Hal ini terjadi karena agama dipandang sebagai sebuat sistem, dan bagi umat beragama (agama yang terlegalisir) merupakan sistem yang telah diciptakan Allah yang tertuju langsung pada manusia. Sistem dalam pengertiannya merupakan kesatuan komponen yang memiliki keterkaitan untuk memungkinkan terjadinya suatu tujuan. Hal ini diperkuat dengan semakin berkembanganya sains yang memberi kesan bahwa segala sesuatu bergerak menurut hukum (sistem).

Agama umum rawan menerima kritik sebagai sistem buatan manusia. Agama dianggap oleh para deis sebagai suatu institusi kesombongan manusia, bahwa manusia merupakan makhluk yang paling berkemampuan, paling tinggi dengan segala kemungkinan yang dapat dilakukannya. Paradoks yang terjadi dalam diri manusia terlihat jelas dalam pertentangan antara kaum agamis dan deis, di mana mereka saling menyerang menurut gagasan dan kemampuan bernalar masing-masing. Para deis kemudian berusaha untuk mengambil garis tengah bahwa pada dasarnya manusia akan mempertanyakan asal dari keberadaannya dan apa yang menjadi penyebab dari sekelilingnya.

Pada perkembangannya deisme dapat menjadi langkah awal manusia menjadi ateis. Hal ini terjadi karena penganut deisme mengakui alam sebagai keberadaan mutlak. Apabila subyek tidak mempermasalahkan asal usul keberadaan yang mutlak, maka keberadaan Allah sebagai pencipta akan ditiadakan. Di sisi lain, deisme juga sangat mendukung pengakuan terhadap Allah. Penganut deisme mempercayai bahwa segala yang majemuk memiliki asal yang tunggal, yang dipercayai sebagai Allah. Dengan kata lain, Allah bukan salah satu dari beberapa penyebab, segala ciptaan disebabkan oleh satu dasar. Penganut deisme berkembang dan terbukti, pada abad ke-18 SM ateisme secara terbuka diajarkan oleh beberapa filosof dengan tesis utama mengutamakan sistem/hukum alam. Pendapat yang menyerang paham deisme adalah mengenai hubungan Allah dengan penciptanya. Pertanyaan besar yang belum dapat terjawab oleh penganut deisme adalah kemampuan Allah untuk berinteraksi dengan hal yang telah diciptakannya.

Penulis sepakat mengenai paham deisme dimana Allah merupakan penyebab dasar. Dalam menanggapi efek samping deisme, penulis berpegang pada satu kepercayaan bahwa manusia memiliki rasio sebagai sistem yang berguna untuk memahami keberadaan yang lain[2]. Dengan diciptakannya rasio, maka timbul pertanyaan apa penyebab adanya rasio. Pertanyaan ini akan terus berkembang sehingga manusia mempertanyakan causa primae dari segalanya. Segala usaha untuk “mencoret” keberadaan Allah seperti melalui ilmu alam, filsafat atau azas fungsionalis dapat terbantahkan ketika subyek mengingat pertanyaan tersebut. Manusia dapat percaya bahwa segalanya berasal dari ikatan karbon, letusan unsur-unsur yang bertumbukan atau makhluk hidup bersel satu. Namun, dari segala hal yang eksisten, akan ada asal yang berujung pada proses menjadi. Dengan demikian  tudingan bahwa deisme berkembang menuju ateisme dapat terhindarkan.


[1]Franz Magnis-Suseno.  Menalar Tuhan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.2006.hlm 53.

[2] Matthew Tindal. Christianity as Old as the Creation.hlm 8

Bagikan

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.