Kodrat Manusia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter

Jean-Jacques Rousseau dalam bahasan utamanya tentang kontrak sosial berusaha mengurai kondisi kodrati manusia. Ia menyatakan bahwa pada mulanya semua manusia bebas tapi terdapat proses di mana akhirnya masing-masing terbelenggu. Sebagian manusia yang merasa berkuasa tidak menyadari bahwa mereka memiliki ketergantungan pada para budaknya. Sementara bagi mereka yang ditindas, kemerdekaan hanya hadir saat mereka terlahir, dimana mereka belum mengenal tanggung jawab dan keinginan.

Kondisi kodrati seperti dikemukakan Rousseau di atas dapat diatur melalui hukum yang terlahir melalui konvensi. Sebelum melangkah jauh menuju kontrak sosial, masyarakat harus mengakui keberadaan “si kuat” dan “si budak”. Hubungan keduanya akan selalu dalam proses dominasi dan perlawanan yang menimbulkan konsekuensi tidak adanya kemungkinan hak untuk pemenang. Baik pihak tuan dan budak akan saling menguasai seperti dikemukakan oleh Thomas Hobbes sebagai homo homini lupus; manusia adalah serigala bagi sesamanya.

Karena itu Rousseau menyarankan masyarakat untuk menengok kembali pada konvensi sosietas yang pertama. Individu dalam masyarakat sebaiknya berusaha membangun asosiasi di mana ada kepemilikan bersama dan organ politik yang mencakup hukum serta kehendak bersama. Kontrak sosial pada akhirnya menjadi hukum bagi seluruh kepentingan di dalam masyarakat. Kontrak tersebut bersifat terbuka hingga memungkinkan terjadinya perubahan teks. Dengan demikian, hukum menjadi cara berada sekaligus instrumen bagi kebersamaan manusia bebas (konstituen).

Baca lagi

Sastra, Moralitas, dan Konfusius

Hukum manusia tidak perlu diterapkan sebagai pengatur hidup manusia apabila moralitas manusia dan masyarakat telah terbentuk.

Platon dan Sokrates

Bayangan dalam cermin adalah yang tidak nyata. ‘Sang kucing’ adalah pengetahuan. Kucing-kucing partikular lain, adalah opini.

Perjuangan Kebenaran a la Mahatma Gandhi

Melihat perjuangan Gandhi lebih dalam lagi, kita akan menemukan banyak pelajaran, baik tentang pentingnya satyagraha dalam perjuangan – yang tak lain dari proses perjuangan kebenaran berdasar cinta – serta moralitas yang harus selalu menemani dalam proses manusia dalam perjuanganannya.

Close Menu