fbpx

Hannah Arendt-Jeff Bezos: Teknologi dalam Refleksi Teori Banality Of Evil

Kapitalisme membuat kita semua percaya bahwa mereka yang bekerja di perusahaan besar layaknya Amazon pastilah sejahtera dan bahagia dengan gaji yang menggiurkan. Tapi kita lupa melihat penderitaan yang harus mereka alami setiap harinya, demi menjaga target perusahaan terpenuhi setiap hari.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Hannad Arendt dan Jeff Besoz
Hannah Arendt dan Jeff Bezos

Daftar Isi

Perubahan pada pemikiran manusia, telah membawa mereka pada revolusi industri yang telah terjadi sejak abad-19. Dengan terciptanya berbagai mesin untuk menciptakan suatu hasil karya yang nantinya dapat di perjual-belikan di setiap pasar, yang serta menjadi tonggak keberhasilan dalam menghasilkan dominasi manusia di muka bumi, melalui kemajuan teknologi. Teknologi yang digadang-gadang dapat membawa perubahan positif, serta memudahkan keseharian manusia dalam bergerak menuju realitas modern yang lebih kompleks, justru menghasilkan permasalahan baru yang lebih kompleks dan kita dihadapkan pada pertanyaan, “apakah teknologi yang kita ciptakan juga akan menghancurkan kita”?

Pada akhirnya manusia dengan segala gedung pencakar langit serta sejarahnya yang panjang dapat berakhir dengan selayang pandang teknologi yang diciptakannya sendiri. Teknologi tidak hanya hadir sebagai aktivitas dalam menghasilkan estetika, namun juga sebagai tindakan reaktif dari dituntutnya perubahan demi menciptakan kebutuhan dan menambah kebutuhan itu sendiri. Tulisan ini akan mencoba melihat bagaimana kemajuan teknologi, yang selalu kita sanjung dan puji juga meninggalkan bekas coretan kelam yang luput dari perhatian kita karena kita terlalu sibuk pada urusan, berapa banyak teknologi yang dapat kita hasilkan sehingga seluruh teka-teki alam semesta kita ungkap dan membuktikan dominasi penuh manusia atas alam semesta.

Hannah Arendt “Sekilas Kaca”

Tidak seperti tokoh filsuf lainnya, Hannah Arendt merasa bahwa dirinya bukanlah sosok yang mereka sebut sebagai “filsuf”. Bahkan dia sendiri menyadari, bahwa tindakannya selama ini lebih ke arah yang lebih menghasilkan karya-karya teori politik, terutama kondisi Jerman dan sekitarnya dibandingkan menghasilkan jenis karya (filsafat). Hal ini diungkapkan sendiri oleh Arendt bahwa “I don’t belong to the circle of philosophers, my profession, if one can speak of it all is political theory, I neither feel like a philosopher nor I believe I’ve been accepted in the circle of philosophers.

Penyematan ‘filsuf’ bukan hanya sekedar menjadi simbol bagi identitas mereka (para filsuf), namun juga kita yang merasa ada kecocokan antara pemikiran filsuf tersebut dengan objek permasalahan yang sedang kita hadapi bersama. Arendt lahir dari keluarga Yahudi, di daerah Linden, Mitten, Hannover, Jerman pada 14 Oktober 1906 dan meninggal di New York, Amerika pada 4 Desember 1975. Arendt, sebagai seorang filsuf, terpengaruh oleh guru sekaligus mentornya bagi perkembangan kematangan filosofisnya Martin Heidegger, yang beraliran eksistensialis. Ketika Jerman diambil alih oleh partai Nazi pimpinan Hitler, Arendt terpaksa meninggalkan Jerman dan berpindah ke Amerika, namun tetap melanjutkan penulisan terhadap karya-karyanya yang masih tetap relevan bagi kita dalam melihat bagaimana suatu kekerasan dalam pemikiran teorinya yaitu “filsafat tindakan” begitu relevan untuk melihat bagaimana pemerintah, ataupun hakikat manusia itu sendiri, mentoleransikan kekerasan yang diorganisir demi mencapai tujuan bersama.

Jeff Bezos “Selayang Pandang dan Refleksi Ambisius Manusia Terhadap Teknologi Masa Depan”

Kita mungkin sepakat bahwa ide “gila” dan luar biasa dapat ditemukan di mana saja dan oleh siapa saja, begitu juga ide untuk mendirikan sebuah perusahaan Star-tech seperti Amazon yang muncul pada tahun 1993 oleh seorang yang sebelumnya hanyalah pegawai di sebuah restoran cepat saji Mc Donalds. Karier gemilang serta tumpukan harta hingga panggilan “Billionaire” membuat kita kagum atas pencapaian Jeff Bezos, tidak sampai di situ, banyak individu yang juga ingin menjadi seperti Bezos atau pengusaha lainnya, sehingga mengorbankan pendidikan yang sedang mereka jalani. Pernyataan bahwa “Ijazah bisa dicari.” atau “Anda bisa sukses bahkan tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi.” menjadi bahan perbincangan baru. Bagaimana sesungguhnya para orang-orang kaya ini mampu meyakinkan mereka agar tidak perlu bersekolah tinggi, sehingga lebih menghabiskan hidup mereka pada pergumulan mencari material. Tentu kita tidak akan membahas topik itu lebih lanjut.

Bezos lahir di New Meksiko tepatnya di wilayah Alberquerque, pada 12 Januari 1964. Dia dikenal sebagai penggagas (CEO) untuk perusahaan ternama bernama Amazon yang bergerak pada bidang E-commerce dan pemasaran digital. Tepat Sembilan hari yang lalu pada 20 Juli 2021 dengan roket dari perusahaan Blue Origin, “Wisata menuju luar angkasa, di masa pandemi Covid-19.” Ternyata seperti menjadi ‘hobi baru’ bagi sebagian miliarder kelas dunia. Apa pun tujuannya, namun yang pasti manfaatnya dapat dirasakan bagi mereka yang berkecimpung pada dunia antariksa dan teknologi pesawat angkasa.

Ambisi manusia untuk menjelajah luar angkasa sudah dilakukan sejak manusia mulai menaruh keingintahuan yang besar terhadap benda-benda langit, hal ini diilhami oleh kemajuan teknologi, terutama teknologi penerbangan sehingga mampu menembus batas impian manusia yang dulu dianggap mustahil untuk menjelajah antah-berantah di jagat raya yang begitu luas. Bukan hanya Bezos yang memiliki mimpi untuk menaruh pandangannya pada alam semesta yang misterius dan gelap. Elon Musk juga begitu tertarik dan menaruh dana yang besar demi mengembangkan sebuah kemungkinan agar manusia dapat hidup di planet lain selain di bumi yaitu mars. Banyak yang mengkritik tindakan Bezos, karena lebih mementingkan perjalanan ke luar angkasa dibandingkan melakukan tindakan yang lebih bermanfaat di bumi tempatnya dilahirkan.

Tentu pandangan ini jika dilihat, adalah mentalitas di mana banyak orang yang menganggap bahwa eksplorasi ke luar angkasa adalah hal yang sia-sia, dan muncul anggapan bahwa “apa yang ingin dibuktikan oleh manusia ketika dia telah sampai di bulan” atau apa faedah yang kita hasilkan dari sekedar berjalan-jalan melihat bumi dari kejauhan beratus-ratus kilometer? Teknologi akhirnya membawa kita pada begitu banyak kemungkinan bahwa ada dan mungkin saja ada eksistensi kehidupan lain di alam sana. Namun apakah teknologi yang kita hasilkan, memang menghasilkan manusia menjadi pribadi yang lebih baik? Atau justru menciptakan kondisi yang menghasilkan konflik tak-berkesudahan dan akhirnya teknologi bertindak sebagai perantara dari kekerasan itu agar lebih cepat meluas dan melebar.

Tindakan manusia seperti didikte oleh teknologi, dan teknologi menyajikan beragam ‘hal’ yang sepertinya tidak dibutuhkan tapi kita merasa harus memilikinya dan mengonsumsinya karena teknologi berkata demikian. Teknologi yang telah berkembang, membuktikan bahwa semakin canggih dirinya semakin tersingkirkan manusia dari hadapannya. Tapi teknologi tetap membutuhkan personil (manusia) itu sendiri untuk tetap membuat teknologi menyala setiap hari, dan membantu pekerjaannya agar manusia menjadi lebih produktif. Atau bahkan teknologi dinyalakan justru membuat kondisi tatanan kehidupan kita menjadi tidak produktif, sehingga kita terlalu mengandalkan teknologi yang di mana kegiatan tersebut masih dapat diselesaikan oleh kedua tangan kita.

Banality of Evil, Teknologi yang “Mendehumanisasi Manusia”

Banalitas kejahatan adalah salah satu dari teori yang diajukan Arendt dalam melihat kondisi psikologis manusia, ketika otoritas tertinggi mewartakan wacana kekerasan untuk dikerjakan oleh mereka yang merupakan bawahannya, baik itu jendral, pihak kepolisian, tentara ataupun yang kita sebut ormas dan buzzer, dapat menjadi pelaku dari tindakan kejahatan yang bernilai instrumental ini. Arendt melihat bahwa mereka yang telah terdampak oleh banalitas, tidak merasakan bahwa tindakan memiliki nilai negatif, atau bahkan bernilai sekalipun sebab mereka telah terdoktrinasi oleh otoritas yang mendominasi setiap kehendak bebas mereka sebagai manusia.

Kita melihat bahwa manusia hanyalah bagian terkecil dan tidak lebih bernilai dari sebuah “robot yang dapat diprogram”. Bezos tidak hanya dikritik hanya karena melakukan perjalanan luar angkasa yang dianggap, sia-sia ataupun tidak berguna. Namun karena perlakuan serta kebijakannya terhadap karyawan Amazon yang begitu diskriminatif serta tidak mementingkan kepentingan para pekerja di sana. Melihat teori Arendt, mereka (para pekerja Amazon) tidak dapat berbuat banyak selain harus menerima, tindakan kekerasan yang begitu terselubung yang harus mereka terima setiap harinya, demi meningkatkan profit perusahaan, sehingga kita semua dapat melihat Bezos dari bawah bumi sedangkan dia sedang menikmati perjalanannya.

Nilai lebih yang diciptakan oleh para pekerja Amazon, yang tereksploitasi oleh peraturan ketat perusahaan, berhasil membuat para karyawan menggantungkan dirinya pada pekerjaan di perusahaan tersebut. Mereka tidak punya opsi pilihan lain selain harus menerima, setiap tindakan yang disematkan kepada mereka dan secara tidak sadar membentuk kesadaran yang patuh pada otoritas yang bersikap totaliter dalam balutan peradaban modern, menghasilkan “Aparatus” dengan kesadaran dari penguasa Amazon. Kita yang menikmati betapa bagusnya perusahaan Amazon melayani pelanggan, tidak melihat sisi kotor yang dihasilkan perusahaan tersebut kepada para karyawannya.

Kapitalisme membuat kita semua percaya bahwa mereka yang bekerja di perusahaan besar layaknya Amazon pastilah sejahtera dan bahagia dengan gaji yang menggiurkan. Tapi kita lupa melihat penderitaan yang harus mereka alami setiap harinya, demi menjaga target perusahaan terpenuhi setiap hari. Pada akhirnya teknologi berhasil mendehumanisasi kita semua, untuk melihat bahwa teknologi akan selalu menjanjikan peradaban yang lebih baik dan lebih hebat dari yang sebelumnya. Sehingga kita menyematkan bahwa peradaban sebelum kita adalah peradaban “kuno” “barbar” “tidak beretika” dan begitu banyak sebutan rasial lainnya, Sekali lagi manusia tidak perlu teknologi seperti ancaman nuklir, untuk berhasil mendehumanisasi diri mereka sendiri. Dan Arendt serta konsep banalitasnya menjadi cambuk bagi kita bagaimana kejahatan dapat di- institusionalkan, bahkan dibalut agar kita percaya bahwa kekerasan itu bernilai positif.

Referensi

Hannah Arendt, “Tentang Kekerasan”. (Yogyakarta, Jalan Baru), hal. 1-20

Kompas.com “Jeff Bezos Sukses Terbang ke Luar Angkasa Selama 11 Menit” (https://tekno.kompas.com/read/2021/07/21/08020037/jeff-bezos-sukses-terbang-ke-luar-angkasa-selama-11-menit?page=all) Tanggal 21, Juli 2021

Farhan Akbar

Farhan Akbar adalah mahasiswa Pendidikan Sejarah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.