Daulat Rakyat

Daulat rakyat dengan kata lain ialah gelombang pencarian baru atas identitas dan peran rakyat dalam usaha memperoleh kulminasi kondisi terbaik kehidupan bersama.
mohammad hatta dan para tokoh bangsa Indonesia
Muhammad dan Para Tokoh Bangsa Indonesia

Muhammad Hatta merupakan Bapak Bangsa yang dikenal atas studinya mengenai tata ekonomi kooperatif, hukum, serta perniagaan internasional, ialah yang kini dikenal pula sebagai penyusun rampai sejarah filsafat Yunani dalam ejaan Indonesia (melayu) klasik. Ia menempuh pendidikan di Belanda selama 11 tahun dan pada kuartal akhir studinya mendirikan organisasi Pendidikan Nasional Indonesia bersama Sutan Sjahrir. Organisasi ini didirikan Hatta sebagai usaha meneruskan semangat PNI (Partai Nasional Indonesia) yang beberapa waktu sebelumnya dibubarkan atas inisiatif Raden Mas Sartono akibat penangkapan Soekarno serta tiga anggota PNI lainnya. Hatta percaya bahwa kemerdekaan suatu bangsa dapat dicapai dengan budi pekerti dan iman yang hanya mungkin didapat melalui pendidikan. Dalam publikasi Daulat Ra’jat tertanggal 20 September 1932 Hatta menjelaskan, “Sifat perkumpulan kita pendidikan, karena maksud kita mendidik diri kita.” Melalui manifesto ini Hatta menandaskan pentingnya gerakan pendidikan dari dalam tubuh rakyat demi menumbuhkan kesadaran politik. Latar belakang Hatta dan rekan-rekan sepergerakannya untuk memulai kembali perjuangan melalui jalan pendidikan ialah bahwa pendidikan merupakan langkah awal dari kesadaran akan kebebasan melawan kolonialisme.

Pendidikan yang dituliskan Hatta dalam koran Daulat Ra’jat bukan semata pendidikan yang dikenal dalam bentuk lembaga atau bangunan. Langkah pertama dalam usaha pendidikan yang diusulkan Hatta adalah dengan mengajak seseorang untuk bertanya pada diri sendiri mengenai penindasan yang tengah terjadi. Dengan kata lain, pendidikan ini merupakan dialektika soliter rakyat pada dirinya sendiri sebagaimana diusulkan oleh Plato dalam Phaidros. Langkah lanjut dari pendidikan ini ialah mempertemukan kesadaran rakyat sebagai kesatuan yang berkuasa (souvereinteit) atau yang disebut sebagai rakyat berdaulat. Dalam jurnalnya mengenai organisasi Pendidikan Nasional Indonesia, Hatta menegaskan kepercayaannya atas pembentukan ‘budi’ atau pengertian serta ‘pekerja’ atau aksi. Tanpa adanya pengertian (terkhusus di bidang politik-ekonomi) serta penyikapan dari rakyat yang berkuasa, maka kemerdekaan hanya akan dikenal dalam surat edaran agitasi semata. Lebih lanjut Hatta menuliskan, “Kedaulatan Rakyat, dasar pendidikan kita!” sebagai tanggapan atas permasalahan ideologi-ideologi yang saat itu meresap dalam khasanah intelektual Indonesia. Bagi Hatta, beragam ‘-isme’ serta sistem pendidikan yang telah dibentuk oleh pemerintahan kolonial merupakan tantangan kedaulatan rakyat. Manifestasi daulat rakyat ialah hadirnya kesadaran politik rakyat yang berdikari serta organik dari-untuk-dan dalam tubuh rakyat. Dengan kata lain pendidikan yang berdaulat merupakan pendidikan yang memunculkan kesadaran pribadi untuk dapat mengelola pengetahuan serta menggali kebijaksanaan dari tubuh rakyat itu sendiri.

Bagi Hatta rakyat merupakan yang utama, di mana keutamaan tersebut memuat 1) pengenalan rakyat sebagai subjek mandiri serta 2) rakyat sebagai kesatuan subjek mandiri. Sebagai seorang pribadi, manusia memiliki inisiatif, keinginan, dan dorongan-dorongan yang membuatnya dikenal sebagai makhluk unik serta rasional. Di sisi lain, seseorang tidak akan terlepas dari sosok lainnya dalam ikatan tanggung jawab dan hak. Kesatuan dua sifat inilah yang dapat menyatukan beberapa individu menjadi rakyat berdaulat. Kemerdekaan rakyat berdaulat selanjutnya mensyaratkan akal budi yang tumbuh mandiri sebagaimana ‘rasio’ telah diusulkan oleh Immanuel Kant sebagai tunas tindakan kooperatif di antara rakyat. Daulat rakyat dengan kata lain ialah gelombang pencarian baru atas identitas dan peran rakyat dalam usaha memperoleh kulminasi kondisi terbaik kehidupan bersama. Pendasaran Hatta mengenai pendidikan berdaulat merupakan titik terang bagi Indonesia karena pendidikan merupakan bilah sekaligus ulu dari peradaban bangsa. Pencapaian kedaulatan merupakan akhir dari perjuangan melawan alienasi, meretas indoktrinasi, menjauhi dikte-dikte yang dirangkum untuk menjauhkan kesadaran masyarakat atas dirinya. Hatta telah mewariskan visi pendidikan Indonesia yang perlu ditempuh demi kesatuan rakyat organik dan merdeka. Berrefleksi melalui warisan Hatta, didapati sebuah pesan bahwa tugas rakyat dalam tiap zaman ialah untuk mencari bentuk pendidikan yang tepat bagi tantangan kontekstual.

“Sifat perkumpulan kita pendidikan, karena maksud kita mendidik diri kita.”

Muhammad Hatta, Untuk Negeriku: Berjuang dan Dibuang (2011)

Pendiri LSF Discourse dan Koordinator Departemen Filsafat Sejarah. Pimpinan Redaksi lsfdiscourse.org dan penerbit Discourse Book. Sekarang mengajar di Universitas Bina Nusantara Malang.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email