fbpx

Hubungan Internasional dan Filsafat Sejarah oleh A. Nuri Yurdusev

Selama kita berdiri di suatu tempat, kita menyaksikan bahwa hal tersebut berubah bersama dengan tempat-tempat lainnya.
Erdogan (kiri) & Putin (kanan)

Suatu kisah tidak memiliki awal atau pun akhir: secara arbitrer seseorang dapat memilih setiap momen pengalaman mereka untuk melihat ke belakang atau untuk melihat ke depan.

Begitulah pernyataan yang ditulis oleh Graham Greene di bagian awal salah satu bukunya The End of the Affair, yang sering disebut novel ‘Katolik’.

Mudah saja untuk mengabaikan pernyataan ini karena ia diucapkan oleh seorang penulis ‘Katolik sinis’. Namun, tentu saja pendapat tersebut masih bisa dipertimbangkan, yang bagi saya penting, untuk mengekspresikan ketidakpastian yang jelas dan, secara paradoks, juga kepastian yang mana sebagai manusia, setiap orang melalui dan mengalaminya. Menjadi ketidakpastian, karena titik di mana kita melihat ke belakang atau ke depan tidak hanya sebagai sebuah pijakan, tetapi seseorang juga memiliki eksistensi mundur dan maju, yang tidak memiliki batasan. Menjadi kepastian, karena tidak ada titik di mana kita menemukan diri kita, selain ‘pilihan arbitrer’ seperti yang diketahui secara baik oleh Greene.

Kita menemukan diri kita di suatu tempat. Karena kita memang harus berada pada suatu tempat, di mana pun itu. Ketika kita mulai mengetahui sesuatu tentang hal itu, kita akan menaruh perhatian pada fakta di mana kita menemukan diri: tidak sederhana ‘di sini’, lebih baik ‘di sini’, dan berbeda dari ‘di sana’. Ketika kita hendak mengejarnya lebih jauh, kita mengenal yang lain ‘di sini’ atau ‘there’s’ dan kita menyaksikan bahwa di sini dan di sana bersifat sama. Jadi, kita mengalami ketidakpastian yang sangat banyak di sini dan di sana, dan kepastian secara partikular di sini di mana kita menemukan diri kita, atau di mana kita harus menjadi. Bagaimana pun, ketika kita berpikir tentang totalitas dari segala di sini dan di sana, kita memiliki semacam idea tentang “ruang” yang dikenal dalam variasi ekstentif dan komprehensif seperti ‘bagian’, ‘lokalitas’, ‘negara’, ‘teritori’, ‘pulau’, ‘benua’, ‘Bumi’, ‘galaksi’, ‘semesta’, dan lain sebagainya.

Kita menemukan diri kita di suatu tempat. Selama kita berdiri di suatu tempat, kita menyaksikan bahwa hal tersebut berubah bersama dengan tempat-tempat lainnya. Matahari terbit, hari berakhir, dan bunga-bunga bermunculan, meninggalkan daun yang berjatuhan. Kita mengalami dan melalui ‘kejadian’ dan ‘hal ikhwal’, ‘perbedaan’ dan ‘variasi’, dan ‘perubahan’ dan ‘pergantian’. Pengalaman kita tentang mereka mengarahkan kita pada idea tentang ‘waktu’, yang menurut penamaannya dibedakan secara ekstensi dan pengalaman kita sebut sebagai ‘jam’, ‘hari’, ‘bulan’, ‘tahun’, ‘abad’, ‘jaman’,’milenium’ dan seterusnya. Sekali lagi, kita menemukan ketidakpastian dan kepastian. Sebuah ketidakpastian, karena beragam peristiwa yang kita alami secara instan, ’saat ini’, tidak memiliki durasi;  beragam peristiwa yang kita alami, ‘masa lalu’, sudah tidak eksis lagi; dan beragam peristiwa yang akan kita alami, ’masa depan’, masih belum hadir. Sebuah kepastian, karena kita mengalami kejadian itu, berwujud menjadi kepastian – apakah itu merupakan sebuah kontinuitas dari waktu, atau proses dari pengalaman kita?

Kita menemukan diri kita di suatu tempat. Di mana ketika kita melihat sekitar, kita akan berjumpa dengan manusia lain di tempat yang sama. Pun juga manusia-manusia lainnya menemukan diri mereka pada tempat yang sama dan, mungkin saja, mengalami kejadian serupa. Lalu, kita memahami bahwa kita bukanlah individu yang sendiri, hidup dan mengalami beragam hal sendirian. Lebih signifikan lagi, mereka yang sedang berada di sana dan mengalaminya. Kita akhirnya menyadari bahwa kita hanya berbagi akan tempat dan waktu, namun juga pengalaman, sebuah cara untuk menjadi peduli pada hal apa pun. Konsekuensinya, kita mencapai pada taraf idea tentang apa yang kita sebut ‘masyarakat’ atau ‘manusia di dalam masyarakat’, mirip juga dengan istilah dalam eksistensi dan pembagian yang berbeda seperti ‘masyarakat’, ‘kelompok’, ‘komunitas’, ‘suku’, ‘klan’, ‘bangsa’, ‘peradaban’, ‘humanitas’ dan seterusnya. Ketidakpastian dan kepastian yang sama hadir. Ketidakpastian dikarenakan fakta bahwa kita menemukan diri dalam keadaan bersama dengan orang banyak. Kepastian dikarenakan fakta bahwa kita selalu menemukan diri dengan sebagian dari yang lainnya.

Kita menemukan diri di suatu tempat, pada situasi partikular dalam suatu waktu, bersama orang lain (atau di dalam masyarakat). Ketika kita merefleksikan sebuah ruang, waktu, masyarakat, kita memeroleh ‘pengetahuan’, dinamai kembali dalam terma berdasarkan konten dan ekstensi yang direfleksikan dari ‘sains’, ‘teori’, ‘sejarah’,’seni’,’literatur’ dan seterusnya. Pengetahuan dan refleksi lebih jauh dapat kita sub-kategorikan ke dalam ‘fisika’,’kimia’,’astronomi’,’arkeologi’,’sosiologi’, ‘ekonomi’,’politik’, ‘hubungan internasional’ dan seterusnya. Buku ini, yang merupakan refleksi tritunggal dari ruang, waktu, dan manusia di dalam masyarakat dijadikan landasan dalam ‘hubungan interasional’ atau untuk mereka yang tertarik dengan ‘teori internasional’, karena ketertarikan dan akumulasi dari penulisnya, atau dikarenakan si penulis telah menemukan tempatnya. Bagaimana pun cakupan pembahasan jauh melampaui batas-batas Hubungan Internasional yang telah ditetapkan. Ia secara mendasar mengombinasikan antara Teori, Teori Politik, Sosiologi, Sejarah, dan Filsafat: tentu saja, kurang lebih seperti itu.

Secara lebih spesifik, kehadiran esai ini bertujuan untuk mencari tahu keterhubungan antara studi Hubungan Internasional dan Filsafat Sejarah, melalui konsepsi ‘sejarah universal’, ‘peradaban’ dan sistem peradaban dan internasional yang kita pahami sebagai masyarakat/entitas sosial yang terdiri dari aspek kehidupan manusia di dalam ruang, waktu, dan masyarakat. Negara dalam kata lain, merupakan kreasi dari manusia dalam waktu dan ruang tertentu. Buku ini pada dasarnya beranggapan bahwa peradaban dan sistem internasional bisa dengan tepat menjadi pertimbangan unit analisis dalam hubungan internasional, atau untuk para pelajar mahasiswa Hubungan Internasional.

Dengan begitu, tahap ini dimulai dengan bab-bab tentang ‘teori’ dan ‘sejarah’, berhubungan dengan beragam konsep seperti teori, pengetahuan, sains dan sejarah. Bertolak dari catatan Collingwood dan Oakeshott tentang pengetahuan, dan diikuti oleh konsepsi para Kuhnian tentang paradigma sains, terma komunal, dan konsensual, saya mengusulkan pemahaman kesejarahan tentang pengetahuan, sains, dan historis yang berlainan dengan dikotomi sebelumnya antara ‘objektivisme’ dan ‘subjektivisme’ (atau relativisme). Pertimbangan dasar telah menjadi pandangan bahwa tanpa memiliki dasar ide tentang isu tersebut, kemungkinannya akan sulit untuk menjelaskan tentang peradaban dan sistem internasional. Tahap ini diselesaikan dengan uraian tentang konsep sejarah universal. Sejarah universal dimengerti sebagai hal yang meliputi totalitas dari segala ruang spasial, temporal, dan ekstensi sosial. Sejarah universal dianggap sebagai syarat yang memadai untuk studi tentang peradaban dan sistem internasional.

Tahap-tahap tersebut telah ditetapkan, lalu sisa dari esai ini dikhususkan untuk memeriksa kembali secara komprehensif tentang konsep peradaban dan sistem internasional modern. Pertama, konsep tentang peradaban yang telah diperiksa dalam beragam variasi makna dan peradaban telah didesain dalam kesatuan sosial berskala besar, sebuah kesatuan yang berkaitan dengan sistem international. Dimulai dari observasi dan dengan menunjukkan bahwa sistem internasional dalam kesatuan sosial berskala besar, seperti peradaban, bisa jadi (dan telah terjadi) antara baik antara satu-peradaban (uni-civilization) atau multi-peradaban (multi-civilization); sistem internasional modern adalah yang kemudian, menjadi analisis yang menekankan bahwa sebuah sistem internasional, tersusun dari negara-bangsa (nation-states) dan melibatkan beragam peradaban, setidaknya, untuk menghadirkan zaman sekarang. Buku ini ditutup dengan analisis peradaban yang dianggap masih relevan untuk dipelajari dalam hubungan internasional, meskipun faktanya bahwa sistem internasional modern secara prinsip tersusun dari negara-bangsa dan sekarang sudah mendunia.

Diterjemahkan dari karya N. Nuri Yurdusev International Relations and the Philosophy of History (2003) oleh Yogi Timor Ardani

Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang. Koordinator Departmen Filsafat Politik LSF Discourse.

Leave a Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.