6–9 minutes

Kandang Besi Rasionalitas

Mungkin ungkapan Horkheimer di awal semacam bentuk koreksi atas dimensi tunggal visi Marxisme yang hanya beringas pada masalah ekonomi kapital. Namun lebih jauh lagi ia sebetulnya hendak mengkritik rasa percaya diri positivisme mutakhir yang tengah melenggok di atas karpet merah podium para ilmuwan. Mudah kata, mazhab positivistik masih menyimpan celah untuk dibedah, bahkan ia bisa…

Kandang Besi Rasionalitas

Kita mulai dengan sebuah kalimat tandas Horkheimer, “Right thinking depends as much on right willing as right willing right willing on right thinking.” Pemikiran yang benar tergantung pada kemauan yang benar, dan kemauan yang benar-benar (sejati) adalah pikiran yang benar (Horkheimer, 1972). Judul ini mungkin terilhami esai Weber dalam The Protestan Ethic, tapi agaknya warisan ini jauh lebih berkembang di balik podium-podium Frankfurt, melalui tesis-tesis Horkheimer, Adorno, Marcuse, hingga Habermas.

Mungkin ungkapan Horkheimer di awal semacam bentuk koreksi atas dimensi tunggal visi Marxisme yang hanya beringas pada masalah ekonomi kapital. Namun lebih jauh lagi ia sebetulnya hendak mengkritik rasa percaya diri positivisme mutakhir yang tengah melenggok di atas karpet merah podium para ilmuwan. Mudah kata, mazhab positivistik masih menyimpan celah untuk dibedah, bahkan ia bisa menjadi tuduhan utama atas lahirnya pesimisme budaya.  

Penulis tengah membaca bahwa warisan Mazhab Frankfurt masih menjadi terminal pemberhentian yang pas untuk hari ini. Bukan bermaksud tendensius, tapi kadang titik anomali sebuah kemapanan perlu untuk disampaikan. Tahun 2024, Kompas merilis satu judul tentang kasus banyaknya guru besar yang terjerat jurnal predator (Napitupulu, 2024), menjadi semacam daya kejut atas tidur nyaman dunia berlabel akademis. Beberapa bulan setelahnya, pemberitaan-pemberitaan serupa juga muncul sporadic (Ghufron, 2024) (Redaksi, 2024). menggambarkan kita tengah tidur di atas data yang bergerak cepat, lapak-lapak cepat saji, dan juga makna-makna yang hilang.

Bagi Horkheimer, ada semacam kelalaian dari positivisme modern yang terlalu menjadikan manusia sebagai sentralitas objek. Karya Dialectic of Enlightment memberikan satu antitesis terhadap cara berpikir ala modern yang efisien tapi minim makna, atau bahkan nir moral. Cita-cita positivisme yang ingin memasang deretan budaya keilmiahan, justru melahirkan kekosongan dan hamparan yang tandus.

Hari ini, rasionalitas dalam cara berpikir positivistik itu seperti barang mati. Lebih lengkap lagi, Adorno menyisipkan gagasan bahwa rasionalitas tak menjadi sebuah pisau bedah, tapi produk yang bisa dijual. Bagi tesisnya tentang kritik budaya, Adorno meminjam bahasa Marx, “fethisisme komoditas” (Bottomore, 2019) yang mungkin dalam konteks ini kita bisa beranggapan bahwa segala realitas harus rasional, tak bisa ditawar. Rasional menjadi budaya konsumsi publik yang justru tercerabut jauh dari akarnya. Seperti kiranya yang pernah diungkap Bagus Muljadi; “semangat saintis, ilmuwan, untuk meneroka segala realitas semesta, bukanlah statemen saintifik rasional. Itu murni dorongan spiritual.” Secara tak langsung pernyataan itu menyadarkan bahwa manusia hidup berdampingan di antara dua kutub itu, dimensi rasional dan spiritual.

Melengkapi pendahulunya, Herbert Marcuse justru kian bernas berkomentar. Ia beranggapan jika produk kapital adalah mesin untuk membuat manusia menjadi satu dimensi (One-deminsional Man).  Kita kehilangan daya unik, perbedaan cara berpikir, dan kesejatian diri. Manusia dibuat bingung dengan posisinya sebagai objek, sedang ia sendiri harus terpaku pada instrumen-instrumen yang ia lahirkan sendiri. Manusia modern tidak lagi tunduk melalui kekerasan, tapi melalui pintu kebutuhan ekonomi dan budaya. Kita nampak bebas, tapi sebenarnya tengah terperangkap dalam sebuah sistem kebutuhan palsu. Dan dunia rasionalitas hari ini adalah produk dari pada itu.

Podium yang Sudah Mati

Secara kesejarahan teori kritis Frankfurt dilahirkan untuk mengusik podium-podium universitas zaman itu. Ia serupa pergerakan akademisi jalanan yang berteriak lantang. Sama seperti yang dikata Weber pendahulunya, mereka menganggap segala hal yang mengarah pada kapitalisasi adalah bagian dari rasionalitas instrumental, yakni cara berpikir yang mengejar efisiensi, data, keuntungan, dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Kita tengah memproduksi kecepatan dan ketepatan itu. Perang narasi yang langsung dibungkus label rasionalitas sering kali meramaikan lanskap dunia akademis kita. Tak ada tawaran lain, semua tunduk pada satu perspektif, matematika logika.

Banalitas intelektual telah menjadi pekerjaan rumah yang berat. Hari ini, peneliti ulung adalah mereka yang mampu mengurai novelti kebaruan dari penelitian sebelumnya, kerangka yang utak-atik sistemik, sampai kemahiran menghimpun sederet literatur yang mutakhir. Namun mereka lupa satu pertanyaan besar tentang “apa yang sejatinya ingin kutulis?”

Kita harus berhenti pada logis dan tak logis kiranya, atau kita harus memilih terasing karena memilih baik atau tidak baik. Peran keterwakilan dari ruang-ruang kritis nan sunyi harus sebaiknya tergadai demi kita dianggap manusia normal yang tak absurd. Pengetahuan tak bisa lagi bercerita, tapi harus terukur dengan rumus tunggal. Bahkan adagium  yang mengatakan ilmu pengetahuan harus netral, justru jatuh pada urgensi kenetralannya itu sendiri, untuk apa dan siapa.

Horkheimer sampai Habermas di Frankfurt benar-benar tumbang karena dianggap seperti kicauan burung yang hanya cukup untuk merdu didengar. Mereka dianggap tak berorientasi pada produksi pengetahuan melainkan hanya kritik emansipatoris, yang tak memiliki alat ukur, dan terdengar terlalu falsafati.

Habermas  dari Dusseldorf

Saya tak hendak menukil karya Habermas, tapi rasanya, sebuah tawaran pemikiran pasti punya jalan alternatifnya. Selepas peninggalan Horkheimer sampai Marcuse, kampanye emansipatoris itu hanya masuk dalam etalase sejarah. Yang jelas mereka tetap tak memberikan reruntuhan apapun, kapitalisme positivistik nan rasional masih berdiri tinggi.

Lain soal Habermas. Mungkin ia sengaja memberikan alternatif agar gagasan agar ketegangan itu mereda. Kita tengah dihadapkan oleh bukan kurangnya rasionalitas, tapi kesalahan dalam penggunaan rasionalitas. Bagi Habermas, rasionalitas instrumental hendaknya dilengkapi dengan rasionalitas komunikatif, kemampuan untuk mencapai kesepahaman melalui dialog bebas paksaan. Habermas tengah berusaha membebaskan tiga kepentingan; teknik, praktis dan emansipatoris  (Bottomore, 2019) untuk kepentingan kolektif, bukan hanya kapital tertentu. Hal ini memungkinkan label akademisi tak menjadi sebuah gelar kehormatan bagi mereka yang berkalung gelar, tapi siapapun yang terbuka untuk belajar dan menerima keterbukaan.

Berbekal dari Habermas, hendaknya kita tak lagi melihat “rasionalis” adalah jubah mewah di kampus, tapi sebagai pakaian keseharian bagi siapapun yang mau untuk berpikir. Habermas telah menjembatani bidang-bidang yang asing untuk ikut andil, seperti antropologi dan hermeneutic yang kemudian begitu menonjol, yang mungkin dulu begitu tak pernah terdengar di zaman pendahulunya (Honneth, n.d.) Dengan begitu, realitas manusia bisa dipahami dengan sub poin berikut; demokrasi deliberatif, komunikasi yang etis, pendidikan yang kritis, serta melek terhadap kenyataan bahwa segala aspek hidup ini penuh hierarki sistemik (pendidikan, media, budaya, serta aspek-aspek selainnya).

Narasi Jalanan Penentang Status Quo

Dari panggung-panggung milik Horkheimer dan pengikutnya kita belajar bahwa, kemapanan tetap memiliki kebutuhan untuk diganggu. Apalagi menyinggung hajat pemikiran. Harus diakui, warisan Mazhab Frankfurt tak ada yang menjadi sebuah peta kerangka berpikir yang mengalir. Istilah-istilah mereka hanya terdengar reflektif dan terkadang juga semacam puitika yang menggugat. Kita mendengar dehumanisasi, alienasi, false consciousness, culture industry, rasionalitas komunikatif, dan semua yang terdengar seperti jargon angin kebebasan adalah produk-produk yang hari ini tak banyak laku di laboratorium.

Namun sumbangsih itu justru menjadi sebuah pemantik di setiap sejarah intelektual, sejauh mana manusia dihadirkan dalam realitas semesta ini? Rasionalitas telah melesat jauh, menelurkan anak-anak baru dan ia telah bertengger di singgasana kemapanan ruang-ruang intelektual.

Hari ini media tengah dipenuhi algoritma rasionalitas: sesuai kebutuhan zaman kata banyak orang. Begitu mewah terdengar. Tapi kejatuhan itu justru datang pelan-pelan. Rasionalitas seperti pisau tajam yang siap pakai, bukan seperti cangkul yang siap menggali kedalaman. Kita menghadapi media yang juga hadir dengan industri masing-masing, buku yang ditulis tendensius, juga jargon-jargon politik yang memihak secara tanpa sadar. Semua pada akhirnya masuk dalam segala kebutuhan hidup; ekonomi, budaya, fashion, ideologi, atau bahkan ruang-ruang spiritual seperti keyakinan beragama.

Harus dikatakan bahwa pendidikan yang baik adalah jantung dari semua kebenaran. Seperti yang dikata Horkheimer di awal, “pemikiran yang benar tergantung pada kemauan yang benar, dan kemauan yang benar-benar (sejati) adalah pikiran yang benar.” Dalam lanskap akademik kita yang semakin dikejar oleh target, dan bahkan angka administratif, dunia pemikiran tetap tak boleh kehilangan jiwanya. Kampus tak hanya melahirkan pabrik gelar dan penelitian yang dipesan pasar, ia harus menjadi ruang yang sehat, rumah yang egaliter, dan menyuarakan keberanian kritis yang bermoral.

Dalam kemapanan pikiran yang sudah berbendera paradigmatis kokoh, model-model warisan Horkheimer dan kawan-kawannya tetap dibutuhkan sebagai pengganggu. Bukan berarti rasionalitas itu salah, tapi untuk sekadar bertanya kembali apa sudah benar rasionalitas dipergunakan? Jangan-jangan kita sendiri sudah jadi manusia dalam kendang besi rasionalitas itu sendiri.

Pada akhirnya seperti yang saya singgung di awal soal pesimisme budaya, narasi yang dulu pernah dibawa Weber, adalah sebuah wacana reflektif yang perlu kita garis tebal hari ini. Rasionalitas berpikir tak elok jika harus sampai pada mekanisme dingin, teknologi yang buta, hingga rutinitas konsumeris yang nir empati. Dan mungkin bacaan ini juga terbilang sekadar reflektif, tapi tetap berusaha mencoba membangunkan mimpi indah tentang kemapanan bahwa; akal bisa menjadi alat kuasa manipulatif, rasionalitas bisa kehilangan moral, dan bahkan produk kemajuan juga tak selamanya bisa menggantikan kedalaman spiritual.

Referensi

Bottomore, T. (2019). Mazhab Frankfurt Gagasan dan Kritik (Terj The Frankfurt School and its Critics 1984). Yogyakarta : Penerbit Independen.

Ghufron, F. (2024). Fenomena Publikasi Cepat Saji. Kompas.Com. https://www.kompas.id/artikel/fenomena-publikasi-cepat-saji

Honneth, A. (n.d.). Frankfurt School. In The Blackwell Dictionary of Modern Social Thought. Blackwell Publishing.

Horkheimer. (1972). Critical Theory: Selected Essays. New York : Herder.

Napitupulu, E. L. (2024). Guru Besar Indonesia Terjerat Jurnal Predator. Kompas.Com. https://www.kompas.id/artikel/guru-besar-indonesia-terjerat-jurnal-predator

Redaksi, T. (2024). Guru Besar Abal-abal. Kompas.Com. https://www.kompas.id/artikel/guru-besar-abal-abal-1

Muhammad Farhan

Penulis dan alumnus Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarya

Comments

Berikan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga