Manusia Sublim menurut Cassius Longinus

Yang sublim selalu mengandung bahan perenungan manusia yang mendalam.

Cassius Longinus ialah salah satu nama yang diduga menuliskan Peri Hupsous atau The Sublime. Suryajaya menyatakan bahwa terdapat beberapa kemungkinan mengenai penulis naskah The Sublime tersebut. Di dalam naskah tersebut, tertulis nama Dionysos atau Longinos yang memungkinkan pembaca untuk merujuk pada orang yang berbeda namun bernama sama.[1] Terlepas dari siapa penulis sesungguhnya, The Sublime mengangkat konsep estetika yang menarik karena estetika tidak lagi berkisar dari pembahasan keindahan atau kebaikan, melainkan berkutat pada kesubliman. Suryajaya juga menyatakan bahwa Longinus merupakan sosok yang membawa dimensi non-rasional dalam estetika, di antaranya ialah ekstase, keabraban, dan ketidakwajaran. Hal demikian membuatnya disebut sebagai seorang proto-romantik. Namun, perdebatan tentang apakah Longinus merupakan pendasar dari romantisme atau bukan merupakan pembahasan yang rancu, karena beberapa kecederungan era romantisme tetap menitikberatkan keindahan yang jauh berbeda dengan pandangan Longinus.

Secara umum, sublim dapat diterjemahkan sebagai “yang-agung” atau “yang-sangat-besar” dan “menyatu”. Hipsous atau sublim, dalam kerangka berpikir Longinus, memiliki kriteria-kriteria untuk menjelaskan bagaimana manusia dapat tiba dalam titik keagungan, alih-alih mencapai nilai-nilai keindahan. Risalah ini dibuat dalam bentuk surat, yang sengaja untuk ditujukan ke sahabatnya yang terkasih, seorang Terentian. Terentian yang dimaksud belum dapat dipastikan di mana persis tempat hidupnya, namun dapat merujuk pada para pengikut Terente: seorang penulis drama komedi pada tahun 150 SM, atau kepada Postumius Terentianus yang merupakan seorang budayawan Romawi yang terkenal ketika itu.

The Sublime merupakan kumpulan surat yang menuliskan tanggapan Longinus atas pemikiran Kaikilios – yang dituliskan dalam karya dengan judul yang serupa, Peri Hupsous – mengenai kesubliman dalam retorika. Namun Longinus memiliki beberapa ciri sublim yang ia gambarkan sebagai jalan manusia menuju ke-estetik-an, di antaranya ialah:

  1. Kesubliman harus menghasilkan ekstase, atau keterlepasan diri seseorang dari dirinya sendiri.
  2. Kesubliman tidak membujuk atau merayu manusia untuk melakukan sesuatu, melainkan suatu kesubliman melepaskan manusia dari dirinya.
  3. Manusia tidak dapat menghindari efek yang dirasakan dari pertemuannya dengan kesubliman.
  4. Kesubliman merupakan pembongkaran tatanan, alih-alih merupakan produk dari sebuah tatanan.
  5. Yang sublim selalu mengandung bahan perenungan manusia yang mendalam.
  6. Kesubliman dimiliki manusia melalui proses alamiah, namun hal tersebut tidak dapat ditanamkan dengan sengaja, dilatih, atau diajarkan.
  7. Kesubliman dapat mengejawantah dalam karya yang detailnya tidak indah. Dengan kata lain, kesubliman tidak dipengaruhi oleh keindahan.
  8. Kesubliman dapat ditemui dalam karya yang ganjil atau tidak berguna.
  9. Kesubliman membangun keakraban yang erat terhadap manusia dalam pertemuannya dengan sebuah karya.
  10. Kesubliman cenderung menghindari kekaguman atas sesuatu yang memiliki fungsi. Kesekian ciri-ciri sublim yang dijelaskan oleh Longinus memiliki keterikatan antara satu dengan yang lainnya.

Kesubliman menolak keteraturan yang tersistematisasi, yakni mendobrak batas penilaian manusia berdasarkan konsep benar-salah, berfungsi-merugikan, indah-tidak indah, hanya merupakan konsep yang menghantar manusia untuk memahami yang baik atau yang buruk semata. Penilaian Longinus terkait sublim terlepas dari penolakan atas dualisme, namun lebih merupakan usaha untuk melakukan lompatan menuju pemahaman yang bahkan mampu menggabungkan dua. Dalam tulisannya, Longinus hanya berupaya untuk melepas kecenderungan manusia untuk mengartikulasikan estetika pada bentuk keindahan yang telah terbagi pada umumnya. Sementara kesubliman sendiri begitu megah bagi manusia sehingga dapat terlepas dari pembagian-pembagian itu. Kesubliman melampaui keindahan, bukan menolaknya mentah-mentah.

Keunikan lain dari pemikiran Longinus ialah bahwa ia menerima konsep epistemologi dalam kesubliman yang ia percayai. Sublim bukan berarti bahwa ia tidak dapat lagi diproses oleh nalar. Justru sebaliknya, melalui nalar, kesubliman dapat dimengerti oleh manusia. Pencercapan kesubliman melalui nalar ini berjalan dari tiga argumen yang dijelaskan oleh Suryajaya:

  1. Alam bergerak dalam metode tertentu dan tidak acak, atau dengan kata lain alam bergerak dengan pola.
  2. Metode yang teratur itu dapat dibuktikan dengan terciptanya segala benda di alam.
  3. Bahwa keakraban oleh karenanya harus didampingi oleh kemampuan menyerap ilmu pengetahuan agar dapat menerima konsep pertama di atas dengan jelas, sehingga tidak pula menimbulkan kesalahan yang konyol.[2]

Argumentasi tersebut digunakan untuk menjelaskan bagaimana seorang manusia dapat memahami kesubliman. Bukan tanpa alasan, manusia dapat memahami kesubliman yang agung tersebut. Dalam argumen bahwa alam memiliki metode tertentu, yang dimaksud oleh Longinus ialah termasuk juga kemunculan bakat dalam diri seorang manusia. Karena metode tersebut dapat dijelaskan dalam hukum, maka seseorang dapat memahami bagaimana metode tersebut berada. Kemudian, pengertian atas metode tadi menjadi perangkat manusia untuk memahami mengapa kesubliman muncul, dan apa yang dapat ditangkap dari kesubliman tersebut. Longinus mengandaikannya dengan kemampuan seorang seniman. Andaikan seorang seniman yang berbakat dapat menghasilkan karya yang sangat hebat, dan seniman yang memiliki kemampuan juga dapat menghasilkan karya yang hebat. Baik keduanya dapat menghasilkan karya yang hebat, tidak dengan kemampuan yang terpisah. Seorang dengan bakat tidak akan menghasilkan karya yang hebat tanpa latihan dan pengembangan keahlian. Sementara itu, tidak ada seorangpun yang tidak berbakat, dapat melakukan berbagai proses pelatihan kemampuan bagi dirinya.

Kesubliman dapat ditangkap oleh manusia karena kesubliman tersebut mengungkapkan diri di hadapan manusia. Longinus menjelaskan jalan pengejawantahan sublim melalui tiga tahap, ialah: yang pertama, keakraban pikiran (megalophrune) di mana proses ini merupakan hasil perkenalan dan terbangunnya pengetahuan atas suatu hal. Yang kedua, peniruan (mimesis) di mana proses ini merupakan usaha untuk menciptakan pernyataan sesuai dengan proses yang sebelumnya. Dan yang ketiga, imajinasi (phantasia) di mana berkembangnya citra mental yang dipengaruhi oleh situasi yang terkadang non-faktual, atau dimungkinkan tidak berhubungan dengan proses yang pertama.

Berdasarkan penjelasan di atas maka kesubliman menimbulkan permasalahan bagi penilaian pada umumnya karena ia tidak dapat diukur dan dihitung secara pasti, apalagi dikanonkan sebagaimana tiap-tiap zaman memiliki definisi tersendiri mengenai keindahan. Selain itu sublim memiliki efek terhadap manusia ialah keterasingan antara manusia dan hasil karyanya, hilangnya rasionalitas, dan emosi yang mendalam. Sublim dengan kata lain dapat membuat manusia menjalani sebuah ekstasi namun secara bersamaan juga memiliki keterikatan yang kuat dengan objek karyanya.

Longinus menyatakan bahwa manusia memerlukan setidaknya dua keahlian dalam mencapai kondisi sublim. Yang pertama adalah keluhuran moral dan yang kedua ialah kesadaran sosial. Keluhuran moral ini memungkinkan manusia untuk menerima cahaya ilahi atau yang disebutnya sebagai echo of the great spirit. Sementara itu, untuk membentuk keluhuran moral maka manusia harus menjaga kepekaan sosial (social subjectivities). Kepekaan sosial ini dapat diaplikasikan oleh seorang penulis ketika ia mengabaikan perasaan atau gejolak emosinya dan mengutamakan kepekaan terhadap pembaca karyanya. Keunggulan moral juga dijelaskan setidaknya dalam membangun pola pikir yang hebat, pemilihan diksi yang terhormat, dan penataan emosi yang kuat di dalam karya.

The Sublime

Longinus melakukan sebuah penjelasan mengenai kemerosotan ilmu retorika, dan menjelaskan bagaimana banyak penulis besar dapat mencapai kesubliman dalam karyanya. Beberapa penulis yang dirujuk oleh Longinus ialah Sappho (seorang penyair Yunani wanita di abad ke-6 SM), Platon, Homer, dan penulis drama Yunani, Aristophanes. Bagi Longinus, ilmu retorika telah berkembang menjadi seni yang hanya melakukan pembiasan makna, atau dengan kata lain membuat lawan bicara kebingungan dengan makna yang ingin disampaikan. Sedangkan pada mulanya, seni retorika dilakukan dengan tujuan menggiring lawan bicara namun akhirnya, pada masa Longinus, ilmu retorika hanya menjadi seni menata kata-kata, mengabaikan keterikatan lawan bicara dengan pembicara. Dalam bab pertama, Longinus berusaha menjelaskan mengenai definisi sublim, kritik dari karya Caecilius, dan apakah sublim merupakan bagian dari aturan-aturan seni.

Dalam bab kedua Longinus berusaha menjelaskan apa yang buruk dari hal-hal yang bertentangann dengan sublim, yang di antaranya ialah: kepalsuan, omong kosong, sentimen sesat, kesombongan dan mengapa hal tersebut dapat muncul. Dalam bab ketiga Longinus menjelaskan mengenai kesubliman yang sesungguhnya dan bagaimana sublim dapat dibedakan dengan yang lainnya. Dalam bab keempat Longinus menjelaskan mengenai lima sumber sublim yang membuatnya berikatan erat dengan hasrat. Lima sumber ini antara lain ialah: Pikiran yang hebat, kekuatan untuk mengendalikan hasrat (atau emosi), penataan bicara atau pemilihan majas, ekspresi yang anggun, dan peningkatan dan martabat dari struktur tata bahasa.

Dalam bab kelima Longinus menjelaskan hal-hal yang dapat merusak sublimitas, diantaranya ritme yang tidak tepat; klausa yang rusak dan terhentak-hentak; kecurangan; dan penggunaan kata umum yang tak seharusnya dan anti-klimaks.

Dalam bab keenam Longinus menjelaskan mengenai pertanyaannya atas jumlah penulis hebat yang kian sedikit pada zamannya. Bagi Longinus, terdapat pengaruh dari rusaknya sistem pemerintahan terhadap kualitas karya penulis. Namun kemudian, ia menambahkan, penyebab dari jarangnya muncul penulis besar justru disebabkan oleh kemerosotan moral manusia. Manusia lebih banyak mementingkan perihal remeh-temeh dan kotor sehingga berpengaruh besar pada pembentukan moral zaman dan secara langsung kepada kualitas para penulis.

Longinus menjelaskan bahwa sublim atau sublimitas (hypsos) merupakan gema dari roh (spirit) yang terbesar. Manusia dapat meraih hal tersebut melalui kemampuannya. Pendekatan ini menjadi penjelasan mengenai pendapat Longinos atas kehebatan seniman dalam menciptakan karya. Bagi Longinos, yang patut dikagumi pertama kali ialah orang yang membangun sebuah karya, bukan karya itu sendiri. Kemampuan manusia menangkap gema yang agung (sublim) menjadi hal yang patut dikagumi. Terlepas dari kehebatan karyanya, Longinos menganggap bahwa karya merupakan manifestasi dari penangkapan manusia atas berbagai hasil cercapan. Dengan demikian makna dari karya ialah kondisi seniman dan prosesnya. Kesubliman menjadi penting karena mengatasi berbagai model penampakan bagi manusia, termasuk di antaranya; keindahan, teror, atau kehampaan. Sublim dalam pemahaman Longinus dengan kata lain ialah kebesaran dan penyatuan yang didapat dalam proses pengenalan manusia dengan sebuah ciptaan.

Ali, Matius. Estetika: Pengantar Filsafat Seni. Sanggar Luxor: 2011.

Suryajaya, Martin. Sejarah Estetika. Yogyakarta: Gang Kabel dan Indie Book Corner, 2016.

Longinus, Cassius. On The Sublime. H. L. Havell, B.A (trans.). London: Macmillan and Co., 1890


[1] Martin Suryajaya, Sejarah Estetika, 100.

[2] Suryajaya, 106.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email