fbpx

Masyarakat Agraris: Perkembangan, Ketergantungan, dan Alienasi

Proses pembentukan keinginan menuju ke konsumerisme dilakukan melalui penanaman kesadaran baru. Kesadaran baru tersebut merupakan kesadaran bentukan dari kapitalisme, bukan merupakan kesadaran otentik dari subyek yang berkaitan.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Lumbung yang terabaikan

Pertanian Indonesia mencakup segala usaha pengelolaan hasil bumi di luar bidang pertambangan, di antaranya ialah pengelolaan tanaman perkebunan, kehutanan, perikanan dan peternakan. Produksi bahan pangan terletak pada sektor pertanian, berperan sebagai industri primer. Indonesia menghasilkan berbagai tanaman pangan utamanya beras. Selain itu yang dapat menjadi alternatif tanaman pangan bagi masyarakat adalah jagung, ubi-ubian, kedelai, kentang dan beberapa jenis serealia. Namun permasalahan pertanian Indonesia juga memasuki tahap yang semakin kompleks. Beberapa permasalahan menuai konflik yang panjang dan terkait pada contohnya: ketersediaan lahan, kebijakan politik, epidemik, industrialisasi bahan pertanian, kelangkaan plasma nutfah lokal, kesejahteraan tenaga kerja dan sebagainya. Masalah pertanian sering menjadi perhatian dalam beberapa penelitian sosial. Kajian ini sekali lagi dibentuk sebagai usaha untuk membedah secara permasalahan sosial yang berkaitan dengan penyediaan bahan pangan masyarakat.

Sekitar enam puluh dua persen dari penduduk miskin Indonesia pada tahun 2013 merupakan pekerja tani. Persentase tersebut menunjukkan angka yang tertinggi dibandingkan beberapa kategori jenis pekerja lain. Penelitian terkait menyatakan bahwa produk marginal pertanian Indonesia mengalami involusi dari tahun ke tahun sehingga menuju angka yang sangat rendah. Kemiskinan keluarga tani ini dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti kurangnya kepemilikan lahan, ketimpangan sistem perdagangan hasil panen, industrialisasi alat dan bahan, dan sebagainya. Hal penting yang harus disadari, berbagai permasalahan di atas secara tidak langsung disebabkan oleh besarnya jumlah penduduk yang menjadi konsumen dalam rantai konsumsi bahan pangan. Dari berbagai faktor sosial yang timpang, korban utama tetaplah masyarakat tingkat bawah seperti petani.

Pembahasan awal dimulai dari hulu permasalahan ialah ketersediaan lahan. Tanpa ada kebijakan yang tegas, lahan pertanian terutama pertanian rakyat akan semakin banyak beralih fungsi. Contohnya keperluan lahan pertanian di Pulau Jawa bersaing dengan keperluan pemukiman penduduk, sarana umum  dan kepentingan ekonomi. Petani yang tinggal di daerah berpenduduk padat akan menjual lahannya seiring dengan perkembangan pembangunan. Petani yang tidak memiliki lahan akan beralih profesi menjadi pekerja serabutan, pekerja ahli atau karyawan tergantung dengan modal sekunder yang mereka miliki. Hilangnya modal tanah akan menjadikan mereka tenaga kerja tanpa lapangan pekerjaan. Tenaga kerja yang tersedia inilah yang kemudian dapat terserap dengan baik oleh industri, dan sebagian kecil sisanya bertahan dengan kemampuan dan keahlian masing-masing. Penduduk yang tidak memiliki modal lahan akan menggunakan modal kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Perlu diingat bahwa pada masa kini, pelaku ekonomi terutama dibidang pertanian secara tidak sadar telah menerapkan sistem modal/money-commodity-money.

Reduksi nilai modal

Masyarakat peralihan dari bertani menuju masyarakat industri mengalami proses perubahan modal. Modal utama petani ialah lahan yang memiliki ketahanan waktu dan kuantitas, kemudian dapat tereduksi menjadi modal uang ketika telah diubah bentuknya menjadi komoditas. Di samping modal uang yang dimiliki petani, masih ada beberapa kemampuan sampingan yang dapat dilakukan oleh masyarakat peralihan ini untuk bertahan hidup. Keahlian tersebut di antaranya adalah berdagang. Inilah yang kemudian memunculkan golongan pekerja abstrak. Sebagian kecil dari masyarakat pertanian dapat beralih profesi sebagai tenaga ahli misalnya seniman, pengajar, petugas kesehatan dan sebagainya. Di samping itu masyarakat peralihan yang tersisa hanya dapat mengkomodikasikan tenaga kerjanya kepada pemilik usaha. Sebagian buruh tani pada mulanya merupakan para pemilik lahan yang telah kehilangan (atau menghilangkan) lahannya. Biasanya buruh pertanian pada skala industri merupakan tenaga kerja yang didatangkan dari daerah lain untuk mengolah lahan di daerah tertentu. Tenaga kerja yang tidak terserap oleh sektor pertanian akan terserap oleh sektor industri lainnya. Inilah awal dari peralihan masyarakat dari masyarakat pertanian menjadi masyarakat industri. Dengan kata lain, masyarakat pertanian akan kehilangan bentuknya ketika modal utama ialah lahan direform menjadi komoditas.

Akibat lain dari peralihan lahan adalah ketersediaan bahan pangan untuk masyarakat. Karena media utama pertanian merupakan tanah, maka produksi bahan makanan pokok akan semakin berkurang seiring dengan beralihnya fungsi lahan. Di daerah berpenduduk padat, lahan beralih fungsi menjadi bangunan atau infrastruktur yang bukan merupakan milik masyarakat umum. Sementara itu di lain tempat, lahan tidak beralih fungsi namun beralih hanya komoditas tanam. Peralihan komoditas lahan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan adalah peralihan lahan dari hutan produksi atau sawah menjadi lahan mega-monokultur. Hal itu berarti dalam satu lahan yang sangat luas hanya ditanami oleh satu tanaman pokok saja, Adapun keberadaan tanaman lain hanya berfungsi sebagai usaha perbaikan kondisi lahan (konservasi) atau usaha sekunder. Peralihan dari lahan hutan di Kalimantan yang dapat menghasilkan karet, serat, ubi-ubian, buah dan rempah menjadi lautan kelapa sawit adalah salah satu contoh peralihan fungsi lahan yang ekstrem. Fakta ini dilanjutkan dengan berbagai peralihan lahan lain menjadi lahan pertambangan yang seperti dapat kita lihat di Papua dan wilayah pesisir selatan Pulau Jawa.

Pertanyaan dan permasalahan pada tahap ini bermuara pada kesadaran para pemilik lahan. Para petani pemilik lahan di Pulau Jawa misalnya, memiliki pertimbangan yang berbeda dengan para petani pemilik lahan di Pulau Kalimantan. Di Jawa, para petani pada akhir tahun 90-an telah memiliki rata-rata lahan kurang dari satu hektar. Para pemilik lahan di Jawa biasanya mendapatkan lahannya melalui proses penurunan warisan. Semakin banyak keturunan dalam suatu keluarga maka lahan yang ada akan dibagi sehingga menjadi bagian yang semakin kecil. Semakin kecil lahan yang dimiliki, maka semakin kecil panen yang dihasilkan. Sementara itu hasil pertanian hanya dapat dinikmati pada musim-musim tertentu. Dengan demikian pendapatan dari lahan tersebut hanya didapat setidaknya dua hingga tiga kali setahun, bergantung dengan komoditas tanamannya. Petani yang memiliki usaha tanaman tahunan (seperti buah, kayu dan sebagainya) biasanya memiliki profesi alternatif selain bertani. Sementara petani yang memiliki usaha tanaman musiman (Padi, umbi, serealia, rempah dan sayur) mengerjakan lahannya hampir setiap hari. Bagi petani tanaman tahunan, lahan dapat menjadi aset atau usaha sampingan, bahkan dapat mempekerjakan petani lain dalam mengurus lahannya. Sementara itu, petani tanaman musiman lebih sering menjadikan kegiatan bertani sebagai pekerjaan utama. Dalam kasus yang kedua inilah, para petani sering mengalami pertimbangan-pertimbangan ekonomis. Petani dengan lahan pertanian musiman akan memperoleh hasil yang besar apabila lahannya cukup luas. Hal ini dapat diatasi dengan pembentukan kelompok tani. Sementara sebagian petani yang merasa lahan dan hasil produksi tidak sebanding dengan kebutuhan hidupnya akan menjual tanah dan beralih profesi seperti yang dijelaskan pada keterangan sebelumnya.

Masyarakat agraris

Masyarakat agraris terdiri dari mereka yang bekerja dengan mengolah hasil bumi, selain bahan tambang. Nelayan, peternak, petani dan berbagai stakeholder yang terkait dengan pengolahan sumber daya alam hayati dan nabati dapat dikategorikan sebagai masyarakat agraris. Masyarakat agraris selalu menemui halangan dalam melaksanakan perputaran usahanya. Permasalahan didapati melalui force majeur (kekuatan alam), human error (kesalahan manusia) dan sistem. Dalam menanggapi hal tersebut, masyarakat pertanian selalu mencari cara untuk dapat bertahan. Usaha – usaha fisik, materi dan bahkan spiritual dilakukan agar mereka dapat melampaui halangan dengan baik. Inilah yang kemudian membentuk budaya masyarakat agraris. Salah satu produk dari masyarakat agraris yang terpola hingga saat ini adalah cara mereka berkelompok. Terbentuknya kelompok tani merupakan suatu perkembangan yang dapat menguntungkan petani.

Kelompok tani secara tidak langsung dapat mempertahankan kesediaan lahan pertanian. Kelompok tani terdiri dari beberapa petani yang menyatukan diri dalam penyediaan bahan dan alat pertanian serta penyedia pasar. Kemudian kelompok tani juga dapat bergabung dalam sebuah gabungan kelompok tani (Gapoktan) untuk memperoleh akses yang lebih luas. Gapoktan juga sering menjadi sarana bagi tersalurnya bantuan baik dari instansi pemerintah maupun NGO (Non Goverment Organization). Di beberapa Pulau lain, misalnya Kalimantan dan Sulawesi, kelompok tani masih terdiri dari anggota dalam suatu keluarga. Beberapa bentuk kelompok yang telah dirumuskan antara lain adalah usaha pertanian kolektif, koperasi, usaha pertanian sewa hingga persekutuan terbatas. Di samping beberapa alternatif tersebut, kelompok tani dirasa lebih kuat karena terikat dengan asas fungsi kelompok dan asas norma. Namun kelompok tani juga tidak selalu dapat menyelamatkan lahan dari peralihan bentuk menjadi komoditas. Kesadaran petani pemilik lahan adalah kunci utama dari peralihan tersebut.

Sekian panjang fakta yang dijabarkan hanya merupakan sebagian dari kompleksitas permasalahan pertanian. Kita secara umum telah membahas kondisi peralihan lahan dari modal menjadi komoditas. Hal ini berpengaruh, tidak saja pada perkembangan masyarakat, pertumbuhan tenaga kerja dan ketersediaan bahan pangan. Masih banyak permasalahan lain yang belum sempat diuraikan secara terperinci, misalnya perkembangan industrialisasi pertanian, berbagai kontroversi revolusi hijau – organik – berkelanjutan, kelangkaan plasma nutfah lokal dan berbagai permasalahan sosial, teknologi dan geografis lainnya.

Kesadaran masyarakat agraris

Permasalahan di atas terkadang tidak menjadi perhatian utama karena masyarakat utamanya kaum intelektual hanya berusaha menjelaskan permasalahan yang artificial, sekunder atau metafisik semata. Masyarakat dijauhkan dari permasalahan nyata terdekat mereka ialah permasalahan bertahan hidup. Dalam tahap ini yang menjadi faktor utama dari segala permasalahan di atas ialah kesadaran manusia itu sendiri. Namun kesadaran tersebut tidak lalu terbentuk dengan sendirinya. Kesadaran manusia merupakan suatu substansi namun dapat terkondisikan oleh faktor-faktor luar. Langkah awal untuk dapat menguraikan masalah pertanian di atas adalah merumuskan kesadaran dari masing-masing basis, terutama masyarakat agraris.

Kesadaran merupakan kegiatan mental yang menghubungkan pengetahuan subyek dengan keberadaan obyek. Kesadaran juga merupakan suatu keadaan di mana manusia mengetahui apa, di mana, mengapa dan bagaimana dirinya sebagai realitas ada. Ketika berbicara mengenai kesadaran, kita tidak dapat melepaskan pembahasan mengenai input kesadaran manusia ialah obyek, proses pembentukan kesadaran serta gangguan yang terjadi saat kesadaran manusia terbentuk. Pembahasan mengenai kesadaran kali ini akan langsung kita terapkan pada permasalahan pertanian di Indonesia. Masyarakat agraris telah mengalami sejarah yang panjang dan bahkan paling tua di antara sejarah formasi masyarakat lain. Pada beberapa abad terakhir ini, terjadi perubahan kesadaran radikal yang terjadi pada masyarakat agraris. Di Indonesia kesadaran masyarakat mengalami kegagalan dalam mencerna kondisi dan posisi dirinya di tengah pergulatan zaman.

Petani, atau kini dapat kita sebut dengan masyarakat agraris memutar roda produksinya dengan tujuan yang berbeda dengan abad sebelumnya. Masyarakat agraris pada mulanya menyadari bahwa usaha yang mereka lakukan dapat menghidupi dirinya dan keluarganya, melalui proses tukar menukar alat pemenuh kebutuhan. Proses pertukaran dapat dilakukan dengan pekerja lainnya (proses ini aktual pada masa feodal). Masa tersebut manusia dapat mengenali dirinya melalui apa yang ia kerjakan dan hasilkan. Pertanian rakyat pada zaman kolonial bekerja untuk mendapatkan komoditas dan ditukar dengan komoditas lainnya untuk dapat melanjutkan kehidupannya. Masa itu juga didampingi dengan sistem tanam paksa yang kemudian menggeser kesadaran masyarakat agraris karena telah mengenal upah dan uang sebagai alat tukar. Masyarakat agraris yang telah mengenal uang, mulai menyadari bahwa apapun dapat ditukar dengan uang. Inilah yang kemudian melahirkan pengertian komoditas modern di mana suatu benda yang dapat ditukar dengan uang melalui proses jual beli disebut sebagai komoditas. Keberadaan uang mengubah kesadaran masyarakat secara masif sehingga ia memiliki peran untuk dapat menakar berbagai komoditas menjadi satu satuan yang stabil. Tahap ini adalah langkah awal dari perkembangan kesadaran masyarakat agraris.

Tahap selanjutnya adalah kemunculan kelompok yang tidak bertani namun memiliki modal lain selain lahan. Sebelumnya terdapat para pemilik tanah yang dapat mempekerjakan orang untuk mengolah lahan, namun berikutnya kita mengenal kelompok lain yang dapat bergerak dibidang perdagangan. Mereka adalah para pedagang yang memiliki kemampuan untuk menyediakan pasar bagi masyarakat agraris. Pedagang pada mulanya dapat merupakan bekas pemilik lahan yang memilih untuk menjalankan peran sebagai distributor antara produsen pertanian (petani) dan konsumen (masyarakat). Uang memegang kendali penuh dalam proses ini. Di sinilah terjadi proses pergantian pola hidup masyarakat agraris dari commodity-commodity menjadi comodity-money-commodity. Uang dengan ini menjadi media tukar bagi masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan hidup.

Kesadaran berkembang, bahwa secara umum uang dapat membeli segala hal yang dibutuhkan. Pada tahap ini, pedagang yang berkuasa atas pasar, menentukan segalanya. Pasar menentukan kualitas dan kuantitas hasil produksi, hal ini yang dijadikan senjata oleh para pedagang untuk menekan produsen utama. Proses ini tidak berlangsung lama karena dengan segera berkembang. Masyarakat agraris awalnya merupakan produsen yang menggunakan segala modalnya dalam bentuk lahan, alat pertanian, bahan tanam dan tenaga sehingga menghasilkan komoditas yang akan diperdagangkan. Namun seiring dengan berkembangnya masyarakat, keperluan dan teknologi maka masyarakat agraris tergabung menjadi konsumen. Dalam tahap ini produsen primer dengan segera membutuhkan benda dan jasa produksi sekunder-tersier. Hal ini tidak dapat dihindari karena masyarakat agraris tetap merupakan bagian dari masyarakat secara umum. Saat ini, masyarakat agraris menjadi produsen sekaligus pasar. Berdasarkan pola produksi dan pasar, masyarakat telah terbagi-bagi menjadi kelas-kelas baru. Di saat yang sama dimulailah babak dominasi antar kelas pekerja nyata dan abstrak (dapat juga dimengerti sebagai dominasi antar kelas proletar-borjuis).

Perkembangan masyarakat beriringan dengan perkembangan teknologi. Semakin banyak jumlah manusia, semakin tajam usaha dan daya untuk bertahan hidup. Manusia mulai zaman purba hingga saat ini terus berusaha menemukan teknologi. Teknologi inilah yang dapat memudahkan tugas manusia, teknologi menghasilkan produk berupa mesin. Sesuai dengan sejarah tercatat, penemuan mesin berkembang melahirkan modernitas. Modernitas yang bertemu dengan sistem masyarakat agraris dan perdagangan yang kemudian menimbulkan industrialisme. Posisi ini memperkuat kaum borjuis sebagai pemilik modal untuk mengembangkan modalnya dalam berbagai macam bentuk baru seperti mesin. Seperti tujuan awalnya, mesin dibentuk untuk mempermudah tugas manusia. Satu mesin pintal modern akan menghasilkan berkali-kali lipat dari hasil tenunan seorang wanita dengan mesin pintal kuno pada satuan waktu yang sama. Hal demikian juga terjadi di sektor pertanian. Membajak satu luasan sawah dapat diselesaikan dengan cepat menggunakan satu mesin bajak dan seorang tenaga kerja dibandingkan dengan kerbau atau cangkul yang membutuhkan beberapa tenaga kerja.

Modernitas menunjukkan ciri-cirinya ialah efisiensi dan efektivitas. Efisiensi menunjukkan optimalisasi kuantitas usaha yang digunakan untuk memperoleh suatu hasil sementara efektivitas merupakan kualitas hasil dari usaha yang dilakukan. Optimalisasi yang dimaksud adalah usaha paling minimal dalam memperoleh hasil maksimal. Modal usaha yang diminimalisasi merupakan waktu, tenaga kerja dan biaya. Segalanya ditekan sehingga memperoleh nilai efisien dan efektif. Dengan kata lain, modernitas pada tahap ini mengondisikan manusia agar menggunakan waktu sesingkat mungkin, tenaga sesedikit mungkin dan biaya sekecil mungkin untuk memperoleh hasil yang maksimal. Inilah yang menyebabkan modernitas menghasilkan budaya instan. Dua ciri modernitas tersebut memberi gambaran langsung mengenai kejadian-kejadian di dunia modern. Modernitas menjadi ruang lembap bagi kaum borjuis mengembangkan dirinya sehingga modernisme selanjutnya menghasilkan kapitalisme.

Sekilas Kapitalisme

Kapitalisme sering dianggap sebagai suatu monster kejam yang menakutkan bagi sebagian orang. Kami berpendapat bahwa kapitalisme apabila digambarkan secara aforistik merupakan lautan yang dipenuhi oleh makhluk Siren dalam kisah Odiseus. Odiseus mengalami berbagai halangan untuk pulang setelah ia berperang melawan Troya. Di salah satu perjalanannya, ia melewati laut berkepulauan yang dihuni oleh para Siren. Siren merupakan makhluk laut berupa wanita duyung yang cantik dan mengeluarkan bunyi sangat merdu. Pelaut yang terjebak mengikuti rayuan Siren akan berlayar menuju batuan-batuan karang dan menenggelamkan kapalnya. Hal yang serupa terjadi dalam sistem kapitalisme. Kapitalisme tampak lebih menarik, cantik dan menggoda karena menawarkan segala keinginan manusia. Siren, sama dengan kapitalis, menggiring korbannya memalui keinginan, bukan kebutuhan. Keinginan tersebut dapat diterjemahkan dalam artian yang baru ialah pasar. Demi membentuk pasar tersebut, pemegang kapital membentuk kesadaran baru akan adanya keinginan lebih dan lebih. Keinginan berlebih ini membentuk pasar sehingga bertumbuh besar dan dinamai konsumerisme. Segala kelas masyarakat di Indonesia telah terjangkit dengan penyakit konsumerisme, termasuk masyarakat agraris.

Proses pembentukan keinginan menuju ke konsumerisme dilakukan melalui penanaman kesadaran baru. Kesadaran baru tersebut merupakan kesadaran bentukan dari kapitalisme, bukan merupakan kesadaran otentik dari subyek yang berkaitan. Proses ini dikenal sebagai proses alienasi. Kembali ke permasalahan masyarakat agraris, alienasi juga diinduksikan kepada mereka melalui beberapa cara. Di antaranya melalui media dan sistem. Alienasi dan komodifikasi kebutuhan-keinginan menyebabkan masyarakat agraris dengan mudah memberikan modal utamanya kepada pihak lain hingga tanah dan ladang tidak lagi menjadi lahan yang dapat dikelola secara alamiah. Selain itu masyarakat agraris dapat mengutamakan kepentingan ekonomis dibandingkan keamanan hayati.

Contoh konkret yang telah kita bahas sebelumnya adalah perubahan modal lahan menjadi komoditas. Bagi masyarakat agraris yang telah teralienasi, tanah bukan lagi modal utama. Tanah merupakan komoditas yang dapat ditukarkan dengan uang sehingga mereka dapat memperoleh keinginannya yang lain. Dengan mengkomodifikasi modal lahannya, mereka secara otomatis tidak lagi dapat memproduksi makanannya sendiri. Akibatnya, mereka harus memiliki profesi lain untuk memperoleh makan dan kebutuhan lainnya. Permasalahan tampak nyata apabila tidak ada pekerjaan yang tersedia bagi mereka. Keterampilan lain selain bertani dapat menyelamatkan beberapa orang, namun tidak semuanya. Selain itu, keturunan dari bekas masyarakat agraris tidak lagi memiliki modal seperti orang tua mereka. Mereka akan berkembang menjadi tenaga kerja kasar, tenaga kerja ahli atau jika berkesempatan menjadi seorang intelektual. Tidak akan ada lahan yang dapat dikerjakan sehingga mereka harus mencari atau menciptakan lapangan kerjanya sendiri. Hal ini menjadi salah satu penyebab perpindahan masyarakat dari desa ke kota, dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industrial. Pertumbuhan masyarakat urban juga merupakan konsekuensi dari hilangnya modal lahan para petani.

Di atas semua kenyataan itu, kapitalisme terus bekerja. Masyarakat agraris yang tersisa juga teralienasikan dari kesadarannya. Mereka ditekan oleh semakin banyaknya “kebutuhan”. Kebutuhan nyata seperti pendidikan, transportasi atau komunikasi memang menjadi kebutuhan bagi semua masyarakat modern. Tapi belum cukup, kapitalisme meningkatkan nilai kebutuhan tersebut dengan menerapkan nilai-nilai baru seperti kenyamanan dan gaya hidup. Pada contohnya, seorang petani membutuhkan kendaraan yang dapat mempermudahnya menuju lahan sehingga ia membeli sebuah sepeda motor. Selanjutnya ia membutuhkan kendaraan yang dapat mengangkut alat dan hasil produksinya. Dengan demikian ia membutuhkan sebuah mobil angkut. Kebutuhan bertambah ketika anak petani tersebut menempuh pendidikan di tempat yang jauh sehingga ia memutuskan untuk membeli sebuah sepeda motor lagi untuk si anak. Melalui gambaran gaya hidup yang di dapat melalui televisi, petani menginginkan sebuah mobil yang lebih bagus untuk ia dan istrinya bepergian sehingga ia memutuskan membeli satu mobil lagi. Keinginan akan semakin bertambah apabila kemudian dealer kendaraan menawarkan berbagai jenis modifikasi aksesoris yang sebenarnya tidak diperlukan oleh petani. 

Contoh di atas hanya salah satu simulasi yang dapat terjadi dalam aspek transportasi. Masih akan lebih banyak hal yang dapat terjadi saat keperluan primer berkembang menjadi “sekaligus” pelengkap keperluan sekunder dan tersier. Dapat kita lihat bahwa pada akhirnya kebutuhan pendidikan, transportasi, komunikasi dan lainnya bukan merupakan kebutuhan yang digunakan berdasarkan pemenuhan kebutuhan namun menjadi penanda dari suatu tingkat kemapanan, pelengkap keinginan. Pada tahap ini, suatu kebutuhan tidak lagi memiliki nilai guna namun juga nilai abstrak. Untuk mencapai taraf kemapanan tertentu, masyarakat agraris harus memperbesar produksinya, dengan jalan apapun. Dalam proses ini sering kali masyarakat agraris sudah tidak memedulikan kondisi alam yang dieksploitasi.

Di sisi lain, ilmu-ilmu sebelumnya justru menunjang keadaan petani untuk semakin konsumtif. Salah satu revolusi di bidang pertanian pernah menyarankan agar produksi tani menggunakan pupuk yang optimal. Penggunaan pupuk secara optimal ini merujuk pada penggunaan pupuk kimia yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh para petani. Selanjutnya introduksi bibit-benih asing oleh perusahaan pertanian multinasional. Perusahaan raksasa menawarkan segala macam jenis bibit tanaman pangan yang sesuai dengan kondisi daerah tertentu. Sedangkan perusahaan nasional lebih banyak memproduksi bibit tanaman hortikultura. Bibit yang diperdagangkan merupakan bibit hibrida yang mana tidak dapat diturunkan untuk keperluan penanaman kembali.

Penawaran-penawaran berbagai macam pestisida, mesin pertanian, alat dan kelengkapan bertani yang di produksi oleh perusahaan asing, dan biasanya diperdagangkan dari gapoktan ke gapoktan. Melihat fakta di atas dapat kita simpulkan bahwa sistem produksi pertanian sendiri merupakan sebuah pasar yang sangat luas dan ramai. Petani terpaksa harus menyisihkan lebih besar biaya untuk keperluan produksi. Karena petani juga merupakan pasar tersendiri, maka dalam praktiknya selalu terjadi alienasi kesadaran petani. Terdapat kasus terdahulu di mana seorang pengumpul plasma nutfah lokal di Purbalingga diberi label negatif oleh pemerintah karena pada masa Orde Baru ia tidak mau menggunakan varietas yang disarankan oleh pemerintah. Apa yang dibutuhkan oleh petani akan ditentukan oleh stakeholder terkait.

Permasalahan yang sedemikian besar terkadang justru menjadi angin lalu bagi kaum intelektual. Masyarakat biasa mengolah permasalahan hanya melalui apa yang ditawarkan oleh media massa. Sementara itu media massa belum tentu dapat menangkap seluruh realitas permasalahan yang terjadi. Bahkan terkadang media massa secara sengaja hanya menyuguhkan fakta sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat yang menjadi pasarnya. Tidak dapat disanggah bahwa media sering kali menyediakan informasi yang telah ditentukan oleh pemilik modal. Tujuan utamanya adalah untuk membentuk opini publik demi kepentingan politik atau ekonomi kelompok tertentu. Media massa ini yang kemudian menjadi perantara dari fakta dan keinginan pasar. Media terkadang lebih berfungsi menjadi cermin dibandingkan kaca transparan yang menyajikan fakta kepada kaum utamanya kaum intelektual. Sekilas tentang media massa dapat menjadi contoh bahwa kesadaran masyarakat sengaja dialienasikan dari kesadarannya melalui cara apapun.

Modernitas tidak tampak seburuk kedengarannya. Teknologi diiringi dengan kesadaran kaum intelektual juga menghasilkan produk yang dapat menyejahterakan masyarakat agraris. Diproduksinya benih-benih lokal unggul, pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat daerah, teknologi pertanian berkelanjutan dan kesadaran atas pentingnya mengonsumsi produk lokal menjadi beberapa usaha penyejahteraan masyarakat agraris. Namun lepas dari segara usaha untuk memperbesar hasil produksi dan pasar, modal utama ialah lahan harus tetap dipertahankan. Banyak kaum intelektual dan aktivis yang menekankan kesejahteraan masyarakat dan tenaga kerja industrial. Namun jarang di antaranya yang memusatkan perhatiannya pada produsen utama kesejahteraan ialah masyarakat agraris.

Siklus masyarakat agraris menuju masyarakat industri berjalan sangat panjang dan dapat dikatakan mengerikan. Dalam bagan singkat dapat dijabarkan sebagai berikut: Masyarakat agraris dapat hidup mandiri dengan hasil produksinya baik melalui lahan sendiri maupun lahan pemilik tanah. Kemudian berkembang dengan adanya kelas pedagang dan pasar. Kebutuhan pasar berkembang sehingga produsen primer dituntut untuk semakin produktif dan lahirlah industrialisasi pertanian. Di sisi lain, pedagang juga berusaha menjadikan masyarakat agraris sebagai pasar, setidaknya pasar bagi produk sekunder dan tersier. Berkembangnya modernitas menyusutkan keperluan tenaga kerja di segala sektor. Petani yang tidak lagi mampu mengolah lahan, mengubah modal awalnya menjadi komoditas. Mereka yang sudah tidak memiliki modal awal harus hidup sebagai tenaga kerja di sektor industri lainnya atau menciptakan lapangan kerja sendiri. Dalam usaha mendominasi pasar, para pemilik modal besar akan melakukan segala cara dan salah satunya melalui alienasi kesadaran. Masyarakat agraris dalam hal ini menjadi korban dari korban kapitalisme.

Kami belum dapat membahas banyak permasalahan lain yang terkait dengan industri primer agraris. Masih banyak permasalahan yang berkaitan dengan modernitas, teknologi dan proses alienasi. Masih terdapat berbagai masalah mengenai monopoli industri agraris, persaingan global, hubungannya dengan ketersediaan lahan dan hutan rakyat, migrasi masyarakat agraris dan efeknya terhadap alam. Seluruhnya membutuhkan perhatian kritis dan bantuan dari kaum terdidik serta masyarakat secara luas. Jangan biarkan kaum intelektual teralienasikan dari kenyataan terdekatnya. Bumi dan hasilnya merupakan modal absolut yang dimiliki oleh semua bangsa, jangan biarkan kesadaran lain meracuni kesadaran kita sehingga kemudian dapat memanfaatkan kekayaan yang menjadi hak setiap manusia. Tulisan yang belum sempurna ini bertujuan utama untuk membuka pembaca atas tantangan mendasar apa yang sedang kita alami. Selama manusia masih mengonsumsi zat hayati dan hewani, bukan serat sintetik atau plastik maka kesejahteraan masyarakat agraris harus selalu diperjuangkan.

Daftar Pustaka

BPS. 2013. Diambil dari National Geographic 2014 edisi Oktober 2014. Penerbit Gramedia. Jakarta.

Firdaus, Muhammad. 2008. Manajemen Agribisnis. Bumi Aksara. Jakarta.

Geertz, C. dalam I Wayan Arga. 2009. Peningkatan Skala Usaha Petani Gurem Sebagai Usaha Menuju Pertanian Tangguh di Indonesia. Universitas Udayana. Bali.

Sudarminta, J. 2002. Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan. Kanisius. Yogyakarta .

Suseno, Franz Magnis. 1999. Pemikiran Karl Marx. Gramedia Pustaka. Jakarta.

Leave a Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.