fbpx

Sedikit Mengenai Eksistensi(-alisme) Manusia

Jika kita boleh untuk merasa, dari Sartre kita bisa belajar bahwa kebebasan ialah sesuatu yang cukup mengerikan. Ia tak pernah bisa dikompromikan, karena kita selalu tiba-tiba saja dihadapkan pada akibat.

Acapkali manusia mudah untuk memandang hal-hal yang berada di luar dirinya sebagai benda lain yang asing, sama sekali tak berterima, bahkan. Bahwa ada sesuatu yang hidup dan berada diluar sana, diluar eksistensinya, yang terselubungi kabut. Sehingga entah bagaimana, seolah dipandang sebagai ancaman yang harus ia hindar atau tuntaskan. Lantas, sang manusia yang merasa takut dengan ancaman terhadap keakuan-nya, menutupi diri dengan selubung yang tak mengizinkan seorang pun bisa hadir dengan mudah dalam dunia-nya. Ia melihat bahwa dirinya ada pada dunia yang berbeda. Dari situ, manusia mulai bergerak di dalam eksistensinya, yang tentu saja bersinggungan dengan keberadaan yang-lain.

Semenjak era skolastik hingga modern, banyak manusia yang keberadaannya mesti mengakrabkan diri dengan sesuatu yang jauh berada di langit, tak terjamah, tak terasa, dan tak-tak yang lain. Seperti keberadaan Tuhan, dosa, dunia yang ada di sana, dan sebagainya. Sehingga lambat laun, manusia mulai menemui titik jenuh. Mereka merindukan sesuatu yang dekat, yang dialami, dan yang terbuktikan. Kemudian, manusia mulai mencerahkan dirinya, mula-mula dengan bentuk rasionalisme yang dimulai Rene Descartes dengan metode meragukannya. Kelak pula, mereka yang tak puas dengan jawaban yang diberi oleh rasio, terus mencari jawaban atas keraguannya, melibatkan pengalaman yang nyata. Namun ternyata, cara-cara demikian masih belum memuaskan. Mereka masih terus mencoba menjawab, bagaimana sesungguhnya mengenai eksistensi manusia. Maka dimulailah era yang khas mengenai manusia, sebagai keberadaan yang khas, yang otentik daripada eksistensi yang-lain.

Setelah itulah (“itulah” di sini bisa memiliki dua arti: era yang baru disinggung di atas atau era selepas), pemikiran filsafat mulai bergulat mengenai kebebasan manusia dalam mencari cara “mengada”-nya yang otentik ketimbang adaan lain. Ada manusia, merupakan cara “mengada” yang khas. Bagi Martin Heiddeger, manusia adalah Dasein:ada-di-sana. Bagi J. P Sartre, manusia adalah L’etre pour Soi, berada-untuk-dirinya. Adaan tersebut tiada serupa dengan cara mengada benda lain yang tak dibarengi dengan kesadaran, yang kelak oleh Edmund Husserl dirumuskan sebagai intensionalitas (keterarahan). Dengan berbagai pemikiran tersebut, manusia mulai menghayati caranya “mengada” yang berbeda dengan adaan lain. Dan pada bidang inilah, filsafat eksistensialisme bergerak.

Sebetulnya, untuk merumuskan secara definitif “Apa itu eksistensialime?” agaknya cukup sulit. Namun jika kita melihat berbagai pemikiran mulai dari Heiddeger, Kierkegaard, Nietzsche, hingga Sartre dan Camus, kita akan dihadapkan dengan sebuah pencarian mengenai eksistensi manusia. Namun kita akan mencoba untuk berangkat dari akar katanya. Eksistensialisme berasal dari kata “eksis” yang dalam bahasa latin exsisto. Kata tersebut memiliki makna menyerua, muncul ke permukaan, menampakkan diri, tiba-tiba muncul, dan sejenis itu. “Keberadaan” adalah inti dari ragam pengertian tersebut. Namun kemudian, kita dihadapkan lagi pada pengertian “ada” yang beragam wajah. Kalimat, “Ada buku di sana” yang diutarakan sambil menunjuk pada toko buku, tentunya berbeda dengan kalimat “Ada buku ini” yang diucapkan sambil mengangkatnya. Yang pertama bersifat esensial, sedangkan yang kedua lebih konkret. Eksistensialisme bergerak pada wilayah yang kedua, dengan meminjam adagium khas Sartre “Eksistensi mendahului esensi”. Baginya, mustahil mengetahui esensi sesuatu sebelum kita mengetahui eksistensi sesuatu tersebut. Maka, mustahil kita mengenal esensi terdalam daripada buku, sebelum kita mengalami buku secara konkret.

Keberadaan itulah yang menjadi landasan dasar pemikiran eksistensialisme. Bahwa eksistensialisme selalu mencari mengenai hakikat dari keberadaan sesuatu, yang dalam hal ini ialah manusia. Manusia yang selalu mencari keberadaannya dengan menentukan dirinya melalui kesadaran, ialah pembeda dengan adaan-adaan yang lain. Ia yang ada untuk dirinya sendiri, sehingga ia memiliki kebebasan tak berujung dalam mencari dan menentukan dirinya. Seperti Sartre yang percaya, bahwa adanya manusia sebetulnya sama dengan adanya alam semesta yang ada begitu saja hadir tanpa landasan absolut. Maka, manusia belum bisa mencapai hakikat asalinya sebelum ia mati. Dan selama ia berada dalam masa-masa mencapainya itu, pencarian ini agaknya tak larut dalam rupa pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban yang tak pernah menepi. Ia terus bergerak sepanjang manusia meruang dan mewaktu.

Salah satunya, ialah pertanyaan mengenai bagaimana cara manusia memperoleh kebebasan, yang pada umumnya menjadi wacana khas ala eksistensialime. Sartre mencoba memberikan kejelasan mengenai hubungan manusia dengan kebebasannya. Baginya, kebebasan manusia adalah kutukan. Kebebasan tersebut melahirkan beragam tanggung jawab yang, mungkin, tidak pernah diinginkan karena beragam konsekuensinya. Dalam pemilihan keputusan itulah, manusia sepenuhnya bebas. Namun kebebasan itu sebetulnya adalah sebuah kutukan berupa cantik, mengingat segala potensial dari akibat yang paling ujung ialah sesuatu yang mengerikan. Dan manusia, harus membawa sendiri tanggung jawab akibat dari kebebasan tersebut.

Jika kita boleh untuk merasa, dari Sartre kita bisa belajar bahwa kebebasan ialah sesuatu yang cukup mengerikan. Ia tak pernah bisa dikompromikan, karena kita selalu tiba-tiba saja dihadapkan pada akibat. “Kebebasan” seperti sedang menggandeng tangan kita dengan mesra, namun tiba-tiba mencekik dan melemparkan, jika kita memutuskan menepi pada jalan yang tak tepat. Lantas, masihkah manusia berharap dengan teriakan-teriakan kebebasan? Coba kita tengok, kebebasan bagi pemikir yang lain. Camus, misalnya. Ia gambarkan dengan apik, bagaimana analogi manusia sebagai mitos Sisifus. Yang mendapatkan hukuman untuk terus mendorong batu hingga puncak gunung, namun selalu menggelinding kembali dan Sisifus mendorongnya lagi. Manusia, selalui dihadapkan pada keadaan absurd semacam ilustrasi tersebut. Bahwa tak pernah berhenti tanggung jawab meskipun seolah-olah ia akan usai. Maka kebebasan manusia hanyalah ilusi yang dilihat Sisifus selama rentang waktu turun, dengan memandang belantara dan langit yang jauh di sana. Kebebasan sesungguhnya ialah, Sisifus mesti merasa bahagia dengan hukumannya. “Sang Sisifus itu lebih tinggi takdirnya, ia lebih daripada batunya”. Maka, mungkin pula manusia dipaksa untuk merasa berbahagia dengan kebebasannya yang ternyata tak pernah berubah, yakni mendorong tanggung jawab dengan akhir yang entah. Maka, masihkah manusia terus bergulat mencari kebebasannya?

Namun kita sama-sama tahu, setelah manusia terlempar ke dunia, tanpa bisa memilih bahkan menyetujui, manusia selalu dalam prosesnya untuk mencari esensi kehadirannya, pun mungkin pula kebebasannya secara ideal. Merekalah satu-satunya makhluk yang keras kepala untuk mencari esensi “kehadiran” di dunia, bahkan meskipun jawaban itu tak pernah sampai di tangan mereka. Sehingga dalam prosesnya yang demikian, manusia senantiasa bergerak pada kemenjadian. Dunia, sesungguhnya tiada memiliki makna, dan manusia-lah, satu-satunya makhluk yang mencoba untuk memberikan makna pada apapun yang mereka alami dan pikirkan. Barangkali dari sinilah, eksistensialisme akan selalu dalam kemenjadiannya pula. Dan pula eksistensialisme, akan selalu terlahir melalui karya-karya sastra yang mengangkat kesadaran manusia sebagai permasalahan utamanya. Seperti Kejahatan dan Hukuman karya Dostoyevski, The stranger-nya Albert Camus, hingga Methamorphosis milik Franz Kafka. Mereka selalu menghasrati sesuatu untuk dijawab, untuk dijelaskan. Tetapi, setiap hasrat mendambakan keabadian—keabadiaan yang sungguh-sungguh mendalam (Nietzche).

Bagaimana bisa pencarian berakhir, apabila eksistensi manusia selalu bergerak mencari.

Bagikan artikel ini:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.