The Grand Design: Realisme yang Bergantung pada Model

Pada tahun 1543 Copernicus dalam bukunya De Revolutionibus Orbium Coelestiu menunjukan model kosmos baru bahwa matahari berada di antara planet-planet yang berputar mengelilinginya termasuk bumi.
Stephen Hawking

Apakah realitas itu? Dalam buku karya Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow kalau konsep realitas itu tidak ada, semua bergantung pada model-model tertentu yang diyakini. “There is no picture- or theory-independent concept of reality. Instead we will adopt a view that we will call model-dependent realism: the idea that a physical theory or world picture is a model (generally of a mathematical nature) and a set of rules that connect the elements of the model to observations. This provides a framework with which to interpret modern science.”

Model-dependent realism muncul saat di mana berbagai teori berbeda mencoba menjadi Theory of Everything (Teori Segalanya). Teori segalanya bertujuan menyatukan relativitas umum dan mekanika kuantum. Menurut gagasan tentang model-dependent realism otak kita menafsirkan input dari organ indra kita dengan membuat model dunia luar. Contohnya ialah ketika ikan berada di akurium berbentuk bulat dan melengkung. Mereka akan melihat dunia itu bentuknya melengkung.

Dalam membandingkan gambaran mengenai dunia tidak ada gunanya bertanya “apakah suatu model itu nyata atau tidak?” Jika ada dua model yang berbeda maka seseorang tidak dapat membandingkan mana yang paling benar. Karena pengamatan yang dilakukan setiap orang berbeda.

Dalam buku The Grand Design mereka mengambil contoh terkenal dari gambar-gambar realitas yang berbeda adalah model yang diperkenalkan sekitar tahun 150 M oleh Ptolemy (sekitar 65 — 85 tahun) untuk menggambarkan gerakan benda-benda langit. Ptolemy menerbitkan karyanya dalam  tiga belas buku yang biasanya dikenal dengan judul Arabnya, Almagest. Almagest dimulai dengan menjelaskan alasan untuk berpikir bahwa bumi itu bulat, tidak bergerak, diposisikan di pusat alam semesta, dan sangat kecil dibandingkan dengan jarak langit. Terlepas dari model heliosentris Aristarkhos, kepercayaan ini telah dipegang oleh sebagian besar orang Yunani yang berpendidikan setidaknya sejak zaman Aristoteles, yang percaya bumi menjadi pusat alam semesta. Dalam model Ptolemeus bumi berdiri diam di tengah dan planet-planet dan bintang-bintang bergerak mengelilinginya. Model kosmos Ptolemeus diadopsi oleh Gereja Katolik sebagai doktrin resmi selama seribu empat ratus tahun.

Pada tahun 1543 Copernicus dalam bukunya De Revolutionibus Orbium Coelestiu menunjukan model kosmos baru bahwa matahari berada di antara planet-planet yang berputar mengelilinginya termasuk bumi. Model yang dicetuskan oleh Copernicus sangat bertentangan dengan Gereja yang akhirnya sempat memanas dengan Galileo Galilei yang mendukung model ini.

Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa setiap orang akan memiliki gambaran dunianya masing-masing, mereka akan teguh terhadap apa yang mereka telah amati dan masing-,masing akan menyusun konsep yang bersifat matematis di atas model mereka agar konsep mereka mampu diterima.

Namun tetap masih ada kriteria bagaimana suatu model itu dinilai baik. Menurut Hawking dan Mlodinow terdapat empat kriteria yaitu:

  1. Sederhana dan cerdas (elegan)
  2. Berisi sedikit unsur yang acak dan dapat disesuaikan
  3. Sejalan dengan dan menjelaskan semua observasi yang ada
  4. Membuat prediksi yang rinci mengenai observasi-observasi pada masa yang akan datang yang dapat menolak atau menyalahkan model ini jika observasi-observasi ini tidak didapatkan.

Meskipun sudah jelas bahwa kita semua memiliki persepsi pribadi kita sendiri tentang dunia, tetapi kita sering lupa akan fakta itu. Setiap orang hidup dalam lingkungan yang berbeda, dan akan memiliki perasaan berbeda tentang apa yang nyata atau palsu, benar atau salah, baik atau buruk. Tidak ada satu perspektif yang lebih benar atau lebih salah daripada yang lain; semuanya tergantung pada konteks.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
×
×

Cart