Ex Philosophia Claritas

Subjek – Objek menurut Alfred Schutz dalam Relasi Aku dan Liyan

Lukisan Sibling karya Mian Situ

Daftar Isi

Manusia sebagai makhluk yang berelasi merupakan mereka yang mengalami pertemuan dengan manusia lain, serta dirinya. Dalam pertemuan itu terjadi proses komunikasi baik secara lisan, tulisan, hingga simbolik. Proses komunikasi ini merupakan syarat manusia untuk saling mengerti, mengenal, dan bahkan memahami. Komunikasi tidak mengandaikan objek yang berelasi dengan objek lainnya melainkan merupakan hubungan yang terbangun antara subjek dengan subjek lainnya. Selain itu, proses ini juga mengandaikan adanya sebuah tipe penerimaan informasi, dan penyampaian kembali makna dari informasi yang telah terlemparkan dari seorang subjek ke subjek lain, atau ke mana pun di luar dirinya. Tipe penerimaan ini dapat disebut sebagai yang objektif dan yang subjektif.

Alfred Schutz, seorang fenomenolog sosial Austria berusaha menjelaskan bagaimana realitas terbentuk melalui hubungan antar subjek yang nantinya akan disebut juga sebagai intersubjektivitas. Pendekatan fenomenologi sosial Schutz yang dijelaskan dalam The Phenomenology and The Social World banyak didasari oleh pemaparan sosiologi Max Weber dan fenomenologi Edmund Hussrel. Dengan landasan-landasan ini dapat ditarik garis tengah dalam fenomenologi sosial bahwa hubungan masyarakat (societas) akan terbentuk hanya bila anggota-anggota dalam satuan tersebut berelasi dengan kesehariannya dan sesamanya. Dalam fenomenologi sosial, pengalaman dan keseharian yang merupakan aspek penting dalam fenomenologi nampak ditampilkan sebagai elemen-elemen utama pula dalam sosiologi – di samping sistem atau perilaku masyarakat. Masyarakat merupakan kumpulan manusia atau subjek-subjek yang saling bertemu, berinteraksi, berkomunikasi, menjalani keseharian, dan membentuk pengalaman satu sama lain.

Schutz menjelaskan bahwa terdapat pola tertentu dalam proses komunikasi masyarakat. Masyarakat yang disusun oleh manusia (yang diandaikan dan dipahami hingga sekarang sebagai homo intellectus) mampu menyampaikan pesan dan menangkap makna. Salah satu aspek pengalaman manusia akhirnya dimengerti sebagai proses bertukar makna. Sementara proses manusia untuk menjadi atau terus berproses adalah untuk mencari makna. Makna ini tidak terlahir dengan sendirinya hanya sesaat ketika informasi diterima oleh satu orang dari orang lainnya. Makna yang berjalan dan berkembang di sekitar manusia muncul dari pengetahuan dan dipengaruhi oleh pengalaman. Dalam fenomenologi sosial, perdebatan apakah manusia memperoleh pengetahuannya secara empiris atau rasional, dipinggirkan terlebih dahulu.

Dalam fenomenologi sosial, pengalaman menjadi salah satu faktor utama bagi seseorang untuk mengungkapkan makna, dan bagaimana para penerima informasi menerima makna serta mengungkapkannya kembali. Hal ini dirumuskan oleh Schutz dengan pengandaian yang dapat digambarkan ulang sebagai berikut:

Seseorang penjual buah keliling bernama Adi sedang berkeliling untuk menjajakan buah dagangannya dan berusaha menyampaikan informasi dengan meneriakkan ucapan “Buah..buah..” di sambil berkeliling kompleks (disebutkan sebagai tindakan X). Tindakan X dari Adi ini memiliki makna yang selanjutnya disebut sebagai M1. Lalu teman Adi yang bernama Budi menyaksikan kegiatan X dari Adi hingga menghasilkan makna M2, sementara seorang sosiolog yang mengamati tindakan X dari Adi menghasilkan pemaknaannya sendiri yaitu M3. Dalam fenomenologi sosial, Schutz mengemukakan bahwa M1 akan selamanya berbeda dengan M2 dan M3.

Perbedaan makna dari pengamatan atas fenomena yang terjadi, yaitu X, disebabkan oleh karena masing-masing subjek memiliki latar belakang pengalaman yang berbeda. M1 dimaknai secara personal oleh Adi karena ia adalah pelaku dari X. Namun Budi dan sosiolog pengamat tadi tidak ikut dalam pengalaman Adi. Keduanya semata-mata merupakan subjek yang hidup di luar dunia Adi. Walaupun Budi juga merupakan seorang penjual buah misalnya, pengalamannya akan berbeda dengan Adi. Misalkan saja ketika Adi berteriak “Buah.. buah..” di sekeliling kompleks, Adi akan meninggikan suaranya di beberapa rumah tertentu yang ia ketahui, bahwa penghuninya menyukai buah. Hal ini berdasar dengan pengalaman sehari-hari Adi sebagai penjual buah keliling di area tersebut. Bagi Adi, pengalaman ini merupakan pengalaman yang menghasilkan makna subjektif.

Bagi Budi, misalnya, teriakan Adi tersebut tidak berbeda sama sekali. Bagi Budi, Adi adalah sesama penjual buah dan teriakannya sama dengan teriakan Budi ketika menjajakan buah dagangannya. Sementara itu seorang sosiolog, yang dalam pengalaman hidupnya belum pernah menjual buah, akan mengamati berbagai aspek cara Adi berdagang. Namun, ia tidak dapat menangkap makna dari tiap sikap kecil yang Adi lakukan dalam kegiatan X. Dengan demikian, tepat yang dikemukakan oleh Schutz bahwa makna dunia subjektif tidak pernah tak bernama (anonymous) karena pasti melibatkan Ego-consiousness atau kesadaran ego baik dari saya sebagai pelaku atau mereka sebagai yang mengamati. Makna selalu memiliki akar, ialah manusia yang berusaha mencapainya beserta seluruh pengalamannya.

Berkaca dari tindakan Adi dan pendekatan Weber, Schutz menyatakan bahwa tindakan X adalah apa yang disebut dengan tindakan subjektif. Tindakan X diberi makna oleh Adi dan hanya Adi yang mengetahui maknanya secara menyeluruh. Dengan demikian, M1 merupakan makna yang diintensikan (intended)[1] oleh Adi sebagai keputusan dan pengalaman yang membentuk kesehariannya. Sementara itu, Budi sebagai yang bukan memberikan makna terhadap kegiatan X melakukan pengamatan dari apa yang dialaminya. Hal ini bukan merupakan sebuah sikap subjektif melainkan sikap objektif. Sikap objektif merupakan proses pemaknaan Budi terhadap X yang dilakukan oleh Adi, kawannya. Budi tidak sedang menilai Adi melainkan sebagian dari tindakan Adi. Intensi pemaknaan Budi tertuju kepada X, demikian pula dengan sosiolog pengamat. Maka makna yang ditangkap oleh keduanya (Budi dan sosilog) bisa jadi sangat berbeda. Pengamatan keduanya merupakan pengamatan yang objektif karena berhubungan dengan tanda (signs) dari ekspresi Adi. Hal ini diungkapkan Schutz sebagai ideal objectivities atau idealen Gegenstandlichkeiten.

Di tengah pengalaman keduanya untuk memahami M1 dan X, terjadilah proses pemaknaan, yaitu tindakan untuk memaknai atau interpretitive schemata yang dalam contoh di atas dapat disebut sebagai Y bagi Budi dan Z bagi sosiolog. Dengan demikian maka masing-masing pengamat Adi juga tengah melakukan suatu tindakan tersendiri yang selanjutnya akan membentuk pengalamannya. Baik tindakan Y dan Z merupakan kegiatan mengamati apa yang ada di luar dunia mereka. Selanjutnya, kedua pengamat tersebut melakukan proses interpretasi melalui pengindraan dan pemahaman mereka. Demikian Schutz menggambarkan tindakan Adi dan Sosiolog (di dalam kutipan disimbolkan sebagai F dan S), “Since F and S witness the course of the act as an event of their world, experience it pre-predicatively, and procesd to explain it, they “interpret” this, their experience; and its meaning for them is merely an explanation of one item of their own experience.”[2]

Penjelasan Schutz di atas menunjukkan bahwa baik Budi maupun sosiolog memaknai kegiatan Adi berdasarkan pengalaman yang sudah pernah mereka alami dan makna-makna yang mereka ambil tidak dapat sepenuhnya sama dengan pemaknaan Adi secara pribadi. Makna Budi dan sosiolog mengacu pada pertimbangan-pertimbangan pribadi masing-masing, sebagaimana Budi sebagai penjual buah keliling di kompleks yang berbeda, dan sosiolog yang sehari-harinya mempelajari teori sosial dari buku-buku dan berbagai penelitian.

Melalui contoh di atas dapat disimpulkan bahwa pengalaman dapat membentuk makna seseorang secara subjektif, dan bahwa penerima informasi tidak akan pernah dapat menangkap keseluruhan makna dari si penyampai karena penerima makna tidak memiliki modal pengalaman yang sama. Hal tersebut juga dibentuk oleh misalnya, latar belakang, kemampuan belajar, kemampuan mengungkap dan menangkap pesan, trauma, serta semua hal lain yang membangun pengalaman manusia. Namun suatu bentuk relasi antar sesama mengandaikan bahwa seseorang tersebut sedang berhubungan dengan dunia. Dunia ini bukan merupakan satuan kosmologis melainkan pembatasan metafisis di mana segala aspek kehidupan manusia (termasuk pemikiran, kehendak, harapan, dan lain sebagainya) berlangsung.

Makna menjadi hal yang dimengerti karena telah berada di depan dunia pengamat, bahkan memasuki dunia tersebut. Namun awal mula makna secara utuh memiliki makna tersebut, dan makna yang kita cercap bukanlah makna yang seutuhnya. Sebagaimana Schutz menyatakan bahwa makna bukan lagi merupakan predikat yang generik dari kesadaran intensional melainkan makna ialah ia yang memiliki konotasi sosial yang spesifik. Kegiatan X, Y, atau Z yang sudah dimaknai oleh orang lain selain pelakunya, telah terlempar ke luar dunia dan mendapati penilaian dari lingkup sosial (social sphere).

Namun makna selanjutnya berjalan hingga seseorang dapat menjalin hubungan dengan yang Liyan. Proses intersubjektivitas merupakan proses dimana manusia saling berhubungan melalui proses pemaknaan. Ketika masing-masing orang memiliki makna subjektifnya sendiri, mereka akan membangun Ego-consiousness[3], dan ketika makna tersebut di amati oleh orang lain maka orang tersebut sedang mengamati secara objektif tindakan yang nampak. Namun makna yang terkandung akan selamanya subjektif karena pengamat atau Liyan yang berusaha memaknai kita memiliki  Ego-consiousness-nya sendiri. Dalam tahap terakhir, proses saling memaknai dapat membangun hubungan intersubjektif karena manusia yang saling memaknai akan saling membukakan kemungkinan untuk terbuka pada dunia. Bagi Schutz, dalam proses intersubjetifitas muncul pemaknaan subjektif yang hadir dalam ranah sosial atau dalam dunia di luar subjek, ialah pemaknaan subjektif yang merupakan kesatuan terarah dari berbagai objektivitas yang mendasar.[4]

Setiap orang memiliki dunianya sendiri, sebuah tempat di mana ia mampu bercakap-cakap dengan benaknya. Ia melakukan refleksi atau mempertimbangkan sesuatu, melakukan oto-kritik dan bahkan bersikap. Namun dunia manusia yang dimiliki oleh seorang pribadi, tidak dapat terlepas dari dunia orang lain. Orang-orang lain memiliki dunianya sendiri dan perbedaan dunia ini menyebabkan mereka disebut sebagai Liyan. Selanjutnya ketika manusia berkomunikasi dalam kesehariannya dengan orang lain, maka manusia sedang berusaha untuk memandang dan melemparkan makna ke luar dunianya. Dengan demikian maka manusia tengah berada dalam dunia luar. Namun manusia tersebut tidak sepenuhnya berada di luar dunianya. Yang hingga dan saling bertemu ialah makna dari keberadaannya, bukan dirinya secara utuh. Hal ini menyebabkan makna tidak terlepas dari keberadaan manusia di dalam dirinya, serta keberadaan manusia di dalam dirinya tidak terlepad dari keberadaan manusia dalam pertemuannya dengan Liyan.

Pertemuan-pertemuan Liyan ini yang selanjutnya dalam fenomenologi sosial disebut sebagai masyarakat. Di dalam dunia masyarakat atau societas terangkum makna-makna umum, yang pada mulanya merupakan makna-makna yang lahir dari tiap-tiap orang, yang lalu terlebur menjadi satu dalam konvensi-konvensi kecil hingga melahirkan berbagai bentuk norma, etika, nilai-nilai, ideologi, hingga visi bersama. Beragam hasil dilahirkan oleh pertemuan makna. Namun makna ini sekali lagi tidak sama dengan nilai yang hadir dalam dunia seseorang. Dapat muncul perbedaan karena makna yang terkandung dari dalam diri seseorang merupakan sebuah keotentikan sedangkan makna yang tengah atau telah terlahir di societas merupakan makna yang tersintesiskan. Ketidak-serupaan ini merupakan hal yang wajar dan manusia mau tidak mau menerima kehadiran makna di luar diri mereka.

Daftar Pustaka

Riyanto, Armada, CM. Relasionalitas Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2018. Schutz, Alfred. The Phenomenology of the Social World. George Walsh dan Frederick Lehnert (trans.) North West University USA: Press, 1967.


[1] Alfred Schutz, The Phenomenology and The Social World. pg: 32.

[2] Ibid. 34.

[3] Ibid. 37.

[4] Ibid. 38.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email