Ex Philosophia Claritas

The Self, Liyan, dan Orang Ketiga

Keberadaan Liyan menjadi tolak ukur apakah Aku layak menjadi manusia yang seutuhnya atau hidup sebagai sebagian keutuhan di tengah kondisi banyak Liyan yang menderita.
Greek Woman karya Lawrence Alma Tadema
Greek Woman karya Lawrence Alma Tadema

Daftar Isi

The Self

Pembahasan konsep Liyan harus didahului dengan pencarian makna atas The Self.  Apa arti The Self? Kiranya belum ada penerjemahan yang mampu menampung makna dari terma tersebut dalam bahasa Indonesia. Untuk meninjaunya sementara waktu, pemahaman The Self sebagai ke-diri-an dapat digunakan. Ke-diri-an tidak terkait dengan identitas atau hal-hal partikular yang menempel pada tubuh manusia. Istilah ini juga bukan merupakan predikat yang terberi bagi manusia. Armada Riyanto dalam buku RelasionalitasFilsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen (2018) memulai pemaknaan The Self melalui serangkaian fenomena yang dicatat oleh para sejarawan, jurnalis, dan sastrawan.

Terkait siapa penemu The Self menjadi hal yang sukar untuk dibuktikan. Namun setidaknya kita mengetahui seorang filosof yang mula-mula menyadarkan para pemuda Yunani mengenai keberadaan The Self, ialahSocrates. Selanjutnya The Self dijelaskan dalam panorama pemikiran Platon dan Aristoteles di mana keduanya memiliki perbedaan yang signifikan mengenai apa yang dimaksud dengan The Self. Platon berpendapat bahwa The Self  hanya dapat dicari melalui kedekatan manusia terhadap realitas yang digambarkannya dalam alegori manusia gua. Dari alegori tersebut kita mengetahui bahwa The Self  ialah manusia yang menerima bayangan-pancaran realitas sebagai kenyataan. Sementara itu, Aristoteles sebagai filosof muda yang radikal pada masa itu, lebih menekankan The Self  sebagai para pencari kebenaran guna meraih kebahagiaan. Kedua filosof tersebut mengandaikan The Self   sebagai manusia yang melakukan pengembaraan.

Sebagai sisi lain dari The Self , muncullah konsep mengenai Liyan. Konsep Liyan dalam filsafat Yunani pertama kali dapat dikenali dari pembatasan Aristoteles mengenai siapa kaum yang ada di dalam polis dan siapa kaum yang ada di luar polis. Kaum perempuan di masa Yunani klasik tidak diakui dalam polis. Mereka dianggap sebagai Liyan atau the voiceless. Liyan merupakan mereka yang berbeda dan tidak berhubungan dengan Aku sebagai yang memiliki kesadaran The Self. Mengacu pada konsep Aristoteles, banyak filosof di era modern dan kontemporer yang berusaha menyesuaikan pemajaman Liyan dengan konteks zamannya masing-masing. Perubahan ini menjadi semakin berwarna terutama karena perkembangan konsep kebebasan di masa pencerahan hingga pada akhirnya di pada masa ideologi. Liyan kini dipahami sebagai yang tertindas. Hingga kemudian, muncul satu pemikir otentik ialah Jean-Paul Sartre yang menyatakan bahwa Liyan adalah ia yang sama dan berhubungan namun seharusnya tidak saling merugikan.

Perempuan dan “Liyan”

Selanjutnya Riyanto juga menjelaskan mengenai bagaimana perempuan tengah mengalami peminggiran dan dianggap sebagai Liyan. Secara langsung kita melihat banyak fenomena di mana perempuan menjadi yang tertindas dan terlupakan. Riyanto memberi contoh bagaimana kehidupan para Tenaga Kerja Wanita Indonesia di beberapa negara yang mengalami penindasan dan bahkan penghancuran. Para perempuan ini mengalami penganiayaan dan mendapatkan pengabaian dari lingkungan dan bahkan negaranya sendiri. Beberapa di antaranya contohnya ialah Sumiati, Shamelin, dan Nirmala Boret yang harus mengalami kenyataan pahit dalam berperan sebagai perempuan pekerja.

Perempuan pekerja terpinggirkan karena penilaian masyarakat terhadap mereka harus dibakukan dalam moral sistem tata hukum yang menghendaki norma-norma tertentu bagi mereka. Para perempuan menjadi objek dari RUU-APP yang dibentuk oleh sebagian besar kaum laki-laki dan suara-suara anonim dari masyarakat umum yang berusaha untuk meletakkan kuasanya terhadap perempuan. Hal ini sepadan dengan ide Simone de Beauvoir yang mengkritik keras pandangan masyarakat atas perempuan. Seakan perempuan tidak dapat lagi melakukan pencarian The Self karena nilai dan pandangan atas perempuan tidak lagi dicapai dari kedalaman diri mereka sendiri melainkan melalui tradisi atau norma-norma lain yang ditentukan oleh sistem dan kultur maskulin. Dari penjelasan ini nampak bahwa perempuan merupakan Liyan dalam keseharian kita, bahkan menjadi Liyan bagi dirinya sendiri.

Penjelasan Riyanto ini kemudian dilengkapi oleh semangat para perempuan dalam epos-epos wayang seperti Dewi Kunti dan Dewi Utari yang menyuarakan diri mereka dalam societasnya. Dewi-dewi dalam pewayangan Jaw aini menarasikan keteguhan dan kesejatian The Self mereka melalui perannya dalam mempengaruhi takdir para tokoh satria laki-laki, baik para suami, anak, dan sanak mereka. Hal serupa juga ditunjukkan Riyanto melalui kisah mengenai Dewi Srikandi yang juga membuktikan dirinya di hadapan para satria sebagai satria perempuan yang tangkas dan berani. Narasi epos seperti Mahabarata serta Ramayana selalu menceritakan perempuan sebagai bagian dari The Self dan bukan Liyan yang terpinggirkan. Namun seiring dengan hilangnya kesadaran realitas manusia, kini para perempuan menempati posisi yang jauh dari lingkungannya sendiri.

Liyan sebagai “Orang Ketiga”

Berbicara mengenai posisi Liyan di tengah masyarakat, digambarkan bahwa mereka adalah siapa yang hadir sebagai orang ketiga. Seseorang merupakan Aku bagi dirinya sendiri dan Ia merupakan yang berhubungan dengan Aku, yang membentuk kesatuan sebagai Kita. Namun Liyan sebagaimana dijelaskan dalam dua bab sebelumnya tidak memiliki posisi yang seimbang. Liyan menjadi Mereka atau pihak yang jauh dan berbatas. Baik orang lain, para perempuan dan bahkan alam menjadi Liyan yang kian hari kian dijauhkan dalam posisinya di keseharian Aku.

Keterbatasan ini memiliki caranya sendiri agar Liyan tidak dapat berhubungan dengan Aku. Sebuah tindakan isolatif yang dibangun oleh para Aku agar dapat menekankan kuasanya atas berbagai hal. Riyanto menyebut batas ini sebagai zona isolatif. Zona ini diperkokoh dengan tafsir-tafsir yang sepihak atas agama, ideologi, dan bahkan ilmu pengetahuan. Agama, ideologi dan ilmu pengetahuan yang sejatinya hadir bagi kebahagiaan manusia justru diputarbalikkan sebagai senjata yang mengancam dan merendahkan manusia.

Liyan selanjutnya menjadi parameter nilai bagi lingkungannya. Disposisi Liyan mencari cermin bagi Aku atau Kita terhadap realitas yang sebenarnya. Keberadaan Liyan menjadi tolak ukur apakah Aku layak menjadi manusia yang seutuhnya atau hidup sebagai sebagian keutuhan di tengah kondisi banyak Liyan yang menderita. Liyan tidak dapat menjadi bahan untuk dikasihani karena hal tersebut sama dengan memosisikan Liyan sebagai objek. Oleh sebab itu, keberadaan Liyan harus menjadi parameter bagi kita untuk memahami dunia sekitar kita. Liyan merupakan jalan kita untuk melakukan perjalanan mencari kebenaran.

Wilhelminus Adso

Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Kota Malang.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email