Menu Close

Setapak Mengenal Ekofeminisme

Sebelum mengenal lebih jauh mengenai ekofeminisme, ada baiknya apabila kita mencoba memahami terlebih dahulu apa itu Ekologi dan apa itu Feminisme karena kata ‘ekofeminisme’ terbentuk dari dua istilah tersebut. Pada tahap selanjutnya kita akan mempelajari mengapa kedua istilah tersebut menyatu menjadi ekofeminisme. Dan pada akhirnya kita akan berusaha untuk menemukan alasan mengapa ekofeminisme harus menjadi aksiologi utama dalam pergerakan memperoleh kesejahteraan bersama. Dalam pembahasan ini, metode yang akan saya gunakan adalah metode berpikir kritis-etis.

Mengenal Ekologi dan Relasi Manusia-Alam

Ekologi adalah satu ilmu yang mempelajari mengenai ekosistem. Ekologi berusaha melakukan analisis dan usaha-usaha aplikatif dalam hubungan antara organisme dengan lingkungannya. Dengan kata lain, ekologi mempelajari ekosistem yang merupakan hubungan dan interaksi antara eksistensi biotik dan abiotik. Secara lebih detail lagi, ekologi merupakan ilmu yang berusaha menganalisis keberadaan dan keberlangsungan kualitas diversitas (keanekaragaman), persebaran (biomassa) dan kuantitas dari interaksi makhluk hidup (populasi).

Tantangan ekologi dalam konteks modern ini adalah ketidakseimbangan ekosistem karena diversitas yang terancam menyusut, persebaran massa dan energi yang tidak seimbang serta relasi-relasi yang timpang di antara populasi makhluk hidup. Fenomena ini dibuktikan melalui anomali alam, yaitu: kekeringan, banjir dan berbagai efek pemanasan global (global warming) lainnya. Bencana-bencana tersebut muncul karena upaya pengelolaan yang dilakukan manusia terhadap alam yang tidak sesuai dengan kemampuan alam itu sendiri. Dengan kata lain, manusia melakukan suatu praktik yang tidak tepat sehingga sistem alam mengalami kekacauan (chaos). Salah satu penyebab ketidakseimbangan ini disebabkan oleh sebagai “keterasingan manusia” atau alienasi[1] sebagaimana dijelaskan oleh Marx. Manusia selama ini, dalam sudut pandang Marx, memproduksi hubungan kesejarahannya dalam cara produksi alat-alat kehidupan. Alam begitu bermakna praktis bagi manusia misalnya sebagai hasil aktivitas kehidupan dan produksi alat-alat kehidupan. Pada tahap selanjutnya proses produksi yang terbentuk dari sistem kapitalisme mengasingkan manusia. Pengasingan ini adalah pengasingan manusia dari aktivitas kerjanya sendiri dan peran aktifnya dalam mentranformasi alam. Keterasingan semacam ini dijelaskan Marx sedemikian rupa, “Mengasingkan manusia dari badannya sendiri, dari alam sebagaimana alam tersebut berada di luar manusia, dari esensi spiritualnya, dari esensi kemanusiaannya.” Produk akhir dari alienasi ini adalah jarak yang terbentang sangat jauh antara manusia dan alam sebagai bagian dari hakikat hidupnya.

Manusia dalam tahap ini gagal memperlakukan alam sebagai satu bagian dalam sistem yang sama. Tidak ada hubungan interseksional antara alam dan manusia. Alam dijadikan objek yang secara “sah” dikelola oleh manusia hanya sebatas seberapa banyak alam dapat bermanfaat; suatu sudut pandang hegemonial dan pragmatis. Pada titik ini manusia sering kali lupa mengenai hubungan alam dan manusia yang sebenarnya. Pertanyaan ini dapat dijawab dalam epistemologi lingkungan hidup dengan merujuk pada penjelasan K. J. Warren dalam Ecofeminist Philosophy: A Western Perspective on What It Is and Why It Matters. Warren menjelaskan bahwa kesadaran tumbuh dari data-data empiris yang menyatakan bahwa fenomena alam semakin mendesak kita untuk menyadari opresi yang dialami baik oleh manusia (terutama alam) dan perempuan.

Feminisme dan Ekofeminisme

Feminisme adalah suatu konsep gerakan bagi laki-laki maupun perempuan untuk menentang kuasa sistem patriarki dalam kehidupan. Pada hakikatnya yang diperjuangkan oleh feminisme adalah kuasa dalam bentuk apapun yang menekan sistem sehingga berpihak pada penguasa itu sendiri. Sifat-sifat patriarki dikenal dalam bentuk pengutamaan laki-laki dalam pembentukan keputusan bersama, menomorduakan perempuan dalam struktur sosial dan berimbas pada penekanan-penenakan dan sistem yang tidak adil. Pada perkembangannya feminisme melahirkan berbagai jenis paham dan gerakan, sesuai dengan pendekatan dan objek-objek khusus yang dilawannya. Salah satu di antaranya merupakan Ekofeminisme. Apa yang diperjuangkan ekofeminisme adalah keseimbangan hubungan antara manusia dan alam di mana perempuan sebagai salah satu subjek mengambil perannya dalam pengingat dan penggugat ketidakadilan sistem.

Ekofeminisme lahir dari persatuan term antara ekologi dan feminisme. Persatuan ini lahir dari persatuan kesamaan nasib, sejarah dan sifat yang dapat dijabarkan dalam pendekatan kultural-linguistik. Menurut Bourdieu terdapat pembentukan lembaga-lembaga yang yang mereproduksi hierarki gender. Hal ini mempermudah manusia melakukan suatu analisis sejarah tentang konstansi-konstansi dan transformasi terhadap lembaga tersebut[2]. Lembaga-lembaga ini dapat berupa institusi linguistik serta pembentukannya. Dalam peradaban manusia, bahasa membagi kata benda (noun) dan kata sifat (adjective) ke dalam tiga kelompok gender, yaitu femininum, maskulinum dan neutrum. Contohnya mare (bahasa latin: laut), sophia (bahasa latin: kebijaksanaan), dan musica (bahasa latin: musik) merujuk kepada sifat feminin. Sementara itu rex (bahasa latin: raja), gladius (bahasa latin: pedang) bersifat maskulin. Pembagian-pembagian ini merupakan suatu penamaan fenomenologis yang didapat dari berbagai pengalaman manusia mengamati sifat dari suatu benda. Dalam mengkaji suatu aksiologi, pada akhirnya kita dapat menggunakan hal ini sebagai rujukan. Tentu saja pembagian ini tidak dapat kita gunakan secara mutlak mengingat perkembangan bahasa yang terus mereproduksi bahasa baru. Kembali dalam konteks Indonesia, kita juga memiliki pembagian tersebut dalam kaitannya dengan ekofeminisme.

Mengacu pada sejarah, Bourdieu menyatakan bahwa perubahan kondisi feminin selalu menaati logika model pembagian kerja secara tradisional yang membedakan segala hal berdasarkan sifat maskulin dan feminin. Konstruksi ini merupakan konstruksi peradaban yang terlahir bersamaan dengan bahasa. Tentu saja kritik lebih lanjut dapat menganalisis bagaimana bahasa dapat secara adil – atau tidak adil – membedakan sifat-sifat tersebut. Ekofeminisme dalam beberapa bagian menerima kategori sifat ini. Dalam Dominasi Maskulin Bourdieu menjelaskan bahwa laki-laki selalu mendominasi ruang publik dan lapangan kekuasaan (terutama kekuasaan ekonomi atas produksi). Sementara perempuan tetap ditempatkan di ruang pribadi (rumah, tempat produksi). Pada titik ini perempuan menemukan hubungannya dengan alam, dengan pengenalan dan pengolahan akan lingkungan domus­-nya. Peradaban selanjutnya mengindikasikan alam dengan kesamaan-kesamaan reproduksional misalnya mother earth (ibu bumi), pertiwi, dan sebagainya. Demikian Soekarno menggambarkan betapa dekatnya kuasa dan pengelolaan lahan awalnya diperankan oleh perempuan. Pada zaman purba perempuan merupakan penentu dalam pengelolaan lahan dan alam yang ditujukan bagi kebutuhan keluarga atau koloninya[3]. Oleh sebab itu Bourdieu berusaha menyimpulkan bahwa struktur lama dalam pembagian kerja yang telah dijelaskan di atas tampaknya masih menentukan arah dan pembentukan perubahan-perubahan[4].

Di antara alam dan wanita, yang tumbuh bersama dan mengalami opresi. Opresi ini berasal dari tindak-tindak patriarkis seperti hegemoni, persekusi, sub-ordinasi,  penindasan hingga konsep-konsep tirani sosial seperti fasisme dan lain sebagainya. Koneksi internal antara manusia (perempuan) dan alam terdapat pada kesamaan nasib, dan bukan saling membutuhkan (alam akan berada sedemikian rupa tanpa pengelolaan dari manusia). Pada hakikatnya manusia dan alam adalah sama yaitu sebagai suatu eksistensi, hal yang dipercaya sebagai ciptaan. Konsep antromorfisme, kosmos besar-kosmos kecil lahir dari kesadaran bahwa manusia memiliki kesamaan dengan alam. Namun kita harus menghindari penyamaan keduanya sebagai suatu “ada” yang tunggal dalam konsep esensialisme. Keberadaan dapat menjadi suatu kesatuan namun tidak merupakan “ada” yang satu. Bahaya esensialisme terletak pada konsekuensinya yang menyatakan bahwa ada yang tunggal juga meliputi ketunggalan sifat dan karakter (keunikan). Manusia dan alam menjadi satu dalam hubungan interkoneksi, bukan keberadaan tunggal. Terdapat kesamaan namun juga perbedaan yang jauh lebih banyak dibandingkan kesamaan tersebut.

Seperti yang telah dijelaskan di atas. Manusia mengalami aliensi sehingga tidak mampu mengenali diri dan alamnya, apalagi menata dengan adil hubungan di antara keduanya. Oleh sebab itu, perlu diadakan sebuah ‘dialog’ antara manusia dengan dirinya sendiri[5]. Hal ini dinyatakan Armada sebagai berlakunya prinsip masuk akal manusiawi dalam kehidupan sehari-hari. Konsep dialogal adalah pertemuan pemahaman antara diri manusia dan ide-ide lain di luar dirinya, termasuk fakta dan segala perihal yang terjadi pada dirinya. Hal ini berlaku pada pertemuan – dialog – kesadaran perempuan sebagai dirinya dan pertemuannya dengan alam, yang dalam prosesnya melahirkan perjuangan ekofeminisme.

Kembali pada konsep ekofeminisme awal, Francoise D’Eaubonne seorang sastrawan dan aktivis adalah orang yang diketahui pertama kali mengungkapkan kata ekofeminisme dalam bukunya La Feminisme ou La Mort (feminisme atau kematian). Perkembangan feminisme kepada ekofeminisme merupakan konsekuensi dari kesadaran yang kian meluas atas opresi yang terjadi kepada keduanya. Apa itu opresi? Opresi adalah tindakan kekerasan ketika satu pihak ditekan dan seketika itu juga ia tidak memiliki pilihan lain. Perempuan-perempuan Indonesia selama ini bekerja di sawah, menanam bibit, menjual hasil bumi, memintal serat, menenun kain, mengelola hasil bumi dan lahan yang menjadi domus serta modal utama baginya. Melalui kerakusan sistem kapital, tanah-tanah ini diambil alih, dijauhkan dari perempuan, dikeringkan dan dirombak menjadi objek infrastruktur-infrastruktur atas nama pembangunan.

Menghadapi kondisi demikian itu, perjuangan tidak boleh hanya dilakukan demi diri sendiri namun juga untuk sesuatu yang lebih luas. Kesadaran perempuan akan kesamaannya dengan alam tidak lepas dari konstruksi peradaban yang selama ini meletakkan alam dan perempuan dalam tataran terendah dalam hierarki. Alam dan perempuan dengan segala kesamaan sifat yaitu dalam potensi maternitasnya. Baik alam dan perempuan mampu “memproduksi” modal yang kemudian dikuasai oleh sistem patriarkal. Suatu tindakan yang didasari dari objektivasi. Pelaku sistem patrialkal (baik laki-laki maupun perempuan[6]) melihat alam dan perempuan seperti objek yang dapat ditata sedemikian rupa demi kebutuhan pragmatis. Kesamaan alam dengan perempuan dalam ketertindasan adalah: opresi, eksploitasi, beban ganda (diambil terus menerus dan saat yang bersamaan harus menghasilkan), ditentukan nasibnya (dijauhkan dari natura atau kodratnya), alienasi dan terhegemoni. Kesamaan sifat dan nasib inilah yang kemudian menjadi tumpuan utama dalam ekofeminisme untuk terus memperjuangkan keadilan dalam sistem. Ekofeminisme tidak lagi memperjuangkan struktur sosial atau kekerasan semata. Ekofeminisme memiliki tugas besar dalam pengentasan permasalahan ekologi dan gender. Ekofeminisme menjadikan perjuangan alam, kelas dan gender menjadi satu hal yang terintegrasi.

Perbedaan perempuan dan alam adalah hanya pada cara keduanya merespon opresi yang dialami. Alam rusak dan dengan sendirinya menyebabkan kerusakan secara langsung kepada manusia. Alam yang terlalu lama menerima tekanan akan melawan dengan cara natural, yaitu bentuk ketidakseimbangan alam. Sementara perempuan mempunyai kesempatan untuk mengubah kondisi melalui rasio, energi dan keberadaannya sebagai ciptaan yang aktif. Perlawanan yang natural pada gerakan ekofeminisme adalah munculnya kesadaran akan tekanan yang dilakukan sistem patriarki. Karena kompleksitas tugas perubahan yang diupayakan dalam ekofeminisme, maka yang harus dilakukan merupakan suatu usaha integral dari beragam studi dan pendekatan.


[1] Foster, John Bellamy. Ekologi Marx. Jakarta: WALHI, 2013. Hlm. 77.

[2] Bourdieu, Pierre. Dominasi Maskulin. Yogyakarta: Jalasutra, 2010. Hlm. 124.

[3] Soekarno, Dr. Ir., Sarinah., Jakarta: Jajasan Pembangunan Djakarta, 1951. Hlm. 90.

[4] Bourdieu. Op. Cit. Hlm. 132.

[5] Riyanto, Armada. Aku dan Liyan. Malang: Widya Sasana Publication, 2011. Hlm. 18.

[6] Kita tidak dapat menutup mata bahwa pada kenyatannya perempuan pun dapat menjadi salah satu pelaku sistem patriarkal. Oleh sebab itu lahir aliran-aliran feminisme lainnya seperti ecofashion dan anarchfem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.