Fenomena Black Lives sebagai Matter di Negeri Paman Sam

Isu-isu krusial yang paling mencuat terpusatkan pada masalah pelanggaran polisi. Langkah ini cukup efektif untuk membidik kasus-kasus pelanggaran besar.
WhatsApp Image 2020-06-09 at 12.08.38

Detail kronologi pembekukan brutal terhadap George Floyd dapat diakses di berbagai media. Ringkasnya, insiden Minneapolis yang melibatkan oknum petugas kepolisian setempat menuai sorotan publik. Hingga dipublikasinya tulisan ini aksi demonstrasi dan berbagai kecaman belum juga mereda. Amukan massa menjadi sedemikian parah sebab persoalan ini menyangkut sentimen ras, yang tentunya isu rasial tersebut tidak hanya dialami oleh warga kulit hitam Amerika saja, tetapi juga dianggap sebagai krisis bersama.

Tuntutan keadilan untuk Floyd kemudian disuarakan di berbagai daerah sebagai bentuk keresahan publik melalui tagar #blackouttuesday dan yang semacamnya di berbagai platform media sosial. Dengan ini Black Lives Matter (BLM) mendapatkan momentumnya kembali.

Gerakan BLM secara resmi digaungkan pada 13 Juli 2013 oleh Patrisse Cullors, Alicia Garza, dan Opal Tometi. Ketiganya merupakan aktivis kenamaan dengan sekian reputasi. Menurut keterangan dari jurnal Research in Social Movements, Conflicts and Change terbitan Emerald, para inisiator gerakan ini sengaja membingkai narasi terhadap ketidakadilan yang diderita oleh komunitas kulit hitam. Sehingga penekanannya menjadi lebih tegas dan eksklusif dari semisal disebut gerakan All Lives Matter.

Pilihan strategi BLM tepat ketika memulainya dari gerakan tagar Twitter. Aktualitas BLM semakin meningkat dan telah berevolusi menjadi salah satu alternatif ampuh bagi kelumpuhan politik dan isolasi yang dihadapi para pendukung keadilan rasial semenjak terpilihnya Obama sebagai presiden. Dalam kurun waktu dua tahun gerakan muda ini mampu menghidupkan kembali politik konfrontasi, menyuarakan kemarahan dengan cara-cara populis dan progresif, serta menumpukan pondasi baru perlawanan di level akar rumput.

Isu-isu krusial yang paling mencuat terpusatkan pada masalah pelanggaran polisi. Langkah ini cukup efektif untuk membidik kasus-kasus pelanggaran besar. Kematian Trayvon Martin, Michael Brown, Eric Garner, Tamir Rice, Freddie Grey, Alton Sterling, Philando Castile, dan banyak lainnya memiliki signifikansi terhadap dampak dari rasisme sistemik yang terjadi. Sebagai institusi negara, kebrutalan polisi—seperti dialami oleh banyak warga kulit hitam—dianggap cukup merepresentasikan bagaimana sistem sosial dan negara memperlakukan segolongan ras secara berbeda.

Namun bukan berarti kerangka pikir gerakan BLM adalah semata memerangi cara-cara polisi menindak. Melampaui itu, BLM terus digemakan sebagai kritik atas ketimpangan struktural dan diskriminasi terhadap masyarakat kulit hitam yang selama ini menempati posisi di bawah White Supremacy. Para inisiator mempromosikan BLM untuk menyeru sekali lagi pada dunia bahwa kehidupan masyarakat kulit hitam adalah juga ‘sesuatu’ yang sama berharga dengan nilai kemanusiaan apapun lainnya. Penggunaan Twitter dan tagar #BlackLivesMatter memberi jalan mobilisasi baru di era media sosial yang didukung kemajuan teknologi. Kampanye semacam ini terbukti menginspirasi banyak gerakan politik di seluruh dunia. Kita bisa melihat inilah strategi yang dimainkan elektoral AS dan bahkan di Indonesia kemudian hari.

Sebab muatannya tidak melulu perihal kebrutalan polisi, bahkan merambah juga pada pertimbangan historis, ketimpangan struktural dan resistensi kesetaraan, maka BLM juga diasosiasikan dengan gerakan feminis. Kemungkinan tersebut tidak musti didukung oleh fakta bahwa penggerak mulanya adalah para aktivis perempuan, akan tetapi memanglah hal yang lumrah jika sejumlah kepentingan publik saling berkelindan (intertwined). Pun jika persinggungannya mengerucut pada titik temu dominasi, diskriminasi atau segala bentuk penindasan sistematis maka usulan Kimberlé Crenshaw tentang interseksionalitas patut dipertimbangkan.

Alternatif pembacaan lain bisa juga ditilik dari taktik progresif dalam tubuh kolektif masyarakat Amerika sendiri: BLM di sana mengambil bentuk sebagai ‘gelombang lanjutan’ dari Civil Rights Movement (CRM) yang kehilangan daya pikatnya menjelang akhir 1960-an. Dalam pengertian lain, BLM merupakan pembingkaian kembali (reframing) yang diharapkan dapat memandu seperti apa dan dengan pihak-pihak mana gerakan ini kemudian berkembang dalam siklusnya.

Psikologi sosial—sebagai satu disiplin—menempuh sekian upaya agar suatu karakteristik, dinamika atau siklus sosial yang dijiwai oleh kehendak kolektif dapat dikonfigurasi ulang. Dengan paradigma ini, pertanyaan yang muncul apakah CRM-BLM secara esensial adalah sama dan akan mengalami nasib serupa?

Sejauh ini BLM cukup bersikeras menciptakan model kepemimpinan dalam kelompok yang berakar pada ide-ide demokrasi partisipatif. BLM agaknya menghindari ketergantungan pada sistem kepemimpinan hierarkis dan gender yang mengganggu sejumlah organisasi hak-hak sipil era 1960-1970-an. Frederick Harris (2015) mengemukakan, “They are rejecting the charismatic leadership model that has dominated Black politics for the past half century, and for good reason.” Dengan demikian daya dobrak dapat lebih dikonsentrasikan pada framing yang memiliki karakteristik intentionally intersectional. Hal tersebut memungkinkan gerakan ini berfokus pada pendekatan yang lebih radikal untuk mencapai pembebasan kulit hitam dalam arti luas.

CRM merupakan inklusi. Dalam skema tradisionalnya, orang-orang kulit putih berada dalam arus utama. Pemuka seperti Martin Luther King Jr. dan yang lainnya menekan perlunya orang-orang kulit hitam menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial saat ini sehingga mereka dianggap layak oleh orang kulit putih untuk diterima masuk ke dalam struktur masyarakat multirasial. Tendensi konformitas ini mengarah pada ideologi patriarkal dan tidak lagi organik untuk menjadi kesatuan sosial yang hetero-normatif. Dalam banyak hal, misalnya perempuan atau homoseksual, masih dipandang sebelah mata dan tidak mendapat penerimaan penuh oleh para petinggi CRM.

Gerakan BLM dimaksudkan sebaliknya, diarahkan pada penghancuran relasi-relasi yang dinilai merugikan dengan mengangkat anggota masyarakat yang pada era CRM sebelumnya dianggap menyimpang. Dewasa atau anak-anak; entah ia bebas atau dipenjara; pria atau wanita; cis, queer, atau trans; warga negara dengan atau tanpa dokumen lengkap—tidak semerta dapat diperlakukan secara tidak adil hanya karena ia berkulit hitam.

Melalui beberapa cara, BLM memobilisasi sejumlah besar orang kulit hitam di seluruh negara bagian. Adapun tindakan tersebut, sebagaimana dikutip dari A HerStory (2017), mengambil bentuk-bentuk semisal demonstrasi, pertemuan balai kota, konferensi dengan pejabat terpilih, kampanye untuk reformasi legislatif, boikot dan juga metode protes lainnya. Tujuannya adalah untuk memerangi rasisme anti-Hitam, mendorong dialog di antara orang-orang hitam dan mendorong aksi dan keterlibatan sosial.

Sampai di sini dapat ditarik satu indikasi bahwa BLM menjauh dari kerangka tradisional CRM. BLM kini telah merangkul bagian-bagian dari gerakan pembebasan kulit hitam dalam seruan langsung pada kontrol masyarakat, artinya bukan hanya integrasi ke dalam struktur kekuasaan yang mapan. BLM mendesak adanya perubahan di hampir setiap domain masyarakat seperti lingkungan kerja, pendidikan, regulasi kesehatan, sistem peradilan dan utamanya kepolisian.

Namun yang menjadi sorotan belakangan ini adalah manifestasi gerakannya. Semua tahu kegeraman publik membuncah setelah beredar foto-foto George Floyd di media sosial. Video berdurasi 8 menit 46 detik yang dimuat The New York Times merekonstruksi rekaman CCTV dan juga video dari para saksi. Era ini diprediksikan sejak lama oleh Gustave Le Bon (1913) ketika ia menyebut metode publisitas modern dengan kemajuan transmisi dan keunggulannya menunjang kecepatan penularan mental menjadi revolusi atau perubahan instan. Gejala revolusi mulai terasa dengan adanya aksi protes di kota-kota besar seperti LA, Minneapolis, California, dan Brooklyn yang berbuntut kerusuhan dan vandalisme. Bentrok terjadi antara petugas keamanan dan para demonstran. Penjarahan turut mewarnai chaos. Toko-toko besar pusat perbelanjaan seperti Gucci, Luis Vuitton, Nike, bahkan 50 mobil yang menjadi display salah satu dealer di California juga ludes dijarah massa. Ini merupakan bagian tak terpisahkan dari cara di mana protes dan koping massa aktif lainnya mendapat objek pemenuhan, atau dapat juga dipandang sebagai dinamika sosial dan psikologis yang beroperasi dalam masyarakat dan individu yang membentuknya, yakni masyarakat ekonomi kapitalistik.

Sulit menjamin pemahaman yang pasti mengenai bagaimana hal itu dapat terjadi di negara maju yang memiliki stabilitas mapan dan kelenturan cara berpikir. Tapi justru Le Bon menjelaskan: “Bangsa Romawi di zaman kuno dan Bangsa Inggris di zaman modern dapat dikutip oleh mereka yang telah mencapai stabilitas atau keseimbangan dengan paling baik. Individu yang pikirannya paling tetap dan mapan seringkali menciptakan revolusi yang paling kejam.”

Analisis Le Bon tentang gerombolan (mobs) dan gerakan (movements) menunjukkan ketertarikannya pada kelompok-kelompok besar yang cenderung meledak menjadi kekerasan. Karena bias ini pula Le Bon menyimpulkan bahwa kerumunan orang bisa—dalam kasus tertentu—menjadi entitas yang bersatu yang bertindak seolah-olah dibimbing oleh pikiran kolektif tunggal. “Siapa pun individu yang menyusunnya, betapapun menyenangkan cara hidup mereka, pekerjaan mereka, karakter mereka, atau kecerdasan mereka,” kata Le Bon, “Fakta bahwa mereka telah diubah menjadi kerumunan membuat mereka memiliki semacam pikiran kolektif sehingga mereka merasakan, berpikir, dan bertindak dengan cara yang sangat berbeda dari ketika ia berada dalam keadaan terisolasi.” (The Crowd, 1895/1960)

Dalam konteks menjelaskan entitas populer dan elemen pembentuknya, Le Bon memberi pernyataan menarik juga. “Penambahan unsur-unsur yang direkrut dari ampas terendah rakyat dilakukan dengan penularan: kumpulan pengangguran dan orang yang tak peduli dapat dengan mudah ditarik ke dalam gerakan tersebut. Mereka berteriak karena ada orang lain yang berteriak dan memberontak karena ada pemberontakan, tanpa tahu sama sekali penyebab teriakan dan revolusi Kekuatan sugesti dari lingkungan dapat menghipnotis dan mendorong mereka beraksi.

Anggota kerumunan (crowd) bergerak simultan pada satu arah dan jenis perilaku umum yang identik. Sedangkan masa yang tersebar sedikit berbeda dalam bentuknya yang disebut collective dynamics. Meskipun tidak berinteraksi dalam pengaturan tatap muka, tidak pula bertindak dengan cara yang sama untuk mencapai tujuan bersama—perilaku kolektif bergerak ke arah yang sama. Persebaran aksi BLM dapat pula ditinjau sebagaimana dinamika kelompok yang dikerangkakan psikologi modern yang bersifat eksperimental. Sejumlah jawaban telah diusul sebagai bahan pertimbangan, mulai dari aspek perilaku kolektif (collective behavior), teori konvergensi, deindividuasi (loss of identity) yang berbeda, termasuk mekanisme motivasi, interpretasi normatif (emergent norm theory), kolektif dan identitas sosial.

Suatu kolektif cenderung menjadi kelompok terbuka dan mereka tidak memiliki standar untuk mendefinisikan keanggotaan, juga tidak mengadopsi strategi operasional ataupun struktural. Keunggulan gerakan massa yang lahir dari dinamika kolektif ini adalah sebab mereka tidak memiliki penanggungjawab atau pemimpin yang jelas. Dan sulit meredam ini tanpa melalui jalan negosiasi.

Sebagai penutup, fenomena BLM yang berujung pada kericuhan aksi demonstrasi dan bahkan penjarahan dapat dilihat sebagai ekspresi dari kekuatan massa. Bolehlah Floyd atau warga kulit hitam lain yang tak bersenjata ditekuklututkan saat berhadapan dengan polisi. Tapi kali ini warga yang merusuh ingin merasakan pula, barang sejenak, bagaimana sensasinya ketika lebih kuat dari aparat.

Daftar Rujukan

Clark, A. D., Dantzler, P. A., & Nickels, A. E. (2018). Black Lives Matter: (Re)Framing the Next Wave of Black Liberation. Research in Social Movements, Conflicts and Change, 145-172. doi:10.1108/s0163-786×20180000042006

Rickford, R. (2015). Black Lives Matter. New Labor Forum, 25(1), 34-42. doi:10.1177/1095796015620171

Forsyth, D. R. (2014). Group dynamics. Belmont, CA, USA: Wadsworth Cengage Learning.

Bon, G. L. (2002). The crowd: A study of the popular mind. Mineola, NY, USA: Dover Publications.

Bon, G. L. (2017). Psikologi Revolusi. Yogyakarta, INA: Forum.

Our Co-Founders. (2019, September 07). Retrieved June 07, 2020, from https://blacklivesmatter.com/our-co-founders/

Kronologi Kematian George Floyd yang Jadi Penyebab Demo di AS. (n.d.). Retrieved June 07, 2020, from https://tirto.id/kronologi-kematian-george-floyd-yang-jadi-penyebab-demo-di-as-fEyQ

Cheung, H. (1970, June 02). George Floyd: Mengapa demonstrasi damai memprotes kematian George Floyd bisa berubah menjadi kerusuhan. Retrieved June 07, 2020, from https://www.bbc.com/indonesia/dunia-52887527

Hill, E., Tiefenthäler, A., Triebert, C., Jordan, D., Willis, H., & Stein, R. (2020, June 01). 8 Minutes and 46 Seconds: How George Floyd Was Killed in Police Custody. Retrieved June 07, 2020, from https://www.nytimes.com/video/us/100000007159353/george-floyd-arrest-death-video.html Taylor, D. (2020, May 30). George Floyd Protests: A Timeline. Retrieved June 07, 2020, from https://www.nytimes.com/article/george-floyd-protests-timeline.html

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email