Teknologi adalah hasil dari jerih payah manusia setelah melalui banyak pengalaman. Teknologi diciptakan sebagai bentuk kreativitas dan aktualisasi keterampilan serta kecerdasan manusia dalam menghadapi hidupnya. Semakin tinggi tingkat kecerdasan manusia, maka semakin maju pula teknologi yang diciptakannya. Abad ke-15 menjadi langkah awal kelahiran teknologi baru peradaban manusia ditandai dengan pemakaian bubuk mesiu dan mesin cetak. Dengan adanya alat tersebut, manusia mulai secara bebas mengekspresikan kehendaknya. Hal ini nampak semakin jelas ketika penggunaan teknologi mulai memasuki era revolusi industri. Era ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin eksis dengan menciptakan teknologi untuk memenuhi kebutuhannya, serta untuk meningkatkan taraf hidup sosial masyarakatnya.
Dilema Teknologi dalam Manusia Modern
Era revolusi industri berkembang dari tahun ke tahun per periodisasi. Periode revolusi industri 1.0 (tahun 1760-1840) ditandai dengan penciptaan teknologi dalam dunia tekstil, seperti mesin uap, alat pemintal, alat tenun, serta penggunaan bijih besi untuk komponen industri. Era revolusi industri 2.0 (tahun 1850-1914) ditandai dengan kesanggupan dalam mengelola minyak dan baja, penemuan dan penggunaan listrik, alat transportasi, dan alat-alat komunikasi. Era revolusi industri 3.0 (tahun 1950-2000-an awal) ditandai dengan kemajuan teknologi digital, komputer, dan internet. Sampai pada era sekarang, revolusi industri 4.0 ditandai dengan kemajuan mutakhir pada bidang teknologi digital, pengolahan data, teknologi robot, kecerdasan artifisial, nanoteknologi, komputasi, neuroteknologi, bioteknologi, Internet of Things (IoT), percetakan 3D, penggunaan Bitcoin, serta kendaraan otonom (Driverless Cars). Dari periodesasi revolusi industri yang telah disebutkan di atas, kita dapat memahaminya bahwa teknologi memberi kemudahan untuk mengakses kebutuhan manusia. Teknologi mendominasi kehidupan manusia dari seluruh aspek kebutuhan, bukan hanya sebagai alat bantu tapi juga ikut berkontribusi membentuk dinamika kehidupan sosial masyarakat.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa teknologi memberi manfaat besar bagi manusia dalam membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, dalam teori kritis mengungkapkan bahwa tanpa disadari pada pemanfaatan teknologi yang masif menghilangkan kesadaran manusia akan dominasi teknologi terhadap manusia itu sendiri. Dominasi teknologi dibantu oleh sistem ekonomi kapitalis yang memberikan ruang besar kepada teknologi agar sebisa mungkin harus dipakai oleh manusia. Seperti pada pabrik-pabrik industri yang menggunakan mesin, mau tidak mau para pekerja seolah-olah dipaksa untuk memakainya. Kondisi mekanis ini menjadi syarat wajib untuk meningkatkan produksi industri. Tanpa disadari, melalui teori kritis, pemaknaan teknologi yang kaku (hanya untuk kepentingan produksi) ternyata mendominasi rasio manusia, kemudian hal ini menyebabkan dilema pemaknaan teknologi sebagai ciptaan manusia. Meskipun teknologi diciptakan oleh manusia, tapi justru mereduksi kemampuan manusia dalam fenomena di lapangan. Manusia yang seharusnya menyelesaikan masalah kehidupannya, mulai bergeser dan diambil alih oleh teknologi.
Dominasi teknologi dalam kehidupan manusia menjadi sistem baru sebagai bagian dari struktur sosial tanpa disadari. Manusia tidak lagi menganggap teknologi sebagai objek alat bantu, tapi lebih kepada subjek yang bergerak sesuai keinginannya sendiri. Ini yang kemudian menyebabkan ketergantungan. Ketergantungan hadir dalam tujuan mempersingkat, mempermudah dan membuatnya menjadi lebih praktis. Hal inilah yang kemudian disebut oleh teori kritis Herbert Marcuse sebagai Otomatisasi. Otomatisasi membuat pengaturan pada manusia seolah diprogram untuk mengikuti cara kerja mesin. Persoalan ini lah yang menjadi masalah karena hakikat manusia yang berakal budi dibenturkan dengan cara kerja mesin yang otomatis. Selain itu, fenomena ini melawan kebebasan (freedom) manusia yang ditakdirkan untuk bisa berkembang. Ketergantungan pemanfaatan teknologi seakan-akan memasung kebebasan manusia karena manusia dikontrol dan dibekukan pikirannya agar tunduk pada teknologi. Dampaknya adalah rasa emansipasi akan humanitas semakin merosot hilang. Maka, ini perlu disadari bersama bahwa ada bias yang sebenarnya menyelimuti manfaat teknologi.
Wujud penindasan yang muncul dalam masyarakat modern telah berganti dengan bersifat sangat halus dan samar sehingga kaum yang tertindas cenderung menganggapnya sebagai sesuatu yang normal. Karena itu Teori Kritis tidak hanya fokus kepada benar atau salah suatu fakta atau realitas sosial di dalam masyarakat, namun melalui visi emansipatorisnya. Teori Kritis berupaya untuk mengembalikan otonomi subjek, yakni membebaskan manusia dari hegemoni struktural yang bersifat menindas, dengan cara membangun perspektif dan kesadaran kritis masyarakat tentang bagaimana kepercayaan ideologis masyarakat telah membentuk realitas sosial tersebut. Bagi Teori Kritis, cita-cita akan keadilan sosial mustahil untuk dapat dicapai tanpa melibatkan kesadaran masyarakat yang tertindas untuk terlibat dalam aksi refleksi kritis dan praktis dari dominasi eksternal yang terselubung. Bagi manusia, apabila hal ini dibiarkan akan menjadi polemik yang senantiasa bertransfomasi dari hari ke hari. Masyarakat seolah-olah dibisukan dan tidak berdaya dihadapan realita tersebut.
Media Sosial Sebagai Budaya Baru
Media sosial adalah produk teknologi dalam bidang komunikasi modern. Alat-alat media komunikasi yang semula masih terhubung melalui kabel (seperti telepon kabel) maupun media cetak yang konvensional, kini bisa dinikmati dengan alat yang lebih praktis hanya dengan melihat layar monitor yang semakin canggih. Kemajuan ini mempermudah penggunaan alat-alat tersebut tanpa terbatas pada ruang dan waktu. Melalui telepon genggam, komputer tablet, hingga layar monitor besar orang dengan mudah berkomunikasi dengan keluarga, teman, dan sanak saudara ataupun bisa update informasi aktual dan faktual. Kita tidak lagi menunggu waktu yang lama untuk berkirim pesan, kita tidak lagi menunggu informasi terbaru di luar daerah datang dengan lama. Tidak diragukan lagi, perkembangan ini mempercepat pekerjaan manusia sekaligus menghemat waktu. Akan tetapi, fungsi komunikasi dalam media informasi mulai bertambah seiring dengan berkembangnya media sosial itu sendiri.
Jika berbicara penambahan fungsi media sosial, kita akan bersinggungan dengan dua nilai penting yakni nilai budaya dan nilai ideologi. Nilai budaya terbentuk berdasarkan bagaimana media sosial memberitakan sesuatu dan bagaimana media sosial itu sendiri membuat pola beranda media. Informasi yang banyak sekali muncul di laman media sosial mengaburkan informasi yang terverifikasi. Dengan kebebasan berekspresi yang bisa disampaikan secara langsung di media sosial, masyarakat bebas menyampaikan apa yang ingin disampaikan di dalamnya. Apalagi banyak kepentingan yang turut hadir meramaikannya dan masyarakat yang masih rendah dalam literasi digital menyebabkan budaya saling tuduh dan saling hina demi menjaga harga diri pada apa yang menurutnya dianggap benar. Nilai-nilai budaya semacam ini membentuk ideologi yang kemudian terkonstruk dalam realita kehidupan. Akibatnya, apabila banyak yang masih kurang dalam mengkonsumsi informasi yang terverifikasi dari sumbernya dan banyak yang masih belum teredukasi tentang bagaimana mengkonsumsi berita yang baik dan benar akan menyebabkan disintegrasi dan degradasi moral. Pastinya hal seperti ini telah bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Selain persoalan simpang siur informasi ada masalah yang lebih serius, yakni persoalan media sosial dalam membentuk realitas palsu.
Kebaruan Realitas
Realitas palsu yang dimaksud adalah ketika media sosial mencoba menawarkan iklan untuk suatu produk industri. Sebut saja ada sebuah baju yang diiklankan oleh media sosial. Berhubung yang mempromosikan adalah seorang tokoh publik atau seorang aktor menyebabkan harga yang ditawarkan pun cukup mahal. Kisah lain kemudian banyak para masyarakat kelas atas membeli produk tersebut. Maka, ini akan menjadi suatu trend yang menggiring publik untuk berasumsi bahwa produk tersebut adalah produk yang mewah. Ada praktik yang tersembunyi di balik fenomena tersebut, yakni praktik dari peran kapitalisme. Kapitalisasi pada industri media sosial membuat nuansa baru dalam dunia konsumsi industri. Rasionalisasi yang dilakukan oleh media sosial melalui kapitalisme menyeragamkan kesadaran manusia melalui kebutuhan-kebutuhan palsu. Sebagaimana yang disampaikan Baudrillard, seorang filsuf postmodern, bahwa masyarakat dalam kapitalisme yang memiliki nilai-guna dan nilai-tukar dikalahkan oleh nilai baru, yakni nilai-tanda dan nilai-simbol. Dalam hal ini, perhatian utama diarahkan pada tanda, citra, dan sistem tanda bukan terletak pada manfaat komoditi. Di samping itu, masyarakat justru lebih mementingkan makna tanda dari pada kegunaan. Melalui konsumsi tanda, selera manusia diatur secara kolektif.
Meta narasi universal dalam paradigma komunikasi media pada suatu saat menimbulkan penyederhanaan pengalaman manusia yang bersifat tentatif. Di lain waktu, meta narasi universal dalam paradigma komunikasi menimbulkan rezim otoriter dalam menentukan kebenaran yang bisa sangat bersifat manipulatif, yakni dikontrol oleh kapitalisme. Rezim otoriter ini menimbulkan masalah dogmatis dalam ilmu pengetahuan yang pada akhirnya mengakibatkan krisis epistemologis terutama dalam pendekatan rasional pada pengalaman manusia yang disebut dengan komunikasi. Seluruh aktivitas dan pemaknaan simbolik dapat dilakukan dalam teks media massa (teks bukan hanya berbentuk tulisan, tapi seluruh aktivitas media yang bisa dicerna oleh inderawi). Pada dasarnya teks media sosial bukan realitas yang bebas nilai. Pada titik kesadaran manusia lah teks selalu memuat kepentingan. Teks pada prinsipnya telah berwujud sebagai realitas yang memihak. Tentu saja teks dimanfaatkan untuk memenangkan pertarungan ide, pasar, kepentingan, atau ideologi kelas tertentu.
Dalam menghadapi realita baru di masa era teknologi industri, kita patut berbekal banyak untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai macam gejolak hiperealitas. Teknologi sebagai hasil kerja keras manusia sebagai alat dalam membantu pekerjaan tidak sepatutnya dikontrol semua oleh teknologi, tapi harus menyisihkan ruang supaya hakikat manusia sebagai makhluk yang rasional dan emansipatif tetap terjaga. Bukan seharusnya teknologi mendominasi dunia manusia secara keseluruhan. Manusia sebagai intelektual pun harus sadar akan kondisi-kondisi tersembunyi dibalik seluruh ciptaannya. Kondisi-kondisi terselubung yang memungkinkan mengambil alih kehidupan manusia harus secepatnya dijegal. Memang ada manfaat yang besar bahwa teknologi hingga media sosial memberikan kenyamanan, tapi jangan sampai kenyamanan tersebut membunuh ideologi yang berdasar pada emansipasi.
Daftar Pustaka
Damayanthi, V. (2008). Proses Industrialisasi di Indonesia dalam Perspektif Ekonomi Politik”, dalam Journal of Indonesian Applied Economics. Journal of Indonesian Applied Economics, Vol. 2, No. 1.
Haryatmoko. (2016). Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis. Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius.
Karman. (2014). Media Sosial: Antara Kebebasan dan Eksploitasi. Jurnal Studi Komunikasi dan Media, Vol. 18, No. 1.Winarso, K. (2020). Dominasi Teknologi dan Kapitalisme (Perspektif Teori Kritis Herbert Marcuse). Forum Filsafat dan Teologi, Vol. 49, No. 2.

Arkan Labib Afkari
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang






Berikan komentar