fbpx

Memahami Konflik Identitas Dan Problem Rasionalitas

Upaya-upaya rasionalisasi yang sering kita temui dalam gagasan, ideologi, ajaran, doktrin, bahkan yang bersifat paling relijius sekali pun seringkali memiliki motif tersembunyi.
Immanuel Levinas

Jauh sebelum ramainya isu tentang politik identitas di berbagai sudut dunia akhir-akhir ini. Lebih dari enam juta orang yahudi, mati di tangan Nazi. Dalam sejarah negara ini, hampir dua juta orang mati saat insiden 30 September Tahun 1965. Belum lagi peristiwa-peristiwa yang lain seperti Tanjung Priok 1984 dan Kerusuhan Mei 1998. Silahkan memperdebatkan jumlah korban, tapi penulis memutuskan untuk tidak terlibat pada perdebatan yang tidak berfaedah itu. Terlepas dari angka statistik tentang jumlah korban, mereka semua adalah manusia yang memiliki keluarga, harapan, dan cita-cita. Bagi yang melihat dari luar, mungkin tidak akan terlalu terasa dampaknya. Namun bagi keluarga korban atau korban yang selamat dari kejadian tersebut, akan menjadi mimpi buruk yang tak pernah ada habisnya.

            Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, sebagian besar korban adalah mereka yang dianggap yang-lain (other). Mereka diperlakukan tidak seperti manusia, atau lebih rendah dari manusia. Dengan label semacam ini para korban dan calon korban ditelanjangi dari martabat mereka sebagai manusia dan dianggap tidak pantas untuk hidup karena kotor, busuk, dan hanya menimbulkan masalah di masyarakat[1]. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, mengapa dengan mudahnya mengganggap kelompok lain sebagai yang-lain begitu saja? Bahkan mereka yang dianggap yang-lain sampai menjadi korban dari manusia-manusia yang tega membunuh atas nama ideologi, ajaran tertentu, dan sebagainya. Kita tentu akan mempertanyakan, dimanakah rasa kemanusiaan? Apa yang sebenarnya dipahami para pelaku terhadap mereka yang-lain?

            Thomas Hidya Tjaya pada analisanya terhadap pemikiran Emmanuel Levinas dalam Enigma Wajah Orang Lain, menjelaskan, dalam memandang atau memperlakukan orang lain, kita lebih sering menggunakan kategori-kategori pemikiran yang sudah kita miliki: bahwa mereka berasal dari suku bangsa ini, menganut agama itu, memiliki latar belakang dan sifat-sifat demikian, dan sebagainya[2].

Persoalannya adalah darimana kategori-kategori ini berasal, atau dalam konstruksi sosial seperti apakah kategori-kategori ini muncul. Kategori-kategori ini seringkali muncul dalam bentuk identitas.

            Jika kita merujuk identitas dalam perspektif studi kebudayaan, identitas sepenuhnya merupakan suatu konstruksi sosial budaya. Tidak ada identitas yang dapat ‘mengada’ (exist) di luar representasi atau akulturasi budaya[3]. Dari sini kita dapat melihat kembali realitas masyarakat kita, yang sejak masa kolonial sampai sekarang, sangat majemuk dalam hal budaya dan akulturasinya. Identitas sebagai konstruksi budaya hampir dapat dipastikan muncul dalam masyarakat kita. Kenyataan pahit bahwa kemudian identitas menjadi rentan untuk menjadi alat hegemoni kekuasaan dengan adanya dominasi dan minoritas. Identitas, baik sebagai identitas kultural maupun identitas politik, negara ini telah memperoleh beberapa pengalaman konflik pada keduanya.

Problem Rasionalitas dan Kesadaran Terhadap Sensibilitas

            Rasionalitas merupakan salah satu pencapaian terbesar peradaban umat manusia. Dimana dengan rasionalitas, kita dapat melihat segala sesuatu secara lebih sehat dengan akal-budi yang tercerahkan. Namun rasionalitas kemudian berpotensi menjadi problem, apabila kemudian rasionalitas berubah menjadi awan gelap bagi salah satu ciri otentik manusia, yaitu sensibilitas. Ketika gagasan, ideologi, ajaran, doktrin, bahkan yang bersifat paling relijius sekali pun, dijunjung tinggi di atas segala-galanya, manusia dengan mudah kehilangan rasa-perasaannya terhadap sesama yang juga manusia seperti dirinya.

            Tentang yang-lain, kita tidak seharusnya membiarkan sensibilitas kita ditekan sebegitu jauh oleh upaya-upaya rasionalisasi dalam bentuk apa pun, sehingga rasa-perasaanya terhadap sesama kemudian lenyap karena putusnya akses kemanusiaan yang telah dimiliki yang-lain. Sensibilitas yang merupakan bagian hakiki subyektivitas manusia memberi akses terhadap kemanusiaan yang dimiliki oleh orang lain, betapapun jauhnya perbedaan sosial yang ada di antara mereka. Jika kesadaran cenderung membatasi dan mengobyektivikasi, sensibilitas justru membuat kita membuka diri dan membiarkan diri disapa dan disentuh[4].

            Upaya-upaya rasionalisasi yang sering kita temui dalam gagasan, ideologi, ajaran, doktrin, bahkan yang bersifat paling relijius sekali pun seringkali memiliki motif tersembunyi. Dimana ada yang diuntungkan dengan adanya konflik identitas ini, khususnya untuk hegemoni kekuasaan. Konflik identitas yang seringkali membuat yang-lain harus menjadi korban dan diputuskan akses terhadap kemanusiaanya secara paksa. Dengan Hermeuneutika Kecurigaan (hermeuneutics of suspicions) yang mengakar pada rasionalitas itu sendiri. Kita dengan segera akan berhati-hati pada upaya-upaya rasionalisasi yang memiliki kecenderungan untuk mendorong sensibilitas di titik terendahnya. 

[1] Lihat Hidya Tjaya, Thomas, “Emmanuel Levinas, Enigma Wajah Orang Lain,” dalam Prolog, hal.3

[2] Lihat Hidya Tjaya, Thomas, “Emmanuel Levinas, Enigma Wajah Orang Lain,” dalam Prolog, hal.8

[3] Lihat Barker, Chris, “Cultural Studies, Theory and Practice,” dalam A New World Disorder?, hal.170

[4] Lihat Hidya Tjaya, Thomas, “Emmanuel Levinas, Enigma Wajah Orang Lain,” dalam Keterusikan Berlanjut, hal.161

Hidya Tjaya, Thomas. 2018, Emmanuel Levinas, Enigma Wajah Orang Lain. Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Barker, Chris. 2000, Cultural Studies, Theory and Practice. London. Sage Publications Ltd.

Berasal dari Yogyakarta. Bermasalah dengan tempat baru dan sering tersesat. Terkadang menulis cerpen dan puisi. Lebih sering menulis paper teknis dan membantu teman mengerjakan skripsi.

Leave a Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.