Pada tahun 1967, sebuah esai pendek muncul di majalah Aspen edisi Amerika. Esai itu hanya sekitar sembilan halaman, tapi dampaknya terhadap cara kita memahami teks, makna, dan kepengarangan sangat luar biasa. Judulnya sederhana dan provokatif: “The Death of the Author.” Penulisnya adalah Roland Barthes, seorang kritikus sastra dan semiolog Prancis yang waktu itu belum menjadi selebritas intelektual seperti sekarang.
Barthes membuka esainya dengan sebuah pertanyaan yang tampaknya berasal dari sebuah novel Balzac. Siapa yang berbicara dalam kalimat itu? Apakah sang tokoh? Apakah Balzac sebagai individu? Apakah Balzac sebagai penulis? Ataukah kebijaksanaan universal yang kebetulan disuarakan lewat teks? Pertanyaan ini bukan pertanyaan sepele. Ia menyentuh jantung dari seluruh tradisi kritik sastra Barat: keyakinan bahwa makna sebuah teks harus dicari dalam diri sang pengarang. Bahwa untuk memahami sebuah karya, Anda harus tahu siapa yang menulisnya, apa latar belakangnya, apa maksudnya.
Barthes menyebut keyakinan ini sebagai “the reign of the Author” , rezim Pengarang. Di bawah rezim ini, Pengarang adalah Tuhan kecil. Ia menciptakan teks, ia memiliki makna, dan tugas pembaca hanyalah menemukan makna yang sudah diletakkan di sana oleh Sang Pencipta. Kritikus sastra berfungsi seperti pendeta: menafsirkan wahyu yang diberikan oleh Pengarang kepada umat pembaca yang awam.
Dan di sinilah Barthes menjatuhkan bomnya. Ia menulis: “The birth of the reader must be at the cost of the death of the Author.” Kelahiran pembaca harus dibayar dengan kematian Pengarang. Ini bukan seruan untuk membunuh penulis secara harfiah, tentu saja. Ini adalah argumen filosofis: makna sebuah teks tidak terletak pada intensi penulisnya, melainkan pada pembaca yang menerima dan menafsirkannya. Setiap kali Anda membaca, Anda menciptakan makna baru. Teks adalah ruang multidimensi di mana berbagai tulisan bertabrakan dan berbaur, dan satu-satunya titik di mana semua itu bertemu adalah pembaca. Bukan penulisnya.
“Satu teks,” tulis Barthes dalam esai yang sama, “terdiri dari berbagai tulisan, yang diambil dari banyak budaya dan masuk ke dalam hubungan dialog, parodi, dan kontestasi satu sama lain. Tapi ada satu tempat di mana multiplisitas ini terkumpul, dan tempat itu bukanlah penulisnya, melainkan pembacanya.” Kalimat ini dari “The Death of the Author” dan ia menjelaskan kenapa setiap pembaca berhak atas interpretasi mereka sendiri. Begitu teks selesai ditulis dan dilepaskan ke dunia, sang penulis kehilangan otoritas atas maknanya. Teks menjadi milik pembaca.
Sekarang, mari kita tinggalkan Paris tahun 1967 sejenak. Mari kita melompat ke Indonesia tahun 2024. Buka Twitter atau X atau apapun namanya sekarang. Scroll linimasa selama lima menit. Anda akan menemukan puluhan, mungkin ratusan, utas yang ditulis oleh orang-orang biasa. Bukan jurnalis. Bukan sastrawan. Bukan akademisi. Tapi mereka menulis. Mereka menulis analisis politik, mereka menulis puisi pendek, mereka menulis cerita pribadi, mereka menulis opini tentang film, mereka menulis nasihat percintaan, mereka menulis kritik sosial. Semua orang menulis. Semua orang adalah pengarang.
Ini adalah revolusi yang mungkin tidak dibayangkan Barthes ketika ia menulis esainya. Barthes berbicara tentang kematian Pengarang dalam konteks sastra dan kritik. Tapi apa yang terjadi hari ini adalah kematian Pengarang dalam arti yang jauh lebih harfiah dan lebih demokratis. Status “pengarang” yang dulu eksklusif, yang dulu hanya dimiliki oleh mereka yang bukunya diterbitkan penerbit besar, kini tersedia bagi siapa saja yang punya akun media sosial. Tidak perlu ISBN. Tidak perlu editor. Tidak perlu modal. Cukup jempol dan koneksi internet.
Tapi ada yang menarik di sini. Ketika semua orang menjadi pengarang, apakah status kepengarangan itu sendiri masih berarti? Ketika setiap orang bisa menulis apapun dan mempublikasikannya kapanpun, apa yang terjadi pada otoritas dan kredibilitas? Barthes membunuh Pengarang untuk membebaskan pembaca. Tapi media sosial membunuh Pengarang justru dengan melipatgandakannya sampai tak terhingga. Ada begitu banyak pengarang sehingga tidak ada lagi yang benar-benar pengarang. Semacam paradoks: Pengarang mati bukan karena dibunuh, melainkan karena jumlahnya terlalu banyak.
Secara historis, kelangkaan menulis adalah hal yang normal. Sebelum mesin cetak Gutenberg ditemukan sekitar tahun 1440, setiap buku harus disalin dengan tangan. Prosesnya lama, mahal, dan hanya sedikit orang yang bisa membaca. Menulis adalah keahlian langka yang dimiliki oleh juru tulis terlatih, biksu di biara-biara, dan segelintir cendekiawan. Bahkan setelah mesin cetak merevolusi penyebaran teks, literasi tetap menjadi hak istimewa. Pada tahun 1800, diperkirakan hanya sekitar 12 persen populasi dunia yang bisa membaca. Menulis apalagi. Menerbitkan buku adalah prestasi luar biasa yang hanya dicapai oleh segelintir elit.
Ketika pendidikan massal menyebar di abad ke-19 dan 20, literasi meningkat drastis. Tapi menulis dan menerbitkan tetap menjadi ranah yang dijaga ketat oleh institusi: penerbit, editor, koran, jurnal akademik. Anda harus melewati penjaga gerbang (gatekeeper) untuk bisa diterbitkan. Dan penjaga gerbang ini menentukan standar: apa yang layak ditulis, apa yang layak dibaca, siapa yang layak disebut sebagai penulis.
Lalu datanglah internet. Blog di akhir 1990-an dan awal 2000-an adalah gelombang pertama demokratisasi kepengarangan. Siapa pun bisa membuat Blogspot atau WordPress dan mulai menulis. Tapi blog masih butuh usaha: Anda harus membuat situs, mendesain tampilan, dan yang terpenting, Anda harus bisa menulis dalam format yang cukup panjang. Blog adalah demokratisasi, tapi masih dengan hambatan masuk yang cukup tinggi.
Media sosial menghapus hambatan itu sepenuhnya. Twitter, dengan batasan 140 karakter (sekarang lebih panjang), menemukan format yang sempurna: cukup pendek untuk ditulis siapa saja, cukup panjang untuk menyampaikan satu gagasan. Instagram memperkenalkan caption. TikTok memperkenalkan teks di video. Threads menawarkan format yang menggabungkan semuanya. Tiba-tiba, semua orang yang bisa mengetik di ponsel adalah penulis. Seorang ibu rumah tangga di Tasikmalaya bisa menulis utas tentang parenting yang dibaca ribuan orang. Seorang mahasiswa di Makassar bisa menulis analisis film yang lebih tajam daripada kritikus di koran nasional. Seorang pengangguran di Jakarta bisa menulis cerita pendek yang membuat orang menangis.
Ini adalah realisasi paling radikal dari tesis Barthes. Jika makna teks diciptakan oleh pembaca, bukan penulis, maka di era media sosial, setiap orang adalah pembaca dan penulis sekaligus. Anda membaca utas seseorang, menafsirkannya, lalu membalas dengan interpretasimu sendiri. Anda membaca status seseorang, lalu membuat status yang meresponsnya. Diskursus tidak lagi vertikal (dari Penulis ke Pembaca), melainkan horizontal dan rhizomatik, menyebar ke segala arah tanpa pusat.
Tapi demokratisasi ini membawa konsekuensi yang tidak selalu menyenangkan. Masalah pertama adalah apa yang bisa kita sebut sebagai “inflasi kepengarangan.” Ketika semua orang adalah penulis, maka status penulis tidak lagi istimewa. Dan lebih buruk lagi, sulit membedakan antara penulis yang serius dan penulis yang asal-asalan. Barthes mungkin akan menjawab: memang tidak perlu dibedakan. Yang penting adalah teksnya, bukan siapa yang menulisnya. Tapi dalam praktiknya, kita tahu bahwa tidak semua teks diciptakan setara. Ada utas yang ditulis dengan riset mendalam dan ada utas yang ditulis dengan emosi sesaat. Ada status yang dipikirkan matang-matang dan ada status yang diketik sambil marah di toilet. Tapi di linimasa, keduanya tampil dengan format yang sama, dengan font yang sama, dengan bobot visual yang sama.
Masalah kedua adalah hilangnya akuntabilitas. Ketika Pengarang dalam pengertian tradisional menulis buku, namanya terpampang di sampul. Ia bertanggung jawab atas kata-katanya. Jika bukunya bermasalah, ia akan dikritik, diperdebatkan, atau bahkan dituntut. Tapi di media sosial, kepengarangan sering kali anonim atau semi-anonim. Akun dengan nama samaran dan foto anime bisa menulis apapun tanpa konsekuensi. Ini adalah sisi gelap dari kematian Pengarang yang dirayakan Barthes. Pengarang memang mati, tapi yang lahir bukanlah pembaca yang merdeka dan kritis, melainkan pembaca-penulis yang tidak bertanggung jawab.
Masalah ketiga, dan ini yang paling mengkhawatirkan, adalah the death of the reader , kematian pembaca. Ironisnya, di era di mana semua orang menulis, semakin sedikit orang yang benar-benar membaca. Membaca di sini bukan dalam arti melihat tulisan dan mengenali huruf-hurufnya. Membaca dalam arti Barthes: menyimak, menafsirkan, bergulat dengan teks, dan menciptakan makna. Yang terjadi di media sosial sering kali bukanlah membaca, melainkan memindai (scanning). Mata kita melompat dari satu judul ke judul lain, dari satu kalimat pertama ke kalimat pertama berikutnya, tanpa pernah benar-benar masuk ke dalam teks. Kita bereaksi sebelum memahami. Kita membalas sebelum menyelesaikan membaca. Barthes memimpikan pembaca yang aktif dan kreatif. Yang kita dapatkan adalah pembaca yang reaktif dan impulsif.
Di akhir esainya, Barthes menulis sesuatu yang indah: “We know that to give writing its future, it is necessary to overthrow the myth: the birth of the reader must be at the cost of the death of the Author.” Kita tahu bahwa untuk memberi masa depan bagi tulisan, kita harus menggulingkan mitos itu: kelahiran pembaca harus dibayar dengan kematian Pengarang. Pada tahun 1967, ini adalah seruan revolusioner. Pada tahun 2024, ini adalah kenyataan sehari-hari. Pengarang sudah mati. Semua orang adalah pengarang. Pertanyaannya sekarang bukan lagi tentang kematian Pengarang, melainkan tentang kelahiran kembali Pembaca. Karena di negeri di mana semua orang menulis, mungkin yang paling langka dan paling berharga justru adalah orang yang benar-benar membaca.
Referensi
Barthes, Roland. (1977). “The Death of the Author.” Dalam Image, Music, Text. Hill and Wang.
Barthes, Roland. (1974). S/Z: An Essay. Hill and Wang.
Foucault, Michel. (1977). “What Is an Author?” Dalam Language, Counter-Memory, Practice. Cornell University Press.





Berikan komentar