Ada satu adegan yang mungkin familier bagi siapa pun yang pernah menggunakan aplikasi kencan. Layar ponsel menampilkan deretan wajah yang bisa digeser ke kiri atau kanan. Swipe left, tidak tertarik. Swipe right, tertarik. Jika dua orang saling swipe right, maka terciptalah apa yang disebut dengan istilah “match.” Dan dari sana, percakapan dimulai dengan “Hai,” lalu entah bagaimana nasibnya setelah itu.
Mekanisme ini begitu efisien, begitu bersih, begitu steril dari segala macam kerumitan yang biasanya menyertai pertemuan antarmanusia. Tidak perlu berdebar-debar menunggu di kafe. Tidak perlu menyusun kalimat pembuka yang jenaka dan orisinal. Tidak perlu takut ditolak secara langsung dan menyaksikan ekspresi jengah di wajah orang lain. Semuanya bisa dilakukan sambil rebahan dengan satu tangan, sementara tangan yang satu lagi memegang kopi.
Ini adalah dunia yang oleh Zygmunt Bauman, sosiolog dan filsuf Polandia-Inggris, disebut sebagai dunia liquid modernity atau modernitas cair. Dan di dalam dunia yang cair ini, cinta adalah salah satu korban paling nyata dari proses pencairan tersebut.
Bauman menerbitkan Liquid Love: On the Frailty of Human Bonds pada tahun 2003. Judulnya mungkin terdengar puitis, tapi isinya jauh dari romantis. Buku ini adalah otopsi yang kejam terhadap kondisi hubungan manusia di era modernitas lanjut. Dan seperti semua buku Bauman, ia ditulis dengan gaya yang jernih namun menusuk, seolah-olah kau sedang membaca diagnosis dokter yang memberitahumu bahwa penyakitmu sudah stadium akhir.
Apa yang dimaksud Bauman dengan “cair”? Metafora ini penting. Zat padat memiliki bentuk yang tetap dan menolak perubahan. Zat cair tidak punya bentuk sendiri. Ia mengikuti wadahnya, ia bisa merembes, mengalir, dan berubah setiap saat. Inilah sifat hubungan manusia modern. Hubungan tidak lagi dibangun untuk bertahan lama. Hubungan dibangun untuk sementara waktu, sampai ada yang lebih baik, lebih menarik, atau lebih sedikit masalahnya.
Bauman menulis: “In a consumer society like ours, relationships follow the pattern of commodities. We shop for partners, we compare their qualities, we return them if they do not meet expectations.” Kutipan ini bukan hiperbola. Ia adalah deskripsi harfiah dari cara kerja aplikasi kencan. Kita berbelanja manusia. Kita membandingkan kualitas mereka layaknya daftar spesifikasi produk. Kita mengembalikan mereka, atau lebih tepatnya meng-unmatch mereka, jika ekspektasi tidak terpenuhi.
Tapi Bauman tidak sedang menulis tentang Tinder. Ia menulis jauh sebelum Tinder ada. Aplikasi kencan hanyalah teknologi yang membuat logika konsumerisme dalam hubungan menjadi lebih terlihat, lebih cepat, dan lebih brutal. Inti persoalannya bukan teknologinya, melainkan mentalitas konsumeris yang sudah tertanam dalam cara kita memandang hubungan antarmanusia.
Salah satu konsep kunci Bauman adalah apa yang ia sebut sebagai “ikatan yang longgar” (loose bonds). Dalam modernitas cair, orang menginginkan hubungan yang memberi kenyamanan dan kehangatan, tapi sekaligus menolak tanggung jawab dan komitmen yang biasanya menyertai hubungan semacam itu. Kita ingin pasangan saat kita kesepian, tapi ingin sendiri saat kita sibuk. Kita ingin dipedulikan, tapi tidak ingin direpotkan. Kita ingin cinta, tapi tidak ingin ikatan.
Lihatlah istilah yang dipakai anak-anak muda hari ini. “Situationship.” “No label.” “Teman tapi deket.” “FWB.” Istilah-istilah ini bukan sekadar kosakata gaul. Mereka adalah manifestasi linguistik dari kecemasan terhadap komitmen. Dengan tidak memberi label, kau tidak perlu bertanggung jawab. Dengan tidak mendefinisikan hubungan, kau tidak bisa dituntut. Semua hubungan mengambang di antara “ada” dan “tiada,” sebuah keadaan kuantum emosional di mana semua kemungkinan terbuka dan tidak ada kewajiban yang mengikat.
Bauman menyebut fenomena ini sebagai “the longing for security and the fear of being tied down rolled into one.” Rindu akan rasa aman dan takut akan keterikatan menyatu dalam satu tarikan napas. Kau ingin rumah, tapi tidak ingin membayar cicilannya. Kau ingin pelabuhan, tapi terus-menerus tergoda untuk berlayar lagi.
Yang membuat keadaan ini semakin paradoksal adalah bahwa kita sebenarnya merindukan koneksi yang dalam dan autentik. Di balik deretan match dan DM yang masuk, ada kesepian yang menganga. Kita punya ratusan teman di media sosial, tapi tidak ada satu pun yang bisa kita telepon jam tiga pagi saat kita benar-benar butuh didengar. Kita punya banyak opsi kencan, tapi justru karena banyaknya opsi itulah kita tidak pernah benar-benar memilih.
Inilah yang disebut Bauman sebagai “FOMO of the heart” atau rasa takut ketinggalan yang bersarang di dalam hati. Selama selalu ada kemungkinan match yang lebih baik di swipe berikutnya, kenapa harus berkomitmen dengan yang sekarang? Selama selalu ada orang yang lebih menarik, lebih sukses, lebih lucu di ujung jari, kenapa harus puas dengan yang ada? Pertanyaan-pertanyaan ini terdengar logis. Tapi logika ini adalah logika konsumen, bukan logika pecinta. Dan cinta yang dijalankan dengan logika konsumen akan selalu berakhir di keranjang belanja.
Bauman juga menyinggung bagaimana cinta cair berkaitan erat dengan ketakutan akan kerentanan. Cinta sejati, dalam arti yang paling klasik, selalu melibatkan risiko: risiko disakiti, risiko ditinggalkan, risiko berubah. Kau membuka dirimu kepada orang lain dan kau tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi dalam modernitas cair, kalkulasi risiko adalah segalanya. Kita ingin hasil tanpa proses. Kita ingin cinta tanpa kemungkinan patah hati. Maka kita membangun hubungan dengan exit strategy yang sudah disiapkan sejak awal.
“Unlike ‘real relationships,’” tulis Bauman, “‘virtual relationships’ are easy to enter and to exit. They look smart and clean, feel easy to use and user-friendly, compared with the heavy, slow-moving, messy real stuff.” Hubungan virtual terlihat cerdas dan bersih, terasa mudah digunakan, ramah pengguna, dibandingkan dengan barang asli yang berat, lambat, dan berantakan. Dan bukankah ini sangat akurat? Berantakan. Cinta asli selalu berantakan. Ada pertengkaran, ada salah paham, ada kebiasaan yang menjengkelkan, ada masa-masa membosankan. Cinta asli tidak bisa di-filter. Tidak ada preset aesthetic yang bisa membuatnya selalu terlihat indah.
Salah satu pengamatan Bauman yang paling tajam adalah bahwa di era digital, kita tidak pernah benar-benar sendiri dan tidak pernah benar-benar bersama. Kita selalu connected tapi jarang sekali related. Koneksi adalah soal sinyal. Relasi adalah soal makna. Dan sinyal tidak bisa menciptakan makna. Ia hanya bisa mentransmisikan data. Maka kita punya banyak data tentang orang lain di mana mereka bekerja, apa makanan favorit mereka, artis apa yang mereka dengarkan tapi kita tidak benar-benar mengenal mereka.
Lalu apakah Bauman menawarkan jalan keluar? Apakah ia meminta kita semua untuk kembali ke pacaran tradisional ala tahun 1950-an? Tentu saja tidak. Bauman adalah sosiolog yang terlalu jujur untuk menawarkan nostalgia palsu. Ia memahami bahwa modernitas cair adalah kondisi historis, bukan pilihan personal. Kita tidak bisa begitu saja memilih untuk hidup di zaman padat sementara infrastruktur dunia kita sudah mencair.
Tapi kesadaran adalah langkah pertama. Membaca Bauman membuat kita sadar bahwa kemalasan emosional yang kita alami bukan semata-mata kesalahan kita. Ada struktur yang membuat kita begini. Ada logika ekonomi dan sosial yang membentuk cara kita mencintai. Dan meskipun kita tidak bisa keluar dari struktur itu begitu saja, kita setidaknya bisa mulai bertanya: apakah aku sedang mencintai seseorang, atau sedang berbelanja seseorang? Apakah aku sedang membangun hubungan, atau sedang mengelola portofolio emosional?
Di akhir hayatnya, Bauman sendiri tetap menulis tentang cinta. Istrinya, Janina, adalah penulis dan mitra intelektualnya selama puluhan tahun. Mungkin itu adalah jawaban yang paling jujur dari Bauman tentang cinta: bukan teori, melainkan praktik. Bukan swipe, melainkan bertahan. Bukan koneksi yang bersih dan rapi, melainkan relasi yang berat, lambat, dan berantakan.
Referensi
Bauman, Zygmunt. (2003). Liquid Love: On the Frailty of Human Bonds. Polity Press.
Bauman, Zygmunt. (2000). Liquid Modernity. Polity Press.
Bauman, Zygmunt. (2007). Consuming Life. Polity Press.





Berikan komentar