G.E.M Anscombe, Philippa Foot, Mary Midgley, dan Iris Murdoch merupakan empat filsuf yang dideklarasi sebagai para penggugat konsekuensi moral analitis ortodoks. Keempat filsuf ini melakukan pencarian moralitas baru yang dapat meruntuhkan positivisme moral karena sifat destruktif yang dibuktikan oleh kekejaman semasa Perang Dunia 2.
4 Sekawan Filsuf Perempuan
G.E.M Anscombe, Philippa Foot, Mary Midgley, dan Iris Murdoch merupakan empat filsuf yang dideklarasi sebagai para penggugat konsekuensi moral analitis ortodoks. Keempat filsuf ini melakukan pencarian moralitas baru yang dapat meruntuhkan positivisme moral karena sifat destruktif yang dibuktikan oleh kekejaman semasa Perang Dunia 2.
Ditulis oleh
dalam

Comments
Baca Juga

Bagaimana Meme, Matematika, dan Tuhan Berbagi Ruang Logis
Jika kita menanggalkan prasangka awal dan menelisik struktur logis yang menopang ketiganya, justru tampak bahwa meme, matematika, dan Tuhan kerap…

Jadi Berapa Besar Kapital Seksualmu?
Metafora kapital seksual digunakan untuk menjelaskan bagaimana individu dalam masyarakat neoliberal mendapatkan keuntungan dari subjektivitas seksualnya (termasuk di dalamnya adalah…

Filsafat Sains Kant
Immanuel Kant, yang dianggap sebagai filsuf sains, membagi sains menjadi historis atau rasional, dan mengakuinya sebagai sistem kognitif yang terorganisir.

Relasi Epistemologis Filsafat, Ilmu Sejarah, dan Mazhab Annales: Sebuah Kajian atas Fondasi, Kritik, dan Transformasi Historiografi Modern
Masa lalu bukanlah sekadar artefak mati yang siap dicatat, melainkan realitas kompleks yang menuntut penafsiran filosofis. Melalui lensa revolusioner Mazhab…

Masihkah ada Stoa: Fenomena Doomscrolling
Dengan pemahaman mendalam tentang eudaimonia sebagai fondasi kebahagiaan sejati, kita kini dapat melihat bagaimana doomscrolling secara fundamental bertentangan dengan prinsip-prinsip…

Membumikan Para Intelektual: Membaca Gagasan Ali Syariati dalam Konteks Indonesia
Membaca ulang gagasan rausyan fikr dari Ali Syariati untuk mengkritik pragmatisme kaum akademisi di Indonesia. Mampukah para intelektual kita keluar…

Berikan komentar