10–15 menit

Relasi Epistemologis Filsafat, Ilmu Sejarah, dan Mazhab Annales: Sebuah Kajian atas Fondasi, Kritik, dan Transformasi Historiografi Modern

Masa lalu bukanlah sekadar artefak mati yang siap dicatat, melainkan realitas kompleks yang menuntut penafsiran filosofis. Melalui lensa revolusioner Mazhab Annales, telusuri bagaimana sejarawan membongkar jaring ekonomi, geografi, dan psikologi yang membentuk arah peradaban.

Mazhab Annales

Sejarah tidak pernah berdiri sendiri sebagai disiplin ilmu yang otonom. Sejak awal perkembangannya, sejarah selalu berada dalam dialog yang konstan dengan filsafat. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan metode atau pendekatan, tetapi juga menyangkut asumsi-asumsi fundamental mengenai makna pengetahuan historis, cara kita memahami masa lalu, dan esensi dari objek studi sejarah itu sendiri. Historiografi tradisional yang mendominasi abad ke-19 hingga awal abad ke-20 berakar kuat pada paradigma positivisme, sebuah aliran filsafat yang bersumber dari pemikiran Auguste Comte. Dalam paradigma tersebut, sejarah dipandang sebagai rentetan fakta yang dapat diobservasi, dicatat, dan disusun secara kronologis. Paradigma ini juga mengasumsikan bahwa narasi historis merupakan representasi masa lalu yang relatif netral (Comte, 1830-1842; Hamid, 2018).

Namun, mulai dekade 1920-an, sebuah gerakan intelektual penting lahir di Prancis untuk mengkritik asumsi-asumsi fundamental historiografi tradisional tersebut. Gerakan ini dikenal sebagai Mazhab Annales, yang mengambil nama dari jurnal ilmiah bergengsi bentukan Marc Bloch dan Lucien Febvre pada tahun 1929, yakni Annales d’Histoire Économique et Sociale. Hal yang membuat Annales begitu revolusioner bukanlah sekadar pembaruan metodologi, melainkan rekonstruksi epistemologis dan ontologis yang menyeluruh terhadap ilmu sejarah (Bloch & Febvre, 1929; Burke, 1990).

Relasi antara filsafat, ilmu sejarah, dan Mazhab Annales bersifat organik dan tak terpisahkan. Filsafat menyediakan landasan konseptual bagi sejarawan dalam merumuskan serta menjawab pertanyaan historis. Di sisi lain, sejarah—sebagai disiplin ilmu—mencari pengetahuan tentang masa lalu manusia melalui metode dan prosedur yang terus berkembang. Sebagai sebuah proyek historiografis, Annales secara sadar menyerap inspirasi dari pemikiran filosofis guna membangun metodologi sejarah yang lebih canggih dan holistik. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis relasi triadis tersebut secara mendalam, memperlihatkan bagaimana filsafat membentuk dasar ilmu sejarah, bagaimana kritik epistemologis memicu pembaruan Annales, dan bagaimana ketiganya bertransformasi membentuk cara pandang baru terhadap masa lalu.

Landasan Filosofis Ilmu Sejarah

Ontologi Sejarah: Mempertanyakan “Masa Lalu” sebagai Objek

Sebelum membahas cara mengetahui masa lalu, kita harus terlebih dahulu mempertanyakan makna “masa lalu” itu sendiri. Ini merupakan pertanyaan ontologis pokok mengenai sifat dasar keberadaan (being) dari objek studi sejarah. Dalam historiografi tradisional, masa lalu kerap dipahami secara sempit sebagai serangkaian peristiwa (events) konkret yang dapat diidentifikasi secara jelas. Peristiwa-peristiwa seperti pertempuran, penobatan raja, revolusi, atau penandatanganan perjanjian dilihat sebagai unit dasar dari narasi historis (Muthali & Sutarto, 2022).

Kendati demikian, ontologi sejarah yang lebih mutakhir mengakui bahwa masa lalu tidak tersusun dari peristiwa semata. Terdapat struktur jangka panjang yang melampaui peristiwa-peristiwa individual, seperti kondisi geografis yang relatif stabil, sistem ekonomi yang bertransformasi secara perlahan, hingga mentalitas kolektif yang bertahan selama berabad-abad. Faktor-faktor fisik seperti iklim dan topografi turut berperan membentuk berbagai kemungkinan historis (Braudel, 1958). Selain itu, terdapat pula agen manusia, yakni aktor-aktor historis yang memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan, memilih tindakan, dan pada tingkat tertentu, mengubah kondisi struktural di sekitarnya (Giddens, 1984).

Dalam ontologi sejarah yang kompleks ini, hubungan antara peristiwa, struktur, dan agen menjadi isu sentral. Pertanyaan filosofis pun bermunculan: apakah sejarah sepenuhnya ditentukan oleh struktur material (sebagaimana argumen kaum Marxis), atau apakah agen individual memiliki kebebasan untuk menciptakan sejarahnya sendiri? Bagaimana cara kita memahami kausalitas historis tatkala banyak faktor—yang sebagian di antaranya tidak terduga—saling berinteraksi secara rumit? Rentetan pertanyaan ini tidak dapat dijawab tanpa refleksi filosofis yang mendalam (Susilo, 2007).

Epistemologi Sejarah: Bagaimana Mengetahui Masa Lalu?

Jika ontologi sejarah mempertanyakan hakikat masa lalu, epistemologi sejarah menelusuri cara kita mengetahuinya. Ini bukanlah persoalan sepele, mengingat masa lalu telah berlalu dan kita tidak dapat mengobservasi peristiwa historis secara langsung layaknya ilmuwan alam yang meneliti fenomena fisik.

Historiografi tradisional beranggapan bahwa meskipun masa lalu tidak dapat diobservasi secara langsung, kita dapat memanfaatkan “jejak-jejak” yang ditinggalkan, seperti dokumen tertulis, artefak fisik, dan bukti material lainnya. Dengan mengumpulkan, mengkritisi keandalannya, dan menyusun jejak-jejak ini secara logis, sejarawan diyakini mampu merekonstruksi “apa yang benar-benar terjadi” (wie es eigentlich gewesen, meminjam istilah Leopold von Ranke). Pendekatan ini bersandar pada asumsi bahwa fakta historis memiliki status ontologis yang objektif dan dapat diakses melalui metode investigasi yang tepat (Bloch, 1954; Hamid, 2018).

Namun, epistemologi historis yang lebih kritis menyadari adanya jarak epistemologis yang tidak dapat dijembatani sepenuhnya antara peneliti dan masa lalu. Dokumen-dokumen peninggalan bukanlah cermin netral; ia merupakan konstruksi yang diciptakan oleh aktor historis dalam konteks zamannya. Oleh karena itu, saat membaca dokumen, sejarawan tidak sekadar “menemukan” makna yang tersurat, melainkan menginterpretasinya berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang dibawa dari masa kini (Dilthey, 1883; Gadamer, 1960).

Dalam kerangka hermeneutika filosofis yang dikembangkan oleh Wilhelm Dilthey, pemahaman historis bukanlah sebuah “penjelasan” murni dalam kaidah ilmiah yang kaku. Sebaliknya, pemahaman historis adalah upaya menyelami “perspektif dalam” (Innensicht) para aktor historis untuk memahami bagaimana mereka memaknai tindakan, pikiran, dan perasaan mereka (Dilthey, 1883). Proses ini menuntut sebuah empati historis yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar prosedur mekanis (Sidik & Sulistyana, 2021).

Filsafat Ilmu dan Sejarah sebagai Ilmu Sosial

Perdebatan mengenai apakah sejarah dapat dikategorikan sebagai “ilmu” layaknya ilmu alam telah melalui jalan filosofis yang panjang. Auguste Comte, melalui Cours de Philosophie Positive (1830-1842), memaparkan bahwa pengetahuan manusia berevolusi melalui tiga tahap: teologis, metafisik, dan positif. Comte meyakini bahwa ilmu sosial, termasuk sejarah, dapat mencapai tahap positif jika menerapkan metode ilmu alam untuk mengkaji fenomena sosial (Comte, 1830-1842; Hamid, 2018).

Reaksi antipositivis kemudian muncul pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Filsuf Jerman Wilhelm Dilthey membedakan antara Naturwissenschaften (ilmu-ilmu alam) dan Geisteswissenschaften (ilmu humaniora). Menurut Dilthey, ilmu-ilmu alam bertugas menjelaskan (erklären) fenomena berdasarkan hukum sebab-akibat yang universal, sedangkan ilmu humaniora—termasuk sejarah—bertujuan memahami (verstehen) makna intensional di balik tindakan manusia (Dilthey, 1883). Dilthey menegaskan bahwa metode yang paling tepat untuk Geisteswissenschaften adalah hermeneutika, yakni seni menafsirkan teks dan ekspresi manusia (Sidik & Sulistyana, 2021).

Gagasan Dilthey memberikan legitimasi filosofis bagi otonomi metodologis ilmu sejarah. Sejarah tidak diwajibkan meniru ilmu alam; ia memiliki metode dan standar kebenarannya sendiri yang disesuaikan dengan objek studinya, yaitu tindakan manusia yang bermakna. Sosiolog Max Weber mengadopsi metode verstehen ini ke dalam disiplin sosiologi, dengan membedakan “penjelasan kausal” dari “pemahaman makna”, serta menitikberatkan pada “tindakan sosial yang berorientasi makna” sebagai objek kajian utama (Weber, 1922; Raharjo, 2007).

Pengaruh antipositivis dari pemikir seperti Dilthey, Weber, dan Henri Bergson (dengan konsep durée dan intuisi) menjadi fondasi intelektual yang krusial bagi kelahiran Mazhab Annales. Generasi intelektual baru di Prancis pada era 1920-an menyerap gagasan-gagasan tersebut, di samping pemikiran sosiologis Émile Durkheim, untuk merumuskan historiografi yang lebih sadar akan kompleksitas metodologi (Burke, 1990).

Kritik terhadap Historiografi Tradisional dan Dominasi Positivisme

Historiografi tradisional yang berkembang pesat di abad ke-19 memiliki karakter yang sangat spesifik. Aliran ini didominasi oleh sejarah politik yang berfokus pada tindakan tokoh-tokoh besar (seperti raja dan jenderal), peristiwa spektakuler (perang dan revolusi), serta narasi yang terikat ketat pada kronologi (Bloch & Febvre, 1929). Dalam kerangka ini, sejarah disajikan sebagai sebuah cerita berangkai (histoire événementielle), di mana peristiwa A menyebabkan peristiwa B secara linear dan progresif menuju masa kini (Burke, 1990). Terdapat beberapa permasalahan mendasar dalam pendekatan ini:

  • Reduksionisme Epistemologis: Historiografi tradisional mengasumsikan bahwa fakta historis adalah data yang tersaji secara langsung, dan tugas sejarawan hanyalah mengumpulkan serta menyusunnya. Asumsi ini mengabaikan kompleksitas hermeneutika yang dijelaskan oleh Dilthey, yakni bahwa setiap “fakta” merupakan hasil konstruksi interpretatif yang dipengaruhi oleh pertanyaan peneliti, konteks masa kini, dan pilihan metodologis (Bloch, 1954).
  • Sikap Sempit dan Elitis: Akibat terlalu terpusat pada sejarah politik, dimensi penting lainnya seperti dinamika ekonomi, struktur sosial, mentalitas kolektif, dan relasi manusia dengan lingkungannya menjadi terabaikan. Mayoritas populasi—seperti petani, pekerja, dan perempuan—dianggap tidak memiliki agensi sejarah yang signifikan, menciptakan sebuah bias sosial yang fundamental (Burke, 1990; Munigar, 2025).
  • Kelemahan Analisis Kausalitas: Historiografi tradisional mencari hubungan sebab-akibat yang terlampau sederhana dan linear. Padahal, perubahan sosial kerap dipicu oleh kombinasi faktor material, kondisi geografis, pergeseran budaya, dan inovasi teknologi yang mustahil direduksi pada satu penyebab tunggal (Braudel, 1958). Pencarian narasi linear ini membuat sejarawan tradisional buta terhadap struktur jangka panjang dan proses di luar kendali agen individual (Burke, 1990).
  • Isolasi Disiplin Ilmu: Historiografi tradisional beroperasi seolah-olah ilmu sejarah dapat berdiri sendiri tanpa sumbangsih dari sosiologi, antropologi, geografi, maupun ekonomi (Bloch & Febvre, 1929). Padahal, sejarah yang komprehensif menuntut keterbukaan wawasan (insights) dari disiplin ilmu sosial lain untuk memahami kompleksitas masyarakat (Bloch & Febvre, 1929).

Kritik-kritik inilah yang kemudian menjadi motor penggerak bagi lahirnya Mazhab Annales.

Mazhab Annales sebagai Revolusi Paradigma Historiografi

Kelahiran Annales: Konteks Intelektual dan Motivasi

Mazhab Annales lahir pada 1929 saat Marc Bloch dan Lucien Febvre mendirikan jurnal Annales d’Histoire Économique et Sociale di Universitas Strasbourg. Keduanya merupakan lulusan École Normale Supérieure (ENS) yang terpapar tradisi filsafat kritis. Pemikiran mereka banyak dipengaruhi oleh Émile Durkheim (sosiologi fakta sosial), Paul Vidal de la Blache (geografi kultural), dan Henri Bergson (filsafat durasi) (Bloch & Febvre, 1929; Burke, 1990).

Di Strasbourg, Febvre dan Bloch menyatukan visi mereka yang dipenuhi ketidakpuasan terhadap historiografi tradisional. Mereka berambisi menciptakan historiografi yang tidak semata-mata menarasikan politik tingkat tinggi, melainkan sebuah “sejarah total” (histoire totale) yang holistik dan menaungi kompleksitas ekonomi, sosial, demografi, hingga geografis (Bloch & Febvre, 1929; Burke, 1990).

Konsep-Konsep Utama Annales

  • 1. Longue Durée (Struktur Jangka Panjang): Diuraikan secara sistematis oleh Fernand Braudel, konsep longue durée merujuk pada struktur sejarah yang membentang dalam jangka waktu sangat panjang (Braudel, 1958). Dalam karyanya, The Mediterranean and the Mediterranean World in the Age of Philip II (1949), Braudel membagi waktu ke dalam tiga tingkatan analitik: geohistory (struktur geografis yang nyaris tak berubah), conjunctures (siklus sosial-ekonomi), dan events (peristiwa spesifik yang berlalu cepat) (Braudel, 1949; Theindependentinsight, 2023). Ia memberikan prioritas pada longue durée dan memandang peristiwa individu sebatas “buih di atas ombak” dari struktur raksasa di bawahnya. Hal ini membawa implikasi filosofis berupa redefinisi ontologis terhadap sejarah (Braudel, 1958; Munigar, 2025).
  • 2. Pendekatan Interdisipliner: Bloch dan Febvre meyakini sejarah harus mengadopsi wawasan dari disiplin lain, seperti sosiologi, geografi, antropologi, ekonomi, hingga psikologi (Bloch & Febvre, 1929; Burke, 1990). Langkah ini memungkinkan perumusan pertanyaan-pertanyaan baru dan penerapan metode silang yang revolusioner, seperti penggunaan demografi statistik maupun instrumen antropologis untuk membaca teks historis (Bloch & Febvre, 1929; Burke, 1990).
  • 3. Mentalités (Struktur Mental Kolektif): Berakar dari konsep “kesadaran kolektif” Durkheim, sejarah mentalitas (histoire des mentalités) menginvestigasi pola pikir, reaksi emosional, dan interpretasi dunia yang dibagikan secara kolektif oleh suatu masyarakat pada kurun waktu tertentu (Nasir, 2017). Sejarawan dituntut memiliki empati historis yang mendalam guna menyelami dunia mental subjek masa lalu, menyatukan dimensi psikologis dan budaya dalam satu pisau analisis (Duby, 1974; Nasir, 2017; Nasir & Vovelle, 1997).
  • 4. Sejarah Total (Histoire Totale): Konsep ini merupakan cita-cita untuk merekonstruksi sejarah manusia secara komprehensif (Bloch & Febvre, 1929; Burke, 1990). Sejarah total bukanlah tuntutan untuk merangkum seluruh detail absolut dari masa lalu, melainkan sebuah pedoman regulatif agar sejarawan konsisten melihat korelasi antara dimensi ekonomi, geografi, mentalitas, biologi, dan teknologi (Burke, 1990).

Titik-Titik Pertemuan Filsafat, Ilmu Sejarah, dan Mazhab Annales

  • Dimensi Ontologis: Annales, berkat pengaruh sosiologi dan filsafat durasi, secara radikal memperluas batasan ontologi sejarah. Dari sekadar susunan “peristiwa”, masa lalu diredefinisi menjadi jejaring kompleks proses dan pola yang beroperasi pada beragam skala waktu serta ruang (Braudel, 1958).
  • Dimensi Epistemologis: Bloch (1954) menegaskan bahwa pemahaman historis adalah dialog aktif. Sejarawan secara aktif mengonstruksi sumber historis melalui pertanyaan yang relevan di masa kini. Objektivitas sejarah lantas diartikan bukan sebagai netralitas mutlak, melainkan prosedur kontrol metodologis dan kesediaan hermeneutis yang dikenal sebagai objektivitas lemah (weak objectivity) (Bloch, 1954).
  • Dimensi Metodologis: Annales mempraktikkan keragaman instrumen dari ragam ilmu (sosiologi, linguistik, ekonometri) (Burke, 1990). Historikus tidak lagi sebatas menelaah dokumen arsip elite, namun berekspansi menganalisis data kuantitatif, bukti demografis, tradisi lisan, hingga semiotika visual (Burke, 1990).
  • Dimensi Aksiologis: Ketimbang menyajikan pelajaran moral picisan, Annales dan hermeneutika filosofis sepakat bahwa tujuan sejarah adalah merawat imajinasi historis, menyadarkan manusia akan kompleksitas masyarakatnya, dan memperdalam pemahaman tentang kondisi manusia di berbagai situasi struktural (Bloch & Febvre, 1929; Bloch, 1954).

Signifikansi Relasi Ketiganya bagi Historiografi Kontemporer

Relasi organik ketiga hal di atas memberikan landasan yang kukuh bagi perkembangan historiografi kontemporer. Visi histoire totale melahirkan sub-disiplin khusus yang tetap holistik, sebut saja sejarah ekonomi, sejarah sosial, serta sejarah mentalitas yang terus relevan menafsirkan kepekaan kultural zaman lampau (Duby, 1981).

Paradigma longue durée juga menginspirasi lahirnya sejarah lingkungan (environmental history) yang amat relevan di tengah ancaman krisis iklim hari ini (Braudel, 1958). Dalam konteks kelautan Asia Tenggara, sejarah maritim yang melihat laut sebagai ruang dinamis tempat silang budaya bergaul juga berutang budi pada kacamata Annales (Cemeti, 2025). Bahkan, di ranah digital history masa kini yang didominasi oleh pangkalan data raksasa, pertanyaan-pertanyaan epistemologis perihal bias teknologi tetap berpijak pada fondasi refleksi filosofis (Cemeti, 2025).

Kesimpulan

Relasi antara filsafat, ilmu sejarah, dan Mazhab Annales menjalin sebuah ikatan simpul yang fundamental dan saling mematangkan. Ilmu sejarah akan selalu membutuhkan pisau bedah epistemologi dan ontologi dari filsafat untuk mengevaluasi standar kebenarannya.

Mazhab Annales membuktikan diri sebagai manifestasi nyata lahirnya visi filosofis baru mengenai historiografi. Melalui perlawanan terhadap positivisme yang kaku, integrasi ilmu-ilmu sosial, penerapan metode hermeneutika, dan perluasan objek ontologis, Annales berhasil mentransformasi wajah historiografi modern (Burke, 1990; Munigar, 2025).

Khusus di Indonesia dan Asia Tenggara, kacamata Annales memampukan kita membaca sejarah pascakolonialisme atau dinamika agraria tidak sebatas sebagai gejolak politik instan, tetapi sebagai persilangan struktur yang terjalin dengan ekologi geografi dan ketahanan mental masyarakatnya (Munigar, 2025). Dengan menyadari hal ini, kita mengakui bahwa menelaah masa lalu membutuhkan ketelitian metode historis dan keluwesan cakrawala filosofis.

Daftar Pustaka

Bloch, M. (1954). The Historian’s Craft: Reflections on the Nature and Uses of History. Vintage Books.

Bloch, M., & Febvre, L. (1929). A nos lecteurs. Annales d’histoire Économique et Sociale, 1(1), 1–2.

Braudel, F. (1949). The Mediterranean and the Mediterranean World in the Age of Philip II. Harper and Row.

Braudel, F. (1958). Histoire et Sciences sociales: La longue durée. Annales. Histoire, Sciences Sociales, 13(4), 725–753.

Burke, P. (1990). The French Historical Revolution: The Annales School, 1929-1989. Polity Press.

Cemeti, T. (2025). “Catatan Sejarah Indonesia: Sebuah Perspektif Perancis.” Kunci.

Comte, A. (1830-1842). Cours de Philosophie Positive (6 vols.). Bachelier.

Dilthey, W. (1883). Einleitung in die Geisteswissenschaften: Versuch einer Grundlegung für das Studium der Gesellschaft und der Geschichte. Duncker und Humblot.

Duby, G. (1974). The Early Growth of the European Economy: Warriors and Peasants from the Seventh to the Twelfth Century. Cornell University Press.

Duby, G. (1981). The Three Orders: Feudal Society Imagined. University of Chicago Press.

Gadamer, H. G. (1960). Truth and Method. Continuum.

Giddens, A. (1984). The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration. University of California Press.

Hamid, R. (2018). “Sejarah Epistemologi: Perjalanan Pemikiran Manusia dalam Memahami Pengetahuan.” Jurnal Pendidikan Filsafat, 7(2), 145-167.

Munigar, M. M. R. (2025). “Diantara Dua Mazhab: New History dan Annales School dalam Historiografi Modern.” Jurnal Darmajati, 45(3), 201-227.

Nasir, M. (2017). “Sejarah Mentalitas (l’histoire mentalité).” Blog Sejarah.

Nasir, M., & Vovelle, M. (1997). Ideologies and Mentalities. University of Chicago Press.

Raharjo, M. D. (2007). “Max Weber dan Teori Verstehen dalam Sosiologi Klasik.” Jurnal Sosiologi, 12(2), 78-96.

Sidik, H., & Sulistyana, I. P. (2021). Hermeneutika Sebuah Metode Interpretasi Dalam Kajian Filsafat Sejarah. Agastya: Jurnal Sejarah Dan Pembelajarannya, 11(1), 19-34.

Susilo, D. (2007). “Politik Tubuh Perempuan: Ontologi dan Epistemologi dalam Historiografi Feminis.” Jurnal Kajian Perempuan, 9(4), 401-428.

Theindependentinsight. (2023). “Idea Longue Durée Dalam Aliran Sejarah Annales.” The Independent Insight.

Weber, M. (1922). Wirtschaft und Gesellschaft: Grundriss der Verstehenden Soziologie. Mohr.

Abdullah Muhammad Irsyad Syafiudin

Comments

Berikan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga