Fenomena doomscrolling, yakni kebiasaan menelusuri arus informasi negatif secara terus-menerus di media sosial, telah menjadi salah satu gejala paling mencolok dalam kehidupan digital kontemporer. Meskipun pada awalnya didorong oleh keinginan untuk tetap mengikuti perkembangan terbaru, perilaku ini kerap berkembang menjadi pola konsumsi informasi yang tidak terkendali dan memicu kecemasan. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai platform digital seperti X, TikTok, dan Instagram menunjukkan bagaimana pengguna terjebak dalam spiral berita buruk yang dikurasi algoritma berdasarkan keterlibatan emosional, bukan relevansi atau nilai informatif. Akibatnya, pengalaman berselancar di dunia maya yang semestinya menjadi sarana memperoleh pengetahuan justru berubah menjadi sumber stres psikologis dan kelelahan mental.
Di tengah kesemrawutan perhatian ini, Stoisisme kembali relevan sebagai kerangka etis yang menawarkan ketenangan melalui disiplin internal. Para filsuf Stoa, khususnya Epictetus dan Marcus Aurelius, menegaskan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada kejadian eksternal, melainkan pada sikap batin dalam meresponsnya. Pandangan ini kontras dengan budaya digital yang mendorong reaktivitas cepat terhadap setiap informasi, sekaligus mempersulit individu untuk melepaskan diri dari paparan negatif yang berada di luar kendali mereka. Dengan demikian, mengkaji doomscrolling melalui perspektif Stoisisme tidak hanya membuka pemahaman filosofis tentang daya tarik kebiasaan ini, tetapi juga menawarkan wawasan praktis mengenai bagaimana individu dapat membangun ketahanan emosional dan mencapai kebahagiaan yang lebih stabil di era kelebihan informasi.
Konsep Doomscrolling
Doomscrolling merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kecenderungan mengonsumsi informasi negatif secara berlebihan melalui media digital. Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya ketergantungan masyarakat pada media sosial sebagai sumber informasi utama. Algoritma platform digital yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna cenderung mempromosikan konten bernada emosional, terutama yang memicu kecemasan, kemarahan, atau kejengkelan karena jenis konten tersebut lebih efektif menarik perhatian. Akibatnya, individu mudah terjebak dalam siklus konsumsi yang memperkuat paparan terhadap informasi negatif.
Dari perspektif psikologis, doomscrolling berpotensi menggerus kesejahteraan emosional. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap konten negatif dapat meningkatkan kecemasan, rasa tidak berdaya, serta menurunkan kebahagiaan subjektif (Schimmels et al., 2024). Efek ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi dapat berkembang menjadi pola perilaku yang memperkuat dorongan untuk terus mencari kabar buruk sebagai bentuk kewaspadaan yang keliru. Dengan demikian, motivasi awal untuk tetap terinformasi justru berujung pada tekanan psikologis.
Selain itu, doomscrolling berkaitan dengan kecenderungan evolusioner manusia untuk memprioritaskan informasi ancaman. Dalam konteks pramodern, mekanisme ini berfungsi adaptif untuk mempertahankan hidup. Namun, dalam lingkungan digital yang penuh rangsangan, mekanisme yang sama menjadi disfungsional. Akses tanpa batas terhadap berita, komentar, dan opini yang memicu alarm mental memperkuat pola konsumsi negatif yang berulang.
Secara keseluruhan, doomscrolling mencerminkan ketegangan antara kemajuan teknologi informasi dan keterbatasan kapasitas manusia dalam mengelolanya. Tanpa regulasi diri, kebebasan akses informasi justru dapat merusak kesejahteraan emosional. Di sinilah relevansi Stoisisme muncul, sebagai kerangka yang menekankan pengelolaan persepsi dan respons terhadap dunia luar.
Kebahagiaan dalam Stoisisme: Eudaimonia
Dalam filsafat Stoik, kebahagiaan dipahami bukan sebagai suasana hati sementara, melainkan sebagai eudaimonia, yakni kondisi keberkembangan diri yang dicapai melalui hidup selaras dengan kebajikan. Eudaimonia bukan sekadar perasaan bahagia, tetapi kualitas hidup yang dihasilkan dari kemampuan mengarahkan diri secara rasional dan etis. Para filsuf Stoa berpendapat bahwa kebahagiaan sejati tidak bersumber dari kondisi eksternal yang tidak dapat dikendalikan, melainkan dari pembentukan karakter melalui kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan pengendalian diri.
Konsep ini menegaskan bahwa dunia luar bersifat tidak tetap dan penuh ketidakpastian. Epictetus menekankan bahwa penderitaan manusia lebih sering berasal dari penilaian terhadap peristiwa, bukan dari peristiwa itu sendiri. Oleh karena itu, kebahagiaan tidak bergantung pada mengubah dunia, melainkan pada cara individu menanggapinya. Perspektif ini menjadi sangat relevan dalam konteks modern, ketika individu menghadapi arus informasi yang tak terkendali (Furnham & Robinson, 2024).
Lebih jauh, penekanan Stoik pada kebajikan sebagai satu-satunya kebaikan sejati menunjukkan bahwa kebahagiaan merupakan hasil dari latihan moral. Dalam konteks digital yang sarat impuls emosional, konsep ini menuntut individu untuk memilah mana yang layak direspons dan mana yang sebaiknya diabaikan.
Temuan dalam psikologi kontemporer turut mendukung pandangan ini. Studi mengenai regulasi emosi, self-efficacy, dan subjective well-being menunjukkan bahwa kemampuan mengelola kondisi internal berperan besar dalam kebahagiaan jangka panjang. Dengan demikian, Stoisisme memberikan fondasi filosofis yang memperkaya pemahaman ilmiah mengenai kesejahteraan manusia.
Dengan pemahaman mendalam tentang eudaimonia sebagai fondasi kebahagiaan sejati, kita kini dapat melihat bagaimana doomscrolling secara fundamental bertentangan dengan prinsip-prinsip Stoik. Ketegangan ini bukan hanya akademis; ia mencerminkan pilihan etis yang dihadapi setiap individu dalam menjalani kehidupan digital.
Doomscrolling vs. Stoisisme
Ketegangan antara doomscrolling dan Stoisisme terletak pada cara manusia merespons dunia luar. Doomscrolling bersifat reaktif, mendorong individu untuk segera merespons informasi, terutama yang bernada ancaman. Mekanisme ini menciptakan ilusi kontrol terhadap ketidakpastian, padahal justru memperbesar kecemasan.
Sebaliknya, Stoisisme menekankan jarak emosional dan penilaian rasional terhadap rangsangan eksternal. Informasi negatif tidak dianggap merusak secara inheren; yang merusak adalah cara individu menilai dan meresponsnya secara berlebihan. Dalam hal ini, doomscrolling dapat dipahami sebagai bentuk keterikatan pada hal-hal di luar kendali, atau sesuatu yang secara eksplisit dikritik dalam Stoisisme.
Data psikologis kontemporer memvalidasi kekhawatiran Stoik kuno ini. Penelitian menunjukkan bahwa otonomi diri dan ketahanan psikologis—kedua-duanya merupakan hasil dari latihan moral—berkorelasi kuat dengan kesejahteraan jangka panjang. Sebaliknya, reaktivitas emosional yang mendefinisikan doomscrolling tidak hanya merusak kesejahteraan mental sesaat, tetapi juga mengikis kemampuan individu untuk mengembangkan sifat-sifat yang Stoik anggap penting bagi eudaimonia. Dengan demikian, persoalan doomscrolling bukan semata pengaturan waktu layar, melainkan persoalan pembentukan diri.
Ketegangan ini mencerminkan dilema manusia modern: apakah individu akan tunduk pada rangsangan digital, atau mengembangkan disiplin batin untuk mempertahankan kemandirian moral. Oleh karena itu, persoalan doomscrolling tidak hanya bersifat teknologis, tetapi juga etis.
Doomscrolling menunjukkan bagaimana budaya digital dapat menarik individu ke dalam pola konsumsi informasi negatif yang merugikan kesejahteraan psikologis. Dalam menghadapi fenomena ini, Stoisisme menawarkan kerangka etis yang relevan melalui konsep eudaimonia dan pengendalian diri.
Menuju Kehidupan Digital yang Beradab
Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan digital yang dapat diatasi dengan aplikasi atau pembaruan algoritma semata. Fenomena ini mengungkap ketegangan fundamental antara arsitektur media sosial—yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan melalui kecemasan—dan kapasitas manusia untuk mengalami kehidupan yang bermakna. Ketegangan ini tidak dapat diselesaikan oleh teknologi saja, melainkan membutuhkan transformasi etis pada tingkat individu.
Di sini, Stoisisme menawarkan lebih dari sekadar pemahaman filosofis: ia menyediakan praktik konkret. Dengan mengadopsi prinsip dichotomy of control, individu dapat mengidentifikasi mana informasi yang layak mendapat perhatian dan mana yang merupakan kebisingan yang merusak. Dengan mengutamakan pembentukan karakter melalui kebajikan daripada pengumpulan reaksi emosional, seseorang dapat membangun ketahanan yang tidak bergantung pada kendali eksternal. Dengan melatih penilaian rasional, individu menjadi mampu menolak manipulasi algoritmik dan mempertahankan otonomi moral.
Pertanyaan yang tersisa adalah bagaimana ajaran Stoik kuno ini dapat diterjemahkan ke dalam konteks digital yang terus berubah. Apakah diskomunikasi digital memerlukan praksis Stoik yang baru? Bagaimana komunitas dapat mendukung perjalanan individu menuju kemandirian emosional? Dan—pertanyaan yang paling mendesak—dapatkah platform digital itu sendiri didesain ulang untuk mendukung, bukan mengkompromikan, kehidupan yang baik? Kajian empiris lebih lanjut tentang penerapan prinsip Stoik dalam konteks digital akan membuka wawasan berharga bagi etika teknologi kontemporer.









Berikan komentar