5–7 menit

Simulakra dan Negeri yang Candu akan Reputasinya Sendiri

Membaca Baudrillard tidak membuat kita bisa keluar dari simulakra. Tapi membaca Baudrillard membuat kita sadar bahwa kita berada di dalamnya.

Jean Baudrillard

Suatu hari di tahun 1991, Jean Baudrillard menerbitkan buku berjudul The Gulf War Did Not Take Place. Judulnya provokatif dan sengaja dibuat demikian. Perang Teluk baru saja berlangsung, disiarkan langsung oleh CNN ke seluruh dunia, dengan rudal-rudal yang melesat di langit Baghdad seperti kembang api kiamat. Dan di tengah gegap gempita liputan 24 jam itu, Baudrillard menulis: perang itu tidak benar-benar terjadi.

Tentu saja ia tidak bermaksud mengatakan bahwa tidak ada bom yang jatuh atau tidak ada orang yang mati. Yang ia maksud adalah bahwa perang yang kita saksikan di televisi bukanlah perang yang sesungguhnya. Ia adalah simulasi perang. Representasi yang diproduksi, diedit, diberi narasi, dan dikemas sebagai tontonan yang sama sekali berbeda dari kenyataan yang terjadi di lapangan.

Ini adalah inti dari pemikiran Jean Baudrillard, filsuf Prancis yang mungkin paling sulit dicerna namun paling akurat dalam mendiagnosis zaman kita. Ia menulis tentang simulakra, hiperrealitas, dan bagaimana realitas secara perlahan digantikan oleh salinan dari salinan yang tidak lagi merujuk pada apapun yang asli.

Konsep kunci Baudrillard adalah apa yang ia sebut sebagai “the precession of simulacra.” Dalam bukunya Simulacra and Simulation, ia menjelaskan bagaimana dalam masyarakat kontemporer, representasi tidak lagi mencerminkan realitas. Lebih buruk dari itu, representasi telah menggantikan realitas itu sendiri. Peta tidak lagi mewakili wilayah. Peta telah menjadi lebih penting daripada wilayah, dan pada titik tertentu, wilayah itu sendiri mulai mengikuti peta.

“Sekarang kita hidup dalam hiperrealitas,” tulis Baudrillard, “di mana simulasi tidak lagi meniru realitas, melainkan memproduksi realitas yang lebih nyata dari yang nyata.” Inilah hyperreality. Sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada tapi dirasakan lebih riil dan lebih meyakinkan daripada kenyataan itu sendiri.

Kita bisa memulai dengan sesuatu yang sederhana. Sebut saja: influencer. Di media sosial, seorang influencer memamerkan kehidupannya yang tampak sempurna. Liburan ke Bali, kopi pagi di kafe estetik, outfit of the day yang selalu on point, pasangan yang tampak saling mencintai tanpa cela. Semua ini adalah simulakra. Ia bukan dokumentasi kehidupan, melainkan produksi kehidupan yang tidak pernah benar-benar terjadi. Foto itu diambil puluhan kali sebelum mendapatkan yang sempurna. Kopi itu sudah dingin saat difoto. Hubungan itu mungkin retak di balik layar. Tapi tidak ada yang peduli. Karena representasinya sudah lebih nyata dari yang nyata.

Dan di sinilah Baudrillard menjadi sangat relevan bagi Indonesia hari ini. Kita hidup di negeri yang mungkin adalah salah satu laboratorium hiperrealitas paling semarak di dunia. Mari kita lihat beberapa contoh.

Fenomena flexing di kalangan selebgram dan pengusaha muda. Merek-merek memamerkan kekayaan yang sebagian besar adalah pinjaman atau editan. Tapi publik menelannya sebagai kenyataan. Mereka membandingkan hidupnya sendiri dengan hidup yang sebenarnya tidak ada, lalu merasa gagal. Hiperrealitas menciptakan standar yang tidak bisa dicapai, lalu menyalahkan individu yang tidak bisa mencapainya.

Fenomena judi online juga bisa dibaca dalam kerangka ini. Para pemain judi online tidak berjudi untuk uang. Mereka berjudi untuk simulakra kemenangan. Grafik yang naik, animasi koin yang berhamburan, angka saldo yang bertambah — semua ini adalah simulasi. Uang itu tidak pernah benar-benar ada. Begitu ditarik, ia lenyap. Tapi simulasi itu begitu menggoda sehingga orang terus kembali. Mereka kecanduan bukan pada uangnya, melainkan pada representasi uangnya.

Fenomena viral sebagai ukuran kebenaran adalah contoh paling mengerikan dari hiperrealitas ala Baudrillard. Dalam logika yang sehat, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan fakta. Fakta dulu, baru viral. Tapi di Indonesia, kita sering menyaksikan kebalikannya: viral dulu, baru dianggap benar. Jika sesuatu sudah trending di Twitter, ia dianggap sebagai fakta oleh jutaan orang yang tidak pernah memeriksa sumber aslinya. Representasi telah menelan realitas bulat-bulat.

Baudrillard menjelaskan bahwa ada empat fase dalam relasi antara representasi dan realitas. Fase pertama: representasi adalah cerminan dari realitas. Fase kedua: representasi mulai menyembunyikan dan mendistorsi realitas. Fase ketiga: representasi menyembunyikan bahwa realitas sudah tidak ada. Dan fase keempat, yang paling gelap: representasi sama sekali tidak berhubungan dengan realitas apapun. Ia adalah simulakra murni, salinan tanpa original.

Saya menduga Indonesia sudah sering beroperasi di fase keempat. Lihatlah bagaimana kasus hukum ditangani. Seorang terdakwa korupsi muncul di televisi dengan baju tahanan yang tampak kebesaran, wajah tertunduk lesu. Simulakra penyesalan. Beberapa bulan kemudian ia divonis ringan, setelah sebelumnya ramai-ramai diviralkan sebagai “musuh rakyat.” Simulakra keadilan. Publik mengamuk di media sosial, lalu lupa. Simulakra partisipasi. Semua serba simulasi dan tidak ada yang benar-benar terjadi.

Politik Indonesia juga adalah galeri simulakra. Kampanye yang dipoles seperti film layar lebar. Tagline yang dirancang seolah-olah keluar dari mulut rakyat. Debat yang bukan debat, melainkan pembacaan jawaban yang sudah dihafal. Retret Kabinet di mana pejabat berfoto bersama dengan jargon kebangsaan yang megah sementara kebijakan konkretnya tidak jelas. Semuanya adalah pertunjukan yang mengaburkan fakta bahwa kenyataan sudah lama menguap.

Baudrillard menyebut fenomena ini sebagai the murder of the real — pembunuhan terhadap realitas. Dan pembunuhan ini dilakukan bukan dengan senjata, melainkan dengan produksi tanda-tanda yang begitu masif dan begitu menggoda sehingga tidak ada lagi ruang bagi realitas untuk muncul. Tanda-tanda menumpuk, bertabrakan, saling menegasi, dan akhirnya menciptakan kabut semiotik di mana tidak ada yang bisa dipastikan benar atau salah.

Kita bisa melihat contoh yang paling gamblang dalam pemilu dan pilkada. Lihatlah bagaimana survey dan quick count diproduksi dan disajikan. Angka-angka yang diklaim sebagai potret realitas sebenarnya adalah bagian dari produksi realitas itu sendiri. Survey bukan lagi alat untuk mengetahui opini publik. Survey adalah alat untuk membentuk opini publik. “Yang menang di quick count” dianggap sudah menang, bahkan sebelum suara dihitung secara resmi. Simulakra kemenangan telah mendahului kemenangan itu sendiri.

Bahkan identitas kita sehari-hari terjebak dalam logika simulakra. Profil media sosial kita bukanlah representasi diri kita. Ia adalah versi ideal dari diri kita yang tidak pernah benar-benar ada. Kita memproduksi diri kita sebagai konten, sebagai merek, sebagai produk yang harus terus menerus dipasarkan. Manusia berubah menjadi influencer bagi dirinya sendiri. Dan semakin kita asyik mengelola avatar digital kita, semakin terasa asing diri kita yang sebenarnya.

Pertanyaan besarnya tentu saja: apa yang bisa dilakukan? Baudrillard bukan filsuf yang menawarkan jalan keluar. Kritik yang paling sering dilemparkan kepadanya adalah bahwa ia terlalu nihilistik, terlalu larut dalam kenikmatan menganalisis keruntuhan tanpa memberi harapan. Tapi mungkin justru itulah yang kita butuhkan. Bukan solusi instan yang berubah menjadi simulakra baru. Melainkan kesadaran bahwa kita sudah terlanjur tenggelam dalam lautan tanda.

Membaca Baudrillard tidak membuat kita bisa keluar dari simulakra. Tapi membaca Baudrillard membuat kita sadar bahwa kita berada di dalamnya. Dan kesadaran itu, meskipun kecil, adalah retakan pertama pada dinding hiperrealitas yang selama ini kita anggap sebagai satu-satunya kenyataan. Mungkin kebenaran hari ini bukan lagi tentang menemukan realitas yang asli — karena realitas itu sudah lama terbunuh — melainkan tentang berhenti memercayai bahwa simulakra yang kita produksi sendiri adalah jawabannya.

Baudrillard meninggal tahun 2007. Ia tidak melihat Instagram, TikTok, atau pemilu yang viral dengan joget gemoy. Tapi ia mungkin akan tersenyum tipis jika melihat semuanya. Dan ia mungkin akan berkata: “Aku sudah bilang. Realitas sudah mati. Kalian hanya belum menyadarinya.”

Referensi

Baudrillard, Jean. (1994). Simulacra and Simulation. University of Michigan Press.

Galih Wardhana

Comments

Berikan komentar

Baca Juga