5–8 menit

Film L’Étranger dan Absurditas Hidup di Era Algoritma

Camus tidak menawarkan pelarian dari dunia, melainkan keberanian untuk merebut kembali kendali atas cara kita menjalaninya.

Meursault dan Absurditas

Seorang pria kulit putih dibawa petugas secara paksa ke dalam ruang sel. Ruang sel yang sesak dipenuhi orang-orang Arab dan berlantaikan tanah liat. “Buakkkgg”, pintu ruang terbanting, tanda petugas pergi meninggalkan si pria kulit putih bersama tahanan lainnya. Masih dalam sel, salah satu orang Arab berdiri dari duduknya lalu bertanya pada si “orang asing” yang berdiri menghadang pintu sel, “apa yang kamu lakukan?”. Si orang asing menjawab, “J’ai tué un Arabe (saya membunuh orang Arab)”. Dan film pun dimulai.

Tulisan ini merupakan ulasan mengenai film L’Étranger (2025), yang kemudian baru tayang di caturwulan dua, 2026, di Australia. Film ini merupakan garapan François Ozon, dengan skenario Ozon dan Philippe Piazzo berdasarkan novel mapan Albert Camus dengan judul yang sama. Sebelum menyaksikan film ini, saya mempersiapkan ekspektasi setinggi mata kaki balita. Maklum, saya tidak ingin patah hati karena kecewa. Sialnya, film ini dieksekusi dengan sangat baik, paling tidak menurut pandangan saya yang membaca buku Camus tersebut terakhir kali mungkin sekitar 10 tahun lalu. Namun saya tidak akan bercerita secara detail karena tidak ingin menjadi spoiler.

Kisah protagonis, Meursault, yang membunuh seorang Arab kemudian menjadi inspirasi band asal Sussex, Inggris, The Cure, dalam single tahun 1978 berjudul Killing an Arab. Bukan kisah thriller pada umumnya, film ini bercerita mengenai sosok yang justru terasa asing terhadap hidup itu sendiri. Hal ini sudah ditegaskan sejak awal melalui kalimat pembuka yang terkenal:

Aujourd’hui Maman est morte. Ou peut-être hier, je ne sais pas.”
 (Hari ini ibu meninggal. Atau mungkin kemarin, aku tidak tahu.)

L’Étranger berlatar Aljazair tahun 1940-an, dalam konteks kolonialisme Prancis. Camus menggambarkan dengan cukup jelas hierarki sosial antara orang Eropa seperti Meursault dan masyarakat Arab. Bahkan, karakter Arab dalam novel ini tidak pernah benar-benar diberi nama. Seolah-olah keberadaan mereka tidak cukup penting untuk diingat. Menariknya, film ini mampu mempertahankan ketimpangan itu tanpa harus menggurui. Saat menonton, film ini juga dengan apik menunjukan suasana yang mengubah manusia menjadi angka dan kategori. Suasana yang terasa tidak asing hari ini, di tengah penjajahan modern yang merenggut nyawa-nyawa yang tidak terdeteksi nama-namanya.

Film ini juga berhasil menggambarkan situasi persidangan Meursault dengan apik. Di situ terlihat bahwa Meursault sebenarnya tidak benar-benar diadili karena membunuh. Ia didakwa oleh jaksa dan diadili oleh saksi serta hakim karena tidak menangis saat ibunya meninggal. Meursault dianggap tidak memiliki “perasaan yang layak”. Situasi di persidangan menunjukan secara gamblang bahwa yang lebih penting bukan apa yang Meursault lakukan, melainkan bagaimana ia tampil di mata orang lain. Fenomena ini terasa sangat dekat. Kita hidup di dunia yang semakin menuntut ekspresi yang benar, bukan kenyataan yang jujur.

Kita hidup di zaman yang mana ekspresi moral sering kali lebih penting daripada kenyataan itu sendiri. Media sosial, algoritma, hingga budaya digital membuat manusia semakin sibuk menampilkan emosi yang “layak” dipertontonkan yang penting “like” atau “subscribe”. Kita didikte kapan harus marah, kapan harus sedih, kapan harus terlihat peduli. Dalam dunia seperti itu, Meursault terasa seperti ancaman.

Pemilihan warna hitam-putih dalam film terasa tepat. Aktris dan aktor berperan dengan sangat baik dalam menghidupkan apa yang sebelumnya hanya terbaca di dalam buku, terutama Benjamin Voisin yang memerankan Meursault. Penggambaran situasi kolonial Aljazair dan ketimpangan material antara penjajah dan yang dijajah berhasil menerjemahkan atmosfer Camus dengan baik. Bahkan, ritme cerita yang sengaja membosankan di beberapa bagian, yang dalam novel membuat pembaca jenuh, diadaptasi dengan baik untuk membuat penonton merasakan hal serupa.

Musik dari Fatima Al Qadiri, artis asal Kuwait, menjadi elemen penting. Gelap namun mendamaikan. Perpaduan antara musik horor Eropa dan suara seruling Arab, dipadukan dengan suasana pantai, ombak, dan angin yang memang menjadi elemen tak terpisahkan dalam dunia Camus. Juga, perpaduan suara adzan yang semakin memperkuat konteks ruang dan pengalaman.

Refleksi Absurditas di Era Teknofeudalisme

Meursault bekerja, makan, tidur, pergi ke pantai, lalu mengulang lagi. Tidak ada ambisi besar, tidak ada pencarian makna hidup. Hidupnya berjalan begitu saja.

Kisah Meursault ini mengingatkan saya pada buku catatan Heinrich Harrer, salah satu pendaki gunung termahsyur di awal abad 20 dalam bukunya Seven Years in Tibet. Buku ini kemudian diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama, yang diperankan oleh Brad Pitt. Ada satu adegan menarik ketika para biksu Tibet membuat pola mandala dari serpihan batu. Untuk membentuk pola tersebut dibutuhkan waktu berhari-hari, sebuah karya seni yang rumit dan penuh kesabaran. Namun setelah selesai, pola itu justru dihapus kembali hingga kosong. Kerja keras yang panjang, hanya untuk dihapus, lalu pengerjaannya dilakukan lagi secara berulang. Adegan itu membuat saya kembali mengingat Meursault. Seperti mandala yang diciptakan lalu dihapus, keseharian Meursault mengalir dalam pengulangan, terbebas dari justifikasi untuk mencapai tujuan hidup.

Mungkin, di situlah absurditas bekerja. Dalam esainya tentang Sisyphus, Camus membayangkan manusia seperti sosok yang terus mendorong batu ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya jatuh kembali. Siklus yang tampak sia-sia itu bukan tragedi bagi Camus, melainkan kondisi dasar manusia. Kita bangun, bekerja, tidur, lalu mengulanginya lagi. Namun justru ketika manusia sadar bahwa hidup tidak memiliki makna inheren, di situlah kebebasan muncul. Tidak ada lagi kewajiban untuk menjadi “sempurna”, “sukses”, atau “berhasil” menurut ukuran yang dipaksakan dunia di luar sana. Dalam absurditas, manusia akhirnya berhadapan langsung dengan hidup apa adanya.

Pesan provokatif dari Camus memang tentang ketiadaan makna hidup. Sekilas terdengar pesimistik, tetapi justru di situlah letak pembebasannya. Dalam absurditas, manusia tidak lagi dibebani kewajiban untuk menemukan makna besar. Dalam buku The Death of God and the Meaning of Life, pada bagian mengenai Camus, Julian Young menyebut bahwa hidup bukan untuk dibangun, tetapi untuk “dibakar habis”. Camus sendiri tidak terlalu mempersoalkan tujuan jangka panjang. Dalam kondisi absurd, tujuan paling sederhana; makan, tidur, bertahan hidup. Cukup.

Di era yang oleh Yanis Varoufakis disebut sebagai tekno-feudalisme, penerapan absurditas Camus menjadi semakin memikat. Menurut Yanis, kita tidak lagi sepenuhnya hidup dalam kapitalisme yang kita kenal. Dulu, setidaknya relasi kerja masih bisa dibayangkan secara lebih langsung: seseorang menjual tenaga kerja, lalu menuntut upah, waktu istirahat, dan perlindungan yang layak. Perjuangan buruh berangkat dari ketimpangan yang relatif mudah dikenali: majikan, pabrik, jam kerja, dan tubuh yang dieksploitasi.

Hari ini, bentuk eksploitasi itu tidak hilang, tetapi berubah rupa. Di dunia maya, kita bukan bekerja, tetapi juga terus menghasilkan nilai ketika sedang menggulir layar, memberi data, membentuk kebiasaan, dan menyerahkan perhatian. Platform tidak hanya mengambil keuntungan dari kerja formal, tetapi juga dari jejak hidup sehari-hari. Dalam situasi ini, manusia menjadi penghuni dalam sistem digital yang dimiliki segelintir pihak. Jika feodalisme lama memiliki tuan tanah, tekno-feodalisme memiliki tuan platform. Bedanya, tuan hari ini tidak selalu terlihat; ia hadir melalui algoritma.

Di tengah himpitan busa kata-kata dari buzzer, kecerdasan buatan, maupun berbagai subjek dengan asosiasi lainnya, absurditas menjadi semakin relevan. Ketidakbermaknaan hidup justru memberikan ruang bagi manusia untuk menentukan maknanya sendiri. Camus mengaktualisasikan Sisyphus melalui Meursault, bukan sebagai pahlawan atau teladan moral, melainkan sebagai sosok yang tidak memoles ekspresi demi memenuhi naskah sosial. Dalam dunia yang semakin menuntut kita tampil produktif, peduli, bahagia, marah, atau sukses sesuai format yang disukai algoritma, sikap itu tampak seperti penolakan kecil terhadap pabrik makna yang terus bekerja.

Maka, landasan etis dari absurditas bukanlah menyerah pada hidup, melainkan berhenti berpura-pura tentangnya. Dalam jagat tekno-feodalisme, perjuangan manusia termasuk perjuangan buruh tidak lagi hanya tentang merebut upah yang adil, tetapi juga merebut kembali waktu, perhatian, dan kemungkinan untuk menentukan makna hidup sendiri. Menjadi “pahlawan absurditas” seperti Meursault tiba-tiba terasa semakin memikat, bukan karena kita ingin menjadi acuh dan dingin, tetapi karena kita ingin berhenti dipaksa merasa, bekerja, dan hidup menurut naskah yang ditulis orang lain bahkan algoritma.

Pada titik itu absurditas, dan teknofeodalisme bersinggungan. Kesadaran atas hidup yang absurd dapat menjadi awal untuk menolak ukuran yang ditetapkan platform. Camus tidak menawarkan pelarian dari dunia, melainkan keberanian untuk merebut kembali kendali atas cara kita menjalaninya.

Rayhan Dudayev

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga