10–14 menit

Ketiadaan Bukti Bukanlah Bukti Ketiadaan Tuhan

Dari kenyataan bahwa kita “tidak menemukan X” tidak bisa begitu saja disimpulkan bahwa “X tidak ada”. Tetapi dalam praktik, ketiadaan bukti bisa menjadi kesimpulan yang wajar, tergantung ekspektasi yang kita bawa.

Bertrand Russell

Seorang kawan berkata kepada Anda, “Tuhan itu tidak ada. Coba tunjukkan satu saja bukti yang meyakinkan bahwa Dia ada.”

Anda terdiam sejenak. Lalu menjawab, “Ketiadaan bukti bukanlah bukti ketiadaan.”

Pertukaran semacam ini barangkali tidak asing. Entah di warung kopi, di kolom komentar media sosial, atau di ruang kuliah. Sekilas, jawaban Anda terdengar tak terbantahkan. Tentu saja, dari kenyataan bahwa kita belum menemukan sesuatu, tidak bisa serta-merta kita simpulkan bahwa sesuatu itu tidak ada.

Tetapi, seperti banyak hal lain dalam filsafat, yang terdengar sederhana sering kali menyimpan kerumitan yang pelik. Apakah jawaban itu benar-benar tameng yang kokoh? Atau jangan-jangan ia hanya tameng yang bolong, nyaman dipakai tetapi tidak benar-benar melindungi?

Tulisan ini hendak mengkaji pertanyaan tersebut dari dua sisi secara berimbang. Di satu pihak, ada argumen yang mempertahankan bahwa ketiadaan bukti memang tidak bisa disetarakan dengan bukti ketiadaan. Di pihak yang lain, ada argumen yang menunjukkan bahwa dalam keadaan tertentu, ketiadaan bukti justru menjadi kesimpulan yang wajar.

Tesis yang coba saya ajukan sederhana. Validitas ungkapan di atas sangat bergantung pada dua hal, bagaimana “Tuhan” didefinisikan, dan standar pembuktian macam apa yang kita anggap memadai. Kedua faktor ini akan kita uji sepanjang pembahasan.

Logika Dasar di Balik Ungkapan

Sebelum masuk ke perdebatan teologisnya, kita perlu memahami logika dasar yang menopang ungkapan ini.

Dari segi pengetahuan, ada perbedaan mendasar antara dua klaim. Yang pertama adalah ketiadaan bukti, kondisi di mana kita belum atau tidak menemukan bukti tentang suatu hal, sebut saja X. Yang kedua adalah bukti ketiadaan, kondisi di mana kita punya alasan positif untuk percaya bahwa X memang tidak ada. Keduanya bukan perkara yang sama. Menyamakan begitu saja keduanya adalah lompatan yang tidak bisa dibenarkan tanpa alasan tambahan.

Kendati demikian, ada satu prinsip yang bisa menjembatani keduanya. Prinsip ini disebut prinsip ekspektasi, dan cara kerjanya sederhana. Ia bertolak dari satu pertanyaan berikut, jika suatu hal benar-benar ada, apakah kita punya alasan yang masuk akal untuk mengharapkan jejak atau buktinya?

Kalau jawabannya ya, tetapi setelah dicari bukti itu tidak juga muncul, maka ketiadaan bukti itu sendiri bisa kita terima sebagai petunjuk bahwa hal tersebut memang tidak ada. Namun bila jawabannya tidak, bila tidak ada alasan kuat untuk mengharapkan bukti, maka absennya bukti tidak memberi tahu kita apa-apa. Ia diam. Kita tidak bisa menarik kesimpulan darinya.

Mari kita uji dengan dua contoh yang kontras.

Bayangkan kita berdiri di sebuah ruangan kecil, ukurannya tiga kali tiga meter. Seseorang berkata bahwa ada seekor gajah di ruangan ini. Tentu kita akan langsung melihat ke sekeliling. Jika tidak ada gajah, kita dengan yakin menyimpulkan bahwa gajah itu tidak ada. Mengapa kesimpulan ini valid? Karena gajah berukuran besar dan ruangan ini kecil. Kalau gajah benar-benar ada di sini, mustahil kita tidak melihatnya. Ketiadaan bukti di sini sungguh-sungguh menjadi bukti ketiadaan.

Sekarang bandingkan dengan contoh kedua. Berabad-abad lalu, sebelum mikroskop ditemukan pada abad ke-17, tidak seorang pun punya bukti tentang keberadaan bakteri. Apakah absennya bukti ini cukup untuk menyimpulkan bahwa bakteri tidak ada? Tentu tidak. Pada masa itu tidak ada alat yang sanggup mendeteksi makhluk sekecil itu. Tidak ada ekspektasi wajar bahwa manusia akan melihat bakteri dengan mata telanjang. Dalam kasus ini, ketiadaan bukti cuma keterbatasan alat dan pengetahuan. Ia bukan petunjuk tentang kenyataan.

Dari dua contoh tadi, kunci prinsip ekspektasi terletak pada kata “wajar”. Pertanyaannya bukan sekadar “apakah bukti ada?”, melainkan “seandainya hal ini benar, haruskah kita melihat buktinya?” Kalau seharusnya ya tapi buktinya absen, kita punya alasan untuk meragukan. Kalau tidak, ketiadaan bukti tidak bisa dijadikan dasar apa-apa.

Nah, persoalannya kini, ke dalam kategori manakah Tuhan jatuh? Apakah kita punya ekspektasi yang wajar bahwa kalau Tuhan ada, bukti-bukti tertentu seharusnya tersedia bagi kita?

Di sinilah perdebatan sesungguhnya dimulai. Dan di sinilah pula definisi “Tuhan” yang kita pakai menjadi sangat menentukan. Tuhan yang personal dan aktif dalam sejarah, yang konon mendengar doa dan menjawabnya, melahirkan ekspektasi yang berbeda dibandingkan Tuhan yang menciptakan alam semesta lalu membiarkannya berjalan sendiri. Standar pembuktian yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula.

Mengapa Ketiadaan Bukti Bukan Bukti Ketiadaan

Pihak teis punya beberapa argumen untuk menunjukkan bahwa ketiadaan bukti empiris tentang Tuhan tidak bisa dijadikan bukti ketiadaan-Nya.

Argumen pertama bertolak dari hakikat Tuhan itu sendiri. Tuhan, dalam pemahaman teistik, adalah realitas yang melampaui alam fisik. Ia bukan objek yang bisa ditangkap oleh pancaindra kita. Oleh karenanya, menuntut bukti indrawi tentang Tuhan adalah kekeliruan yang mendasar. Sama kelirunya dengan meminta seseorang menimbang cinta pakai timbangan. Alatnya tidak cocok dengan apa yang hendak diukur.

Argumen kedua menyatakan bahwa kepercayaan pada Tuhan bisa jadi termasuk keyakinan dasar yang tidak memerlukan bukti. Sebagaimana kita percaya pada realitas dunia luar atau keberadaan pikiran orang lain tanpa bukti yang meyakinkan, kepercayaan pada Tuhan bisa bersifat serupa. Dalam kerangka ini, absennya bukti bukanlah masalah. Iman tidak bergantung pada penarikan kesimpulan dari bukti, melainkan diterima sebagai sesuatu yang mendasar. Tokoh utama di balik argumen ini adalah Alvin Plantinga, dan ia menyebutnya properly basic belief.

Argumen ketiga berkaitan dengan apa yang disebut divine hiddenness, ketersembunyian ilahi. Kalau Tuhan ada, bisa jadi ketidaktampakan-Nya memang disengaja. Tuhan mungkin memilih menyembunyikan diri demi memberi ruang bagi manusia untuk beriman tanpa paksaan. Tujuannya agar iman menjadi respons yang tulus, bukan sekadar pengakuan yang dipaksakan oleh bukti yang tak terbantahkan. Dalam kerangka ini, ketiadaan bukti bukan indikasi ketiadaan Tuhan. Ia justru bagian dari desain ilahi untuk memungkinkan relasi personal yang otentik.

Argumen keempat menyoroti batas-batas metode ilmiah. Sains hanya sanggup menangani fenomena alamiah yang terukur dan dapat diulangi. Pertanyaan seperti “mengapa ada sesuatu dan bukan ketiadaan?” atau “apa makna eksistensi?” berada di luar jangkauannya. Maka, tidak adil rasanya menuntut bukti saintifik untuk sesuatu yang secara kategoris melampaui wilayah kerja sains itu sendiri.

Saat Ketiadaan Bukti Mulai Berbicara

Di sisi lain, para pemikir ateistik menawarkan tanggapan yang tidak kalah kuat. Bagi mereka, dalam kondisi tertentu, ketiadaan bukti justru harus kita perhitungkan.

Pertama, soal beban pembuktian. Kalau seseorang mengklaim adanya sesuatu yang luar biasa, beban untuk menunjukkan bukti terletak pada dirinya, bukan pada orang lain untuk membuktikan bahwa klaimnya salah. Dalam keadaan tidak adanya bukti yang meyakinkan, posisi yang masuk akal adalah menahan diri untuk tidak percaya. Ini bukan klaim bahwa Tuhan terbukti tidak ada. Melainkan, pengakuan bahwa alasan untuk percaya belum mencukupi.

Kedua, ada analogi yang diajukan oleh Bertrand Russell. Bayangkan seseorang mengklaim ada sebuah teko porselen kecil yang mengorbit Matahari di suatu tempat antara Bumi dan Mars. Tentu kita tidak bisa membuktikan bahwa teko itu tidak ada. Tetapi ketidakmampuan kita untuk membuktikan ketiadaannya bukanlah alasan untuk percaya bahwa teko itu ada. Russell berargumen bahwa klaim tentang eksistensi Tuhan tidak berbeda secara prinsipil dengan klaim tentang teko tersebut. Beban pembuktian tetap di pundak si pengklaim.

Ketiga, prinsip ekspektasi yang sudah kita bahas bisa berbalik arah. Kalau Tuhan yang maha-baik, maha-kuasa, dan maha-tahu benar-benar ada, kita tentu mengharapkan dunia yang tampak berbeda. Dunia tanpa kejahatan yang berlebihan, tanpa penderitaan yang tak layak, tanpa ketidakjelasan moral yang ekstrem. Inilah jantung dari apa yang disebut problem of evil, masalah kejahatan. Ketiadaan bukti akan kebaikan ilahi yang jelas justru menjadi bukti tandingan terhadap klaim tentang eksistensi Tuhan.

Keempat, bobot dari pencarian yang gagal. W.K. Clifford, seorang filsuf abad ke-19, merumuskan prinsip yang keras, selalu salah, di mana pun, dan bagi siapa pun, untuk memercayai sesuatu berdasarkan bukti yang tidak mencukupi. Dalam semangat inilah, kalau pencarian yang tulus dan berlangsung lama tidak membuahkan bukti, ketiadaan itu sendiri lambat laun menjadi kesimpulan yang wajar. Keyakinan tanpa bukti, setelah investigasi dikerahkan semaksimal mungkin, pada akhirnya tidak berbeda secara fungsional dari keyakinan yang keliru. Bagi Clifford, ini bukan hanya keliru secara pengetahuan, tapi juga keliru secara moral, karena ia menanamkan kebiasaan berpikir yang ceroboh.

Tangkisan Kaum Teis

Perdebatan tentu tidak berhenti sampai di situ. Pihak teis punya tanggapan untuk setiap argumen di atas.

Terhadap analogi teko Russell, teis berargumen bahwa Tuhan bukanlah objek fisik sepele yang bisa disetarakan begitu saja dengan teko. Klaim tentang Tuhan berkaitan dengan asal-usul alam semesta, fondasi moralitas, dan makna eksistensi. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan fundamental, bukan sekadar spekulasi tentang objek sembarangan. Menyamakan keduanya adalah penyederhanaan yang berlebihan.

Terhadap problem of evil, ada dua tanggapan. Yang pertama, dunia yang berisi makhluk dengan kebebasan moral sejati lebih bernilai daripada dunia tanpa kebebasan, bahkan jika kebebasan itu disalahgunakan. Inilah yang disebut Free Will Defense. Keberadaan kejahatan tidak bertentangan secara logis dengan keberadaan Tuhan yang maha-baik. Keduanya bisa berjalan beriringan.

Tanggapan kedua lebih langsung menyasar prinsip ekspektasi versi ateis. Argumen ini berkata begini, kita sebagai manusia dengan pengetahuan yang sangat terbatas tidak punya posisi untuk menilai bagaimana seharusnya dunia terlihat kalau Tuhan ada. Bahwa kita merasa dunia ini terlalu buruk untuk mengandung Tuhan yang baik adalah penilaian dari sudut pandang yang amat sempit. Sebagaimana seekor tikus dalam labirin tidak bisa menyimpulkan maksud para ilmuwan yang mengamatinya, kita pun tidak bisa menyimpulkan maksud Tuhan dari potongan kecil realitas yang kita saksikan. Ketiadaan bukti yang diharapkan kaum ateis, dengan demikian, tidak bisa dijadikan bukti tandingan yang sah.

Terhadap persoalan beban pembuktian, teis menunjukkan bahwa argumen-argumen positif untuk Tuhan sebenarnya tidak kosong. Ada argumen yang beranjak dari sebab pertama alam semesta, ada yang menyoroti betapa tepatnya keteraturan kosmos bagi kehidupan, ada yang bertolak dari konsep tentang wujud teragung, dan tentu saja ada pengalaman religius yang dilaporkan oleh banyak orang lintas zaman dan budaya. Satu per satu argumen ini mungkin tidak sempurna. Tetapi akumulasinya, kata para teis, membentuk dasar yang masuk akal bagi keyakinan teistik.

Terakhir, ada pertimbangan yang lebih pragmatis. Blaise Pascal, dengan taruhannya yang termasyhur, berargumen bahwa dalam kondisi bukti yang tidak menentukan secara mutlak, mempertaruhkan hidup pada kepercayaan kepada Tuhan adalah pilihan yang paling masuk akal secara kalkulatif. Kalau kita percaya dan Tuhan ada, kita mendapat segalanya. Kalau kita tidak percaya dan Tuhan ada, kita kehilangan segalanya. Maka, ketiadaan bukti yang menentukan tidak otomatis berarti kita harus menangguhkan kepercayaan.

Tangkisan Kaum Ateis

Kaum ateis, tentu saja, tidak tinggal diam.

Terhadap argumen bahwa Tuhan melampaui alam fisik sehingga tidak bisa dituntut bukti, kaum ateis membalikkan logikanya. Kalau “Tuhan” didefinisikan sedemikian rupa sehingga tidak bisa dijangkau oleh bukti apa pun, kita sedang menciptakan apa yang bisa disebut imunitas epistemik. Klaim apa pun bisa dipertahankan dengan strategi ini. Cukup katakan bahwa objek klaim Anda berada di luar jangkauan investigasi manusia. Sebuah klaim yang kebal terhadap bukti adalah klaim yang tidak bisa dibedakan dari klaim kosong.

Terhadap gagasan bahwa kepercayaan pada Tuhan adalah keyakinan dasar yang tidak butuh bukti, kaum ateis mengajukan keberatan sederhana. Kalau kepercayaan pada Tuhan bisa menjadi keyakinan dasar yang rasional, mengapa kepercayaan pada hal lain yang sama-sama tidak punya bukti tidak bisa? Tanpa kriteria yang jelas untuk membedakan mana keyakinan dasar yang sah dan mana yang tidak, gagasan ini menjadi terlalu longgar. Ia bisa dipakai untuk membenarkan keyakinan apa pun, termasuk yang jelas-jelas mengada-ada.

Terhadap divine hiddenness sebagai desain yang disengaja, kaum ateis membalik argumen ini dari dalam. Kalau Tuhan maha-baik dan ingin dikenal manusia, mengapa banyak orang yang tulus mencari-Nya justru tidak menemukan-Nya? Menyembunyikan diri mungkin masuk akal untuk orang yang keras kepala, tetapi tidak untuk para pencari yang jujur. Ketersembunyian ilahi, dalam pandangan ini, bukanlah pembelaan bagi teisme. Justru sebaliknya.

Terhadap argumen bahwa kita terlalu terbatas untuk menilai bagaimana seharusnya dunia terlihat, kaum ateis mencatat bahwa argumen ini adalah pedang bermata dua. Kalau kita memang tidak bisa menilai bagaimana seharusnya dunia terlihat seandainya Tuhan ada, maka kita juga tidak bisa menilai bahwa dunia ini cocok dengan keberadaan Tuhan. Argumen ini memang menggagalkan kritik ateis dari kejahatan, tetapi dengan harga yang mahal. Ia juga menggagalkan setiap usaha teis untuk membaca kehadiran Tuhan dari alam dan sejarah. Ini jalan buntu, bukan kemenangan.

Terhadap taruhan Pascal, kaum ateis mengajukan keberatan yang sudah klasik. Taruhan itu hanya bekerja kalau pilihannya cuma dua, antara Tuhan Kristiani ada atau tidak ada. Tetapi bagaimana dengan kemungkinan bahwa Tuhan versi Islam, Yahudi, Hindu, atau bahkan Tuhan yang belum pernah diwahyukan, adalah yang benar? Dengan begitu banyak pilihan, kalkulasi taruhan kehilangan kekuatannya. Belum lagi pertanyaan moralnya, apakah Tuhan yang baik akan menghargai kepercayaan yang lahir dari kalkulasi untung-rugi semata?

Terhadap kumulatif kasus yang diajukan teis, kaum ateis menunjukkan bahwa masing-masing argumen klasik untuk Tuhan telah menghadapi kritik serius selama berabad-abad. Menumpuk argumen yang masing-masing bermasalah tidak otomatis menghasilkan kekuatan pembuktian yang lebih besar. Sepuluh argumen yang lemah tidak lantas menjadi satu argumen yang kuat.

Penutup

Setelah menelusuri perdebatan dari hulu ke hilir, kita bisa melihat bahwa ungkapan “ketiadaan bukti bukanlah bukti ketiadaan” memang benar secara logika elementer. Dari kenyataan bahwa kita “tidak menemukan X” tidak bisa begitu saja disimpulkan bahwa “X tidak ada”. Tetapi dalam praktik, ketiadaan bukti bisa menjadi kesimpulan yang wajar, tergantung ekspektasi yang kita bawa.

Di sinilah kita kembali pada tesis awal. Validitas adagium ini sangat bergantung pada dua faktor.

Faktor pertama, definisi “Tuhan” yang sedang diperdebatkan. Semakin Tuhan didefinisikan sebagai entitas yang personal dan campur tangan dalam sejarah, semakin wajar kita mengharapkan bukti. Semakin Tuhan didefinisikan sebagai prinsip abstrak atau penyebab pertama yang jauh, semakin lemah ekspektasi kita. Kaum ateis biasanya mengarahkan kritik pada konsep yang pertama. Kaum teis sering mundur ke konsep yang kedua ketika dituntut bukti. Perbedaan definisi inilah yang sering membuat kedua kubu berbicara melewati satu sama lain.

Faktor kedua, standar pembuktian yang kita anggap memadai. Kalau kita mengikuti Clifford, bukti harus proporsional dan keyakinan tanpa bukti adalah keliru. Kalau kita mengikuti Plantinga atau Pascal, standarnya lebih longgar. Maka sebelum berdebat tentang ada tidaknya Tuhan, kedua pihak sebenarnya perlu menyepakati dulu apa yang dianggap cukup sebagai bukti.

Di situlah pelajaran paling berharga dari perdebatan ini. Ia bukan sekadar soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ia adalah latihan untuk memeriksa asumsi-asumsi kita sendiri. Ketika seseorang berkata “mana bukti Tuhanmu?”, dan Anda menjawab “ketiadaan bukti bukanlah bukti ketiadaan”, yang sesungguhnya terjadi adalah benturan dua kerangka pikir yang berbeda tentang apa itu bukti dan apa itu Tuhan. Mengenali perbedaan itu, alih-alih terus berputar di permukaan, barangkali adalah langkah pertama menuju perdebatan yang lebih jujur dan lebih bermutu.

Koordinator LSF Discourse. Konsen dalam kajian Logika dan Komputasi.

Comments

Berikan komentar

Baca Juga