Beberapa waktu lalu linimasa saya diramaikan oleh sebuah utas viral. Seorang pekerja kreatif di Jakarta menceritakan harinya: bangun pukul lima pagi, olahraga setengah jam, mandi, sarapan smoothie bowl, bekerja dari pukul tujuh pagi sampai delapan malam, lalu lanjut mengerjakan side project sampai tengah malam. Setiap hari. Tanpa jeda. Utas itu ditutup dengan kalimat yang sekarang sering kita dengar: “No days off. Your future self will thank you.”
Ribuan orang memberi likes, ratusan membalas dengan semangat. Tapi ada satu balasan yang mengganjal di kepala saya, ditulis oleh seorang akun anonim: “Capek banget bacanya. Ini hidup apa kompetisi lari?”
Balasan itu tidak mendapat banyak perhatian. Ia tenggelam. Tapi justru di situlah letak persoalannya. Kita sudah hidup di zaman di mana kelelahan kronis dipamerkan sebagai prestasi dan istirahat dianggap sebagai dosa. Dan tidak ada yang menjelaskan fenomena ini lebih baik daripada seorang filsuf Korea-Jerman bernama Byung-Chul Han.
Han adalah pemikir yang cukup unik. Lahir di Seoul, besar dalam bayang-bayang kediktatoran militer Korea Selatan, lalu pindah ke Jerman untuk belajar filsafat dan teologi. Sekarang ia mengajar di Universität der Künste Berlin. Buku-bukunya pendek, padat, dan menusuk. Terutama satu buku kecil yang membuat namanya melambung: The Burnout Society, terbit tahun 2010.
Argumen sentral Han sederhana tapi radikal. Kita, katanya, tidak lagi hidup dalam apa yang disebut Foucault sebagai disciplinary society. Masyarakat disipliner abad ke-19 dan 20 dijalankan oleh institusi: rumah sakit jiwa, penjara, barak militer, pabrik. Kuasa bekerja lewat larangan. Kau tidak boleh melakukan ini, kau harus tunduk pada aturan itu. Subjek disipliner adalah subjek yang patuh.
Tapi sekarang, klaim Han, kita sudah pindah ke achievement society. Kuasa tidak lagi datang dari luar, melainkan dari dalam diri kita sendiri. Kita tidak lagi dilarang. Kita justru dimerdekakan untuk berkata “Ya, aku bisa” pada setiap tawaran, setiap proyek, setiap target. Dan di situlah letak jeratnya.
Han menulis: “The achievement-subject is free, but that freedom is a constraint. It exploits itself voluntarily.” Kutipan ini dari The Burnout Society dan ia meringkas seluruh kegilaan zaman kita. Kita adalah subjek yang bebas, namun kebebasan itu sendiri menjadi penjara. Kita mengeksploitasi diri sendiri atas nama aktualisasi diri. Kita menjadi tuan dan budak sekaligus dalam satu tubuh.
Di Indonesia, fenomena ini menemukan tanah yang sangat subur. Lihatlah bagaimana narasi hustle culture menyebar. Akun-akun motivasi dengan jutaan pengikut melontarkan dogma-dogma seperti “tidur adalah untuk yang lemah” atau “kalau kau tidak bekerja di akhir pekan, kau tidak cukup serius dengan mimpimu.” Podcast-podcast bisnis mewawancarai founders muda yang bangga hanya tidur empat jam sehari. LinkedIn berubah menjadi panggung flexing: “Alhamdulillah di usia 23 tahun aku sudah punya tiga bisnis, dua properti, dan satu eksistensial crisis yang kututupi dengan postingan ini.”
Yang mengerikan adalah bahwa kita melakukannya dengan sukarela. Tidak ada yang menyuruh kita bangun jam lima pagi untuk grinding. Tidak ada UU yang mewajibkan kita punya side hustle. Tapi kita tetap melakukannya dan kita tetap merasa tidak cukup. Selalu ada target baru. Selalu ada orang yang lebih produktif dari kita. Dan tiap kali kita rebahan sebentar, rasa bersalah langsung menyerang.
Han menyebut ini sebagai the violence of positivity. Berbeda dengan kekerasan negatif yang bekerja lewat larangan dan hukuman, kekerasan positif bekerja lewat afirmasi. “Kau bisa lebih,” “Kau layak sukses,” “Jangan puas dengan rata-rata.” Semua kalimat terdengar memberdayakan. Padahal justru kalimat-kalimat inilah yang membuat kita terus berlari sampai ambruk.
Depresi dan burnout adalah penyakit khas masyarakat prestasi. Dalam disciplinary society, gangguan mental yang dominan adalah neurosis: kecemasan, fobia, obsesi yang lahir dari represi. Tapi dalam achievement society, gangguan yang dominan adalah depresi. Dan depresi ini, menurut Han, bukan terutama disebabkan oleh konflik batin seperti yang diyakini psikoanalisis klasik. Depresi ini adalah “kelelahan dari menjadi diri sendiri” (the tiredness of being oneself).
Han menulis lagi: “The complaint of the depressive individual, ‘Nothing is possible,’ can only occur in a society that thinks, ‘Nothing is impossible.’” Kalimat ini dari The Burnout Society dan ia menjelaskan kenapa anak-anak muda sekarang merasa hampa. Di tengah masyarakat yang terus-menerus mengatakan bahwa semua hal mungkin dicapai, kegagalan bukan lagi sekadar kegagalan. Kegagalan adalah bukti bahwa dirimu cacat. Bahwa dirimu kurang. Bahwa dirimu tidak cukup ngotot. Dan rasa bersalah ini hanya bisa dilunasi dengan satu cara: bekerja lebih keras lagi. Sebuah siklus yang sempurna.
Menariknya, Han tidak menawarkan solusi yang bersifat programatik. Ia bukan self-help guru. Tapi ia menawarkan satu konsep yang berharga: contemplative life atau kehidupan kontemplatif. Ia mendasarkan ini pada tradisi filsafat yang lebih tua, terutama gagasan vita contemplativa yang hilang ditelan vita activa. Kita sudah terlalu sibuk bertindak, memproduksi, dan mengoptimalkan diri sampai kita lupa bagaimana caranya diam dan merenung. Diam, kata Han, bukanlah kekosongan. Diam adalah ruang di mana makna bisa muncul. Tapi dalam budaya yang mengukur harga diri berdasarkan output, diam tidak menghasilkan apa-apa. Maka diam disingkirkan.
Han menyebut ini sebagai hilangnya the ability to linger, kemampuan untuk berhenti dan berdiam. Segala sesuatu harus cepat, efisien, dan terukur. Informasi harus dikonsumsi secepat kilat. Hubungan manusia harus “no drama” dan “low maintenance” supaya tidak mengganggu produktivitas. Bahkan waktu luang pun diisi dengan kegiatan yang menghasilkan: olahraga untuk badan yang lebih ideal, baca buku untuk menambah wawasan yang bisa dipamerkan, meditasi supaya fokus kerja lebih tajam. Waktu luang bukan lagi ruang bebas. Ia adalah waktu optimasi yang disamarkan.
Di sinilah konteks Indonesia menjadi sangat relevan dengan cara yang mungkin tidak Han bayangkan. Indonesia adalah negeri dengan budaya gotong royong dan kebersamaan yang kuat. Dulu tetangga saling menyapa, duduk-duduk di teras tanpa agenda, nongkrong di warung kopi tanpa harus membahas networking. Tapi hustle culture menggerus itu semua. Nongkrong tanpa tujuan dianggap buang-buang waktu. Mengobrol tanpa output dianggap tidak produktif. Setiap interaksi harus ada hasilnya: dapat klien, dapat koneksi, dapat insight, dapat konten.
Maka lahirlah generasi yang lelah secara fundamental. Bukan sekadar lelah fisik yang bisa dipulihkan dengan tidur akhir pekan. Tapi kelelahan eksistensial. Kelelahan karena terus-menerus menjadi subjek yang harus mencapai sesuatu, membuktikan sesuatu, menjadi sesuatu. Han menyebut ini tiredness that isolates, kelelahan yang mengisolasi. Karena ketika semua orang adalah kompetitor dan setiap interaksi adalah transaksi, siapa yang tersisa untuk sekadar menemani tanpa syarat?
Saya teringat satu pasase lagi dari Han: “The feeling of having achieved something, which is economically measurable, is followed by a feeling of emptiness. For one cannot endow life with meaning through achievement alone.” Pasase ini dari The Disappearance of Rituals, buku Han yang lain yang juga membahas topologi kehidupan modern. Han mengingatkan bahwa prestasi dan capaian ekonomi tidak bisa menjadi sumber makna hidup. Tapi di sinilah ironi terbesar masyarakat kita: kita sudah tahu itu, kita sudah membaca kutipan-kutipan filsuf, kita sudah menonton video esai tentang bahaya hustle culture, lalu kita tetap melanjutkan scrolling LinkedIn, tetap merasa insecure, dan tetap memaksakan diri untuk grinding keesokan harinya.
Mungkin inilah kekuatan terdalam dari analisis Han. Ia tidak sekadar menyalahkan sistem kapitalisme atau neoliberalisme dari luar seperti yang dilakukan banyak kritikus kiri. Ia membidik sesuatu yang lebih intim: cara kita menginternalisasi logika kapitalisme ke dalam jiwa kita sendiri. Kapitalisme tidak perlu lagi represif dan otoriter. Ia cukup meyakinkan kita bahwa kita bebas, lalu membiarkan kita menghancurkan diri sendiri dengan kebebasan itu.
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Han tidak memberikan resep. Tapi membaca Han sudah merupakan tindakan perlawanan tersendiri. Karena untuk membaca Han dengan serius, kau harus berhenti sejenak. Kau harus berdiam. Kau harus memberi dirimu izin untuk tidak produktif selama beberapa menit. Dan di dalam diam itu, mungkin kau bisa mendengar suaramu sendiri yang sudah terlalu lama tertimbun oleh deru kewajiban untuk menjadi “seseorang.”
Mungkin langkah pertama untuk melawan masyarakat lelah bukanlah dengan melakukan sesuatu. Melainkan dengan berhenti melakukan segalanya. Diam. Merenung. Mengakui bahwa kau lelah. Dan tidak merasa bersalah karenanya.
Daftar Referensi
Han, Byung-Chul. (2015). The Burnout Society. Stanford University Press.
Han, Byung-Chul. (2020). The Disappearance of Rituals: A Topology of the Present. Polity Press.
Han, Byung-Chul. (2017). In the Swarm: Digital Prospects. MIT Press.






Berikan komentar