Bayangkan sebuah rumah yang penghuninya terus-menerus merusak fondasinya sendiri; itulah potret tragis hubungan manusia dan Bumi hari ini. Thomas Berry, biarawan dan sejarawan budaya, memberikan peringatan keras: “You cannot have healthy people on a sick planet”. Di Indonesia, peringatan ini mewujud nyata dalam rentetan bencana hidrometeorologi di Aceh hingga Sumatra Barat, yang mencerminkan ketidakseimbangan akut antara peradaban dan ekosistem. Namun, pertanyaan mendasarnya bukan sekadar “apa yang terjadi”, melainkan “apa yang salah dalam cara kita berpikir?”.
“Setiap bintang, pohon, dan makhluk hidup memiliki ‘interioritas’ atau kedalaman batin yang menjadikannya bagian dari komunitas suci alam semesta.”
Dekonstruksi Akar Masalah: Bifurkasi Cartesian dan Mesin Dunia
Buku ini mendiagnosis bahwa krisis ekologis berakar pada dua narasi disfungsional. Pertama, teologi yang terlalu berfokus pada penebusan individu pasca-wabah Black Death, yang membuat manusia menarik diri dari tanggung jawab duniawi. Kedua, dan yang paling fundamental secara filosofis, adalah kebangkitan kosmologi mekanistik era Pencerahan.
Secara ontologis, pemikiran Descartes telah menciptakan “Bifurkasi Cartesian”—sebuah pemisahan radikal antara res cogitans (kesadaran manusia) dan res extensa (materi fisik). Ketika Newton mereduksi alam semesta menjadi sekadar “jam raksasa” yang mekanis, alam kehilangan dimensi spiritualnya. Pohon kini sekadar sumber kayu, dan sungai hanya saluran air untuk dieksploitasi. Manusia modern menjadi subjek yang terasing, berdiri di luar alam semesta yang mereka anggap sebagai tumpukan materi mati.
New Cosmology: Menuju Ontologi Ekosentris
Sebagai antitesis, Yosef Fandri menyajikan New Cosmology sebagai integrasi antara sains modern dan spiritualitas. Thomas Berry menggugat pandangan mekanistik dengan menegaskan bahwa alam semesta adalah sebuah “subjek”, bukan “objek”. Melalui konsep Kosmogenesis, alam semesta dipahami sebagai narasi kreatif yang terus berevolusi secara irreversible selama 13,7 miliar tahun.
Buku ini menekankan tiga prinsip utama dalam setiap entitas kosmik:
- Diferensiasi: Keunikan tak tergantikan dari setiap ciptaan.
- Subjektivitas: Pengakuan akan “interioritas” atau dimensi batin pada setiap makhluk.
- Persekutuan: Jaringan keterhubungan yang tak terputus antara seluruh anggota keluarga kosmis.
Dengan prinsip ini, manusia dipanggil untuk menemukan kembali dirinya “pada tingkat spesies”—bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai bagian dari alam semesta yang sedang merayakan kesadarannya sendiri.
“Mengobati penyakit pada level simptom tanpa membangun kesadaran kosmis adalah kesia-siaan.”
Visi Masa Depan: Memasuki Era Ecozoic
Diskursus filosofis ini memuncak pada visi Era Ecozoic. Secara etimologis, Ecozoic berarti “rumah bagi segala makhluk hidup” (oikos dan zoikos). Ini adalah zaman di mana sistem kehidupan planet menjadi prioritas utama di atas kepentingan ekonomi jangka pendek. Di Indonesia, urgensi ini sangat terasa mengingat proyeksi deforestasi tahun 2025 yang mencapai 600 ribu hektar akibat industri ekstraktif.
Kritik tajam Martin Harun OFM dalam prolog buku ini menyoroti bagaimana ambisi “Indonesia Emas” sering kali mendorong eksploitasi berlebihan yang mengorbankan ekosistem tanah air. Padahal, Indonesia memiliki modal sosial berupa kearifan lokal seperti Tri Hita Karana dan Subak yang secara intuitif selaras dengan visi New Cosmology.
Diskursus Kritis: Mengapa Narasi Ini Penting?
Sebagai karya pertama dalam bahasa Indonesia yang membedah pemikiran Thomas Berry, buku ini memiliki posisi strategis. Penulis berhasil menyatukan kosmologi modern, teologi Kristen, hingga filsafat Timur ke dalam narasi yang aksesibel namun tetap tajam secara intelektual.
Meskipun regulasi pemerintah seperti PP No. 26 dan 27 Tahun 2025 mulai memperkuat tata kelola lingkungan, buku ini mengingatkan bahwa regulasi teknis saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah transformasi paradigma yang fundamental: dari antroposentrisme yang rakus menuju ekosentrisme yang menghormati hak hidup komunitas alam.
Kesimpulan: Kompas di Persimpangan Jalan
Perjalanan menuju era Ecozoic bukanlah sekadar pilihan akademis, melainkan keharusan eksistensial. Indonesia berada di persimpangan jalan antara pertumbuhan ekonomi yang merusak atau pembangunan berkelanjutan yang menghormati batas ekologis. Buku New Cosmology memberikan kompas spiritual bagi kita untuk kembali pulang ke rumah kosmis kita dengan penuh rasa hormat dan kesadaran.
Daftar Pustaka
- Fandri, Y. (2025). New Cosmology: Sebuah Narasi Baru Alam Semesta. PT Kanisius.
- Hukumonline. (2025). 4 catatan Walhi soal krisis lingkungan yang makin parah 2025.
- Kementerian Lingkungan Hidup. (2025). Dua PP baru perkuat tata kelola lingkungan.








Berikan komentar