4–6 minutes

Semakin Aku Tahu, Semakin Aku Tidak Tahu

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa mereka yang paling vokal sering kali adalah orang yang pengetahuannya belum mendalam?

Semakin Aku Tahu, Semakin Aku Tidak Tahu

Pernahkah Anda melihat seseorang dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi, merasa mengetahui segala hal, serta cenderung menutup diri dari gagasan orang lain? Sebaliknya, Anda mungkin juga pernah mengenal seseorang yang tidak banyak bicara dan rendah hati, tetapi ternyata memiliki intelektualitas serta keterbukaan pikiran yang luar biasa. Apakah kepercayaan diri yang tinggi selalu mencerminkan kepintaran? Ataukah mereka yang diam dan rendah hati justru memiliki tingkat intelektualitas yang lebih matang? Tulisan ini mengeksplorasi dua aspek yang saling terhubung: aforisme Socrates yang berbunyi “semakin aku tahu, semakin aku tidak tahu” yang merefleksikan kebijaksanaan dalam menghadapi luasnya ilmu pengetahuan, serta tinjauan psikologis mengenai korelasi antara kognisi dan perilaku manusia. Kedua aspek ini secara substansial merefleksikan bagaimana pengetahuan idealnya tumbuh bersama etika, sekaligus membuktikan esensi sejati dari proses belajar itu sendiri.

Kepercayaan diri dan kemampuan kognitif—apakah keduanya saling berkorelasi, bertolak belakang, atau justru berjalan beriringan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi, entah itu dalam berbicara, beretika, maupun berargumen. Di sisi lain, kita juga mengenal sosok yang pendiam, tidak banyak bicara, namun memancarkan aura kecerdasan meski ia tidak pernah berusaha memamerkannya di depan publik. Pernahkah kita merenungkan, apakah semakin tinggi kognisi seseorang, maka semakin besar pula pengaruhnya terhadap kepercayaan diri dan perilakunya?

Dalam diskursus filsafat klasik, terdapat aforisme terkenal yang sering disandarkan pada Socrates. Pemikiran ini, yang dicatat secara cermat oleh muridnya, Plato, dalam dialog seperti Apology, kerap diterjemahkan dan diadaptasi oleh para pemikir Romawi (seperti Cicero) ke dalam bahasa Latin menjadi “ipse se nihil scire id unum sciat”. Dalam bahasa Indonesia, kalimat ini bermakna: “Aku tahu bahwa aku tidak tahu”.

Aforisme ini menekankan kebijaksanaan tentang betapa kerdilnya rasio manusia di hadapan luasnya ilmu pengetahuan. Konsep ini mengingatkan kita akan batasan akal budi manusia untuk tidak terjebak pada sifat sombong dan tinggi hati. Apakah dengan demikian kita harus merasa minder? Tentu tidak. Pernyataan ini justru merupakan gerbang menuju keingintahuan (curiosity) yang lebih besar. Hal ini adalah fondasi untuk membuka pikiran terhadap kemungkinan-kemungkinan baru. Alhasil, semakin kita menyadari bahwa ada banyak hal yang belum kita ketahui, semakin terbuka pula kita untuk terus belajar dan mencari kebenaran.

Kesadaran akan keterbatasan intelektual ini tidak hanya diakui dalam diskursus filsafat Barat, melainkan juga memiliki resonansi yang kuat dalam tradisi spiritualitas agama, salah satunya Islam.

Dalam ajaran Islam, menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban fundamental, sejajar dengan pentingnya menjaga ibadah. Sahabat Rasulullah sekaligus khalifah kedua, Umar bin Khattab, pernah mengklasifikasikan proses pencarian ilmu pengetahuan ke dalam tiga tahapan. Pertama, ketika seseorang baru mempelajari sedikit hal (tahap awal), ia cenderung merasa unggul, merasa paling benar, menolak pemikiran orang lain, dan sulit menerima kritik. Kedua, ketika seseorang mulai mendalami ilmu tersebut lebih jauh, ia akan masuk ke tahap tawadhu (rendah hati). Pada tahap ini, kebijaksanaan mulai tumbuh; ia merasa haus untuk terus belajar dan tidak lagi memiliki tendensi untuk memamerkan pengetahuannya. Ketiga, ketika ilmunya sudah sangat luas, ia justru sampai pada tahap merasa “tidak ada apa-apanya”. Ia merenungi betapa tak terbatasnya ilmu pengetahuan dan menyadari bahwa apa yang diketahuinya hanyalah setetes air di tengah samudra yang luas.

“Barang siapa yang menempuh jalan menuju ilmu, Maka Allah akan memudahkannya baginya jalan menuju Surga.” — (HR. Muslim No. 2699)

Secara saintifik, korelasi antara pengetahuan dan kepercayaan diri ini dijelaskan dengan sangat presisi dalam ilmu psikologi modern melalui konsep Dunning-Kruger Effect. Diperkenalkan oleh David Dunning dan Justin Kruger, fenomena ini menjelaskan kondisi di mana seseorang dengan kemampuan kognitif atau kompetensi yang rendah cenderung menilai diri mereka lebih hebat dan lebih pintar dari yang sebenarnya, sekaligus menganggap orang lain lebih inferior.

Seseorang yang terjebak dalam Dunning-Kruger Effect menghadapi dua masalah utama. Pertama, mereka sering kali mengalami miskonsepsi karena menelan informasi yang baru saja dipelajarinya secara mentah-mentah. Ketika mereka menemukan satu konsep baru, mereka dengan penuh keyakinan menyebarkannya kepada orang lain. Di era digital saat ini, fenomena ini sangat relevan dengan menjamurnya para pseudo-expert (pakar dadakan) di media sosial yang sering kali bersuara paling keras meski pemahamannya baru seumur jagung. Secara tidak langsung, mereka turut menyebarkan misinformasi.

Masalah kedua, orang tersebut gagal menyadari kekeliruan serta keterbatasan kemampuannya sendiri (metacognitive inablity). Akibatnya, mereka merasa selalu benar dan kehilangan inisiatif untuk mendalami, memverifikasi, atau menguji kembali informasi yang telah diterima.

Pada grafik Dunning-Kruger Effect di atas, garis vertikal mewakili tingkat kepercayaan diri (Confidence), sementara garis horizontal mewakili kompetensi (Knowledge/Experience). Ketika seseorang berada pada tahap awal pembelajaran, tingkat kepercayaan dirinya melonjak drastis hingga mencapai apa yang disebut “Peak of Mount Stupid” (Puncak Gunung Kebodohan). Di titik ini, ia merasa tahu segalanya.

Namun, ketika ia terus belajar dan menyadari bahwa realitas pengetahuan itu sangat kompleks, kepercayaan dirinya akan anjlok drastis menuju “Valley of Despair” (Lembah Keputusasaan). Ia akhirnya sadar bahwa selama ini ia keliru dan tidak tahu apa-apa. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jam terbang, ia akan memasuki fase “Slope of Enlightenment” di mana kepercayaan dirinya mulai naik perlahan, tetapi berakar pada kompetensi yang nyata. Kepercayaan diri pada tahap akhir (fase Guru atau ahli) ini sangat berbeda dengan kepercayaan diri di tahap awal. Kepercayaan diri yang matang ini dibalut dengan kerendahan hati, kebijaksanaan, dan etika, bukan kesombongan.

Sebagai konklusi, meminjam kebijaksanaan Socrates, refleksi spiritual Umar bin Khattab, dan pembuktian empiris Dunning-Kruger, kita dapat menarik satu benang merah yang utuh: proses menuntut ilmu yang sejati tidak hanya mengasah rasio, tetapi juga mendewasakan jiwa. Semakin dalam kita mendalami ilmu pengetahuan, yang seharusnya mekar bukanlah ego, melainkan kebijaksanaan dan etika kepribadian. Pengetahuan dan kepercayaan diri yang diintegrasikan secara benar akan menghasilkan sintesis manusia yang tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga anggun secara moral.

Referensi

  • Ajibalu. (n.d.). Tiga Tahapan Menuntut Ilmu Menurut Sahabat Umar Bin Khattab. Kompasiana. Diakses dari: https://www.kompasiana.com/ajibalu/669c902d34777c174a6d3ca2/tiga-tahapan-menuntut-ilmu-menurut-sahabat-umar-bin-khattab
  • Filsastra. (n.d.). Filsafat Socrates: Aku Tahu Bahwa Aku Tidak Tahu. Diakses dari: https://filsastra.com/filsafat-socrates-aku-tahu-bahwa-aku-tidak-tahu/
  • Jurnal, L., Pendidikan, M., & Nugraha, A. A. (n.d.). Literaksi: Jurnal Manajemen Pendidikan | 187 Dunning-Kruger Effect: Mengapa Seseorang Merasa Dirinya Pintar?
  • Olivantina, R. A., Olivantina, O., & Suparno, S. (2018). PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI ANAK MELALUI METODE TALKING STICK. JPUD – Jurnal Pendidikan Usia Dini, 12(2), 331–340. https://doi.org/10.21009/jpud.122.14
Bagas Triyo Cahyono

Comments

Berikan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga