4–7 menit

Apakah Tuhan Benar-Benar Mati?

Manusia mulai meninggalkan ajaran institusi agama yang dianggap kaku, lalu bereksperimen, menghancurkan dan membentuk kembali makna ber-Tuhan.

Apakah Tuhan Benar-Benar Mati?

Salah satu kutipan terkenal dari Nietzsche adalah ‘Tuhan telah mati’. Selanjutnya manusia beralih ke tatanan baru, dunia yang sekuler dan nihilistik. Kemajuan sains dan rasionalitas birokrasi mendominasi kelahiran dunia baru tersebut. Manusia tidak lagi membutuhkan eksistensi Tuhan dalam dirinya. Max Weber juga Memprediksi hal yang serupa, “disenchantment of the world” (dunia yang tidak lagi ajaib), untuk menunjukkan bahwa beragam institusi tradisional agama akan tersisihkan dari ruang publik.

‘Apakah manusia benar-benar meninggalkan Tuhan?’ adalah tema yang diangkat untuk merefleksikan kembali eksistensi Tuhan dan Agama di masa sekarang, di mana ateisme dan agnostisisme menjadi tren global. Di tengah tren yang terus meningkat, manusia nampaknya masih tetap merindukan pijakan yang bersifat transendensi. Ia hadir dalam era yang disebut post-sekulerisme atau paradigma ‘Spiritualitas Tanpa Agama’.

Secara global, fenomena agnostik terus berkembang. Di Amerika Serikat, tren ini meningkat sekitar 54% pada tahun 2023. Di indonesia sendiri kekecawaan pada tokoh dan institusi agama memicu kalangan muda untuk menjadi agnostik. Seperti dalam sebuah riset oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menyebutkan bahwa angka agnostik mencapai 36%, menandai respon negatif terhadap dominasi institusi agama di Indonesia.

Fenomena beragama tanpa Tuhan bukan sekedar pelampiasan emosional, namun konsekuensi filosofis atas perkembangan pengetahuan yang tidak cukup untuk mengekspresikan pengalaman eksistensial manusia. Charles Taylor, Dalam magnum opusnya yang berjudul Secular Age, menjelaskan tentang bagaimana proses pencarian makna dalam perspektif ketuhanan bergeser sejak abad pertengahan menuju abad ke 21.

Dalam pandangan Taylor, kita akan menelusuri bagaimana jejak pencarian manusia mengalami pergeseran paradigma bisa terjadi. Lalu, kita akan mengenal bagaimana konsep poskularisme Dipahami sebagai paradigma baru, tentang sesuatu selain Tuhan (rasionalitas, sains, humanisme sekuler) menggantikan peran Tuhan sebagai preferensi moral dan kepenuhan (fullness).

Mundurnya Kehadiran Tuhan

Dalam teksnya berjudul Secular Age, Taylor memulai penelusuran filosofisnya dalam sebuah pertanyaan yaitu, mengapa pada tahun 1500 banyak orang yang memeluk ajaran ketuhanan sedangkan pada tahun 2000-an kepercayaan itu memudar bahkan sulit dipertahankan?

Dalam peristiwa sejarah, Revolusi Protestan menandai awal sekularisme di barat. Menurut Taylor kita dapat membedakan sekularitas ke dalam tiga definisi utama yaitu ruang publik, penunuran keyakinan, dan kondisi kepercayaan. Pertama ruang publik, ditandai dengan pemisahan agama dengan politik atau institusi negara. Kedua, penurunan keyakinan, di mana kepercayaan terhadap agama di masyarakat semakin menurun. Ketiga, kondisi kepercayaan, Tema yang akan menjadi fokus utama dalam karya Taylor, di mana Tuhan dipercaya oleh manusia tidak berdasarkan pengaruh struktur sosial, namun sebagai pilihan eksistensial.

“Places within which God was manifestly obvious in pre-modernity (1) the natural world testified to divine purpose (2) implicated in the existence of society (3) people lived in an “enchanted” world – spirits, demons, moral forces”

Pada masa lalu, terutama Abad Pertengahan di Eropa, wacana tentang Ketuhanan berpengaruh begitu kuat di masyarakat. Konsep Ketuhanan termanifestasi ke dalam tiga bentuk, yaitu alam semesta, masyarakat, dan dunia gaib (Enchanted). Unsur-unsur itu dipercaya tidak terlepas dari intervensi Tuhan dalam kehidupan menyehari manusia. Institusi agama dan raja berperan dalam menerjemahkan dan menyampaikan perintah Tuhan kepada masyarakat.

Masyarakat melihat dirinya sebagai sebuah kesatuan yang melampaui individu, sebagai tubuh dan alam semesta yang diatur oleh Tuhan. Karena itu, pengaruh religiusitas tertanam di masyarakat secara struktural dan turun-temurun.

“A crucial condition for this was a new sense of the self and its place in the cosmos: not open and porous and vulnerable to a world of spirits and powers, but what I want to call ‘buffered’.

But it took more than disenchantment to produce the buffered self; it was also necessary to have confidence in our own powers of moral reasoning.”

Manusia tidak lagi memandang dirinya dengan cara yang sama. Pada masa lalu, manusia melihat dirinya sebagai porous self (diri yang terbuka/berpori), mereka menganggap diri mereka dekat dan rentan oleh pengaruh gaib atau transendental. Namun pada masa kini, mereka melihat diri mereka sebagai buffered self (diri yang berbatas/terlindungi). Artinya mereka tidak lagi melihat dirinya dalam satu kesatuan dengan yang transendental, mereka terpisah. Kekuatan kosmis dari luar hanya dianggap sebagai ilusi pikiran, bukan pengaruh yang dapat mengintervensi jiwa manusia. Kebijaksanaaan utama manusia tergantikan menjadi kemampuan akal budi dan rasionalitas moral.

Taylor menolak pandangan bahwa sekulerisasi hanya lahir dari pengaruh sains dan rasionalitas manusia. Pengaruh besar juga datang dari tubuh kekristenan itu sendiri, reformasi protestan. Mereka menghilangkan unsur sihir dan takhayul, membawa narasi baru tentang ketertiban, kedisiplinan, dan rasionalitas. Hal ini juga dijelaskan dengan baik oleh Max Weber dalam karyanya berjudul Etika Protestan, di mana standar moral universal membawa perubahan pada pola pikir dan pembentukan sistem ekonomi. Narasi ini akhirnya membawa manusia menuju gerbang antroposentrisme, humanisme tanpa Tuhan (hlm.130).

Peradaban manusia telah beralih menuju individu yang mandiri. Tatanan tidak lagi terasa dari hierarki kosmis, dimana raja dianggap sebagai wakil Tuhan, melainkan berasal dari masyarakat itu sendiri, manusia rasional dan agen sosial (hlm. 159). Tatanan baru itu tercipta ke dalam tiga ruang utama, yaitu ekonomi yang bergerak menurut hukum invisible hand, ruang publik, dan pemerintahan demokratis.

The Nova Effect: Munculnya Ledakan Pluralisme

Istilah The Nova Effect digunakan untuk merujuk pada adanya ledakan jumlah spiritual, moral, dan cara hidup manusia modern. Kita bisa menyebutnya sebagai ledakan pluralisme. Ledakan pluralisme ini disebabkan oleh berbagai hal yang dialami sepanjang sejarah manusia modern seperti budaya, seni, dan tragedi (Perang Dunia) yang membentuk imajinasi sosial baru manusia pos-sekuler.

Konsep evolusi Darwin membuat manusia percaya bahwa alam semesta bergerak dalam keteraturan yang impersonal/hukum buta. Dalam teologi, istilah ini dikenal dengan Deisme– berkembang pada masa awal modern– di mana Tuhan hanya berperan dalam proses penciptaan tatanan dan aturan saja, tanpa terlibat dalam intervensi menyehari manusia.

Ledakan pluralisme ini juga lahir dari pengaruh filsafat Nietzsche. Nietzsche menguji gagasan arus utama tentang manusia, yang luhur dan berakal budi. Ia menawarkan gagasan baru yang lebih lebih memberontak, irasional, dan amoral, sisi lain yang dianggap memperkaya vitalitas dan kreativitas manusia baru.

Tuhan tidak Benar-Benar Mati

Lahir berbagai narasi baru sebagai alternatif institusi agama yang memudar, seperti Matthew Arnold yang menawarkan sastra dan seni sebagai budaya luhur, J.S. Mill dengan konsepsi humanism of altruism and duty, sampai konsep panenteisme yang dianggap lebih mampu memberikan solusi atas krisis relasi antara manusia dan alam semesta.

“that each one of us has his/her own way of realizing our humanity, and that it is important to find and live out one’s own.” (hlm.475)

Taylor menolak pandangan yang menganggap bahwa paradigma sekuler membuat manusia akhirnya meninggalkan Tuhan, melainkan eksis dalam wujud yang lain, “individualisme ekspresif”. Manusia mulai meninggalkan ajaran institusi agama yang dianggap kaku, lalu bereksperimen, menghancurkan dan membentuk kembali makna ber-Tuhan.

Yogi Timor Ardanani

Anggota Lingkar Studi Filsafat Discourse

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga