7–11 minutes

Di Balik Kemudi Sains: Antara Sains dan Kepentingan Manusia

Sains kerap dikambinghitamkan atas berbagai tragedi modernitas. Namun, benarkah sains yang bersalah?

Di Balik Kemudi Sains Antara Sains dan Kepentingan Manusia

Sains adalah lokomotif bagi modernitas (Hardiman, 2023:18). Melalui klaim objektivitasnya, sains tidak hanya mengubur kebenaran-kebenaran mistis dan kepercayaan pada hal adiduniawi yang dulu banyak diyakini, tetapi juga menyalakan optimisme baru. Ia membebaskan dunia barat dari dominasi otoritas gereja dan disemogakan dapat mengejawantahkan cita-cita luhur abad pencerahan seperti kebebasan, kesejahteraan, dan keadilan.

Reputasi Sains

Pada mulanya sains mampu mewujudkan ambisi besar semacam itu. Serbaneka kebaruan yang hari ini kita yakini sebagai suatu bentuk kemajuan tak lain adalah produk sains. Melalui keandalannya, dunia pendidikan, politik, kesehatan, ekonomi, dan teknologi berkembang dengan sedemikian pesat. Dalam dunia pendidikan, misalnya, orang tidak lagi direpresi sebab memiliki pandangan yang berbeda dengan otoritas gereja. Dengan demikian, saintis lebih leluasa untuk mengembangkan penelitiannya. Hal ini juga terjadi pada ranah politik, yang pada gilirannya mendorong terbentuknya demokrasi. Lalu berkat sains juga, di bidang kesehatan ditemukan obat dan cara pengobatan yang lebih mujarab untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang dulu tak pernah diketahui penyebabnya. Kemudian di bidang ekonomi, sains membantu terbentuknya cara produksi yang lebih efektif dalam skala masif. Dan di bidang teknologi, sains mampu mendukung terciptanya banyak teknologi yang memudahkan hidup manusia. Dengan pencapaian semacam itu, sains tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan reputasinya. Ia dengan segera merasuk ke dalam setiap lini kehidupan manusia dan menggantikan berbagai kepercayaan pada hal adiduniawi yang dulu menjadi pijakan dalam berpikir dan bertindak.

Namun sayangnya, reputasi semacam itu tidak bertahan lama. Hanya sesaat setelah manusia menyadari bahwa senarai kemajuan yang tercipta melalui sains ternyata turut membawa berbagai mala yang sebelumnya sama sekali tak pernah diduga, pandangan optimis pada sains dalam sekejap berubah menjadi tatapan skeptis nan sinis (Calne, 2004: 12-13). Dua perang dunia, pembantaian di kamp konsentrasi Auschwitz, kerusakan alam karena eksploitasi besar-besaran, dan ancaman perang nuklir yang sudah di depan mata, dianggap sebagai dosa besar sains. Ia memang berdampak sangat signifikan bagi dunia medis, tapi ternyata kemajuan itu juga dibarengi dengan penemuan racun Zyklon B yang membunuh jutaan nyawa di kamp konsentrasi itu. Teknologi yang tercipta olehnya juga sangat membantu manusia, tapi teknologi itu jugalah yang membunuh ratusan juta jiwa selama perang dunia. Pun, kemajuan industri yang didorong oleh kesaktian sains tidak hanya membawa dampak signifikan di bidang ekonomi, tetapi juga mempercepat degradasi lingkungan.

Gerak Menjauh dari Sains

Semua peristiwa mengerikan itu membuat banyak orang bergerak menjauhi—jika bukannya malah membenci—sains. Hal ini kemudian membuat banyak orang tidak lagi melihat sains sebagai pengetahuan yang membebaskan, melainkan justru sebagai pengetahuan yang mendukung penindasan manusia terhadap sesama maupun lingkungannya. Gerak menjauh itu semakin kentara manakala kita menjumpai sektarianisme yang semakin menguat, ekstremisme politik, serta fundamentalisme agama (Calne, 2004:13).

Contoh yang sangat tipikal untuk menggambarkan gerakan ini adalah ketika banyak orang percaya bahwa bumi itu datar (flat earth), sebab menurut mereka bumi bulat hanyalah propaganda dari NASA. Kita tentu juga masih sepenuhnya ingat, bagaimana beberapa tahun lalu banyak orang menganggap Covid-19 tidak lebih dari teori konspirasi. Dan meski bukti yang diperlihatkan sudah seterang cahaya, mereka tetap teguh dengan keyakinannya. Serupa juga, banyak orang yang menolak program vaksinasi karena menganggap itu adalah akal-akalan Bill Gates untuk menanamkan microchip dalam tubuh manusia, padahal rekomendasi telah dikeluarkan oleh berbagai badan kesehatan di seluruh dunia.

Sains dan Kepentingan

Fenomena yang bisa kita sebut sebagai gerakan anti-sains ini sebenarnya bisa ditarik akarnya dari suatu kegagalan untuk memberikan demarkasi yang memadai antara pengetahuan objektif khas sains dan kepentingan di baliknya. Dengan demikian, sains dianggap bersalah atas dosa-dosa besar modernitas, dan kemudian banyak orang menjauhinya. Sains terlanjur diharapkan untuk bisa mengubah kehidupan, padahal sains pada dasarnya hanyalah instrumen dan sama sekali bukan agen. Menggunakan kalimat di awal tulisan, sains hanya lokomotif. Lokomotif itu sendiri tidak akan menjadi apa-apa tanpa juru kemudi di dalamnya: masinis. Berbagai kepentingan manusialah masinis dari lokomotif itu. Masinis yang menentukan akan dibawa ke mana lokomotif itu melaju. Masinis itulah yang seharusnya kita salahkan dan adili atas bencana yang ditimbulkan modernitas.

Tapi bagaimana membedakan antara pengetahuan dan kepentingan yang menyituasikannya? Bukankah Foucault, misalnya, dengan teori pengetahuan dan kuasanya telah menunjukkan bahwa pengetahuan selalu menubuh bersama kekuasaan, dan oleh karenanya juga kepentingan? Lantas masih adakah pengetahuan yang benar-benar objektif seperti yang diklaim sains? Pertanyaan semacam ini penting dijawab agar sains tidak dijadikan kambing hitam atas bencana yang timbul karena modernitas, sekaligus menjadikan kita lebih berhati-hati dengan setiap tindakan yang diklaim berlandaskan sains.

Tawaran Habermas

Untuk menjawab pertanyaan semacam ini, tawaran dari Jurgen Habermas sangat layak kita pertimbangkan. Dengan teori cognitive interest-nya, Habermas mengatakan bahwa sains juga segala jenis ilmu pengetahuan selalu berjalin kelindan dengan satu dan lain kepentingan. Ia membedakan sekurang-kurangnya tiga jenis kepentingan yang bertautan dengan jenis pengetahuan yang berbeda.

Pertama adalah pengetahuan bercorak empiris-analitis seperti kimia, fisika, dan biologi yang menyimpan kepentingan teknis, yakni kepentingan untuk memahami dan mengontrol alam. Kedua adalah pengetahuan historis-hermeneutis semisal sosiologi dan antropologi yang terbentuk karena adanya kepentingan praktis, suatu kepentingan untuk memahami dan menginterpretasi kekhasan dunia sosial manusia. Ketiga adalah pengetahuan kritis yang memiliki keinginan untuk membebaskan manusia dari dominasi dan penindasan, atau dengan kata lain emansipatoris. Misalnya saja, mazhab kritis, feminisme, dan postkolonialisme (Tjahyadi, 2003:184).

Namun, dengan pandangan semacam ini, Habermas tidak bermaksud mencampuradukkan antara sains atau pengetahuan empiris-analitis dengan kepentingan. Ia memang setuju dengan para pendahulunya semisal Foucault, bahwa pengetahuan erat dengan kekuasaan, tapi lebih dari itu ia juga berupaya untuk membebaskan pengetahuan yang objektif dari dekapan mesra kekuasaan. Sains tentu adalah pengetahuan yang objektif dan faktual. Ia pada dirinya sendiri tidak bisa bersifat ekonomis maupun politis, karena dihasilkan dengan metode ilmiah yang sangat ketat itu. Tapi bagaimana sains terbentuk dan kemudian digunakan, selalu tersituasikan oleh sesuatu yang sangat alamiah dari diri manusia: kepentingannya. Entah itu kepentingan biologis, ekonomis, maupun politis (Hardiman, 2023:164-165).

Sebagai contoh, penelitian di bidang kecantikan tentang bagaimana membuat kulit lebih putih, lebih cerah, dan awet muda tentu adalah satu jenis pengetahuan yang objektif, sebab telah melalui prosedur ilmiah yang sahih. Tapi mengapa penelitian semacam ini terus dilakukan tentu didasari oleh kepentingan yang konkret juga ideologi yang tertentu. Mula-mula penelitian semacam ini sudah barang pasti dilakukan demi meraup keuntungan sebesar-besarnya dari pasar. Dan betapa pun tidak diakui, penelitian semacam ini juga berpijak di atas fondasi ideologis rasis bernama white supremacy.

Oleh karena sains tidak pernah bisa menentukan kepentingannya sendiri, ia selalu disetir oleh—dalam konteks contoh di atas—para kapitalis dan aparatus ideologis. Maka di sinilah pentingnya pengetahuan kritis emansipatoris. Ia tidak hanya berhati-hati dengan kebenaran yang dibentuk oleh sains, tapi lebih dari itu, juga mengautopsi selubung kepentingan dalam tubuh sains. Memetakan apakah suatu kepentingan yang didorong oleh keandalan sains adalah kepentingan yang mengemansipasi, atau justru memberi banyak ruang bagi terciptanya dominasi dan penindasan.

Temuan Donald Calne

Sedikit beralih dari kajian filsafat, gagasan serupa juga disampaikan oleh neurolog asal Kanada, Donald Brian Calne. Dalam bukunya yang cukup terkenal berjudul Within Reason—yang juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Batas Nalar—Calne ingin menyoroti bahwa nalar, dan dengan demikian juga sains, hanyalah alat bagi manusia untuk mempertahankan hidupnya. Ia tidak punya dan tidak mampu menentukan tujuannya sendiri. Sains harus diakui memiliki keandalan untuk membantu manusia mencapai suatu tujuan. Ia mengubah cara kita melakukan sesuatu menjadi lebih mudah, tapi sayangnya sama sekali tidak memengaruhi “mengapa” kita melakukan sesuatu (Calne, 2004:7). Perang, misalnya, telah kita jumpai sejak dahulu kala; sains hanya mengubah cara kita berperang, namun sama sekali tidak menghentikannya. Dulu manusia berperang dengan panah dan pedang, kini malah berubah menjadi mesin perang yang amat mengerikan.

Tapi mengapa nalar dan sains sedemikian terbatas? Mengapa ia tidak bisa menentukan tujuannya sendiri? Hal itu berkaitan dengan bagaimana manusia mendapatkan motivasi atau dorongan untuk melakukan berbagai tindakannya. Manusia terbiasa melakukan sesuatu agar mendapatkan ganjaran mental dan sebisa mungkin menghindari hukuman mental. Dan apa yang memungkinkan manusia untuk mendapatkan ganjaran mental serta menghindarinya adalah naluri, emosi, dan kode budaya; nalar maupun sains tak kuasa melakukannya (Calne, 2004:35-36). Sains baru bisa memberikan ganjaran mental bila terkait dengan naluri maupun emosi. Sebuah proposisi semisal air mendidih di suhu 100°C, pada dirinya sendiri tidak akan memberikan ganjaran mental apa pun. Proposisi ini baru memberikan ganjaran mental pada kita berupa rasa senang, ketika misalnya kita tahu bahwa dengan air mendidih itu kita bisa menyeduh secangkir kopi panas yang nikmat.

Mengatakan bahwa sains tidak bisa menentukan tujuannya sendiri, dan selalu didorong oleh naluri, emosi, maupun sikap budaya, memang terdengar sebagai pernyataan yang pesimis. Tapi mengakui hal ini justru akan mempertajam bagaimana kita mempertimbangkan setiap tindakan yang mungkin dilakukan manusia. Dengan menyadari keterpisahan antara sains dan motivasi atau kepentingan yang menungganginya, kita tidak hanya bertanya mengenai “bagaimana mendapatkan apa yang kita inginkan”, tapi juga “mengapa kita menginginkan apa yang kita inginkan” (Calne, 2004:415). Dalam hal ini perkataan Schopenhauer tampak ada benarnya: “Kita bisa melakukan apa yang kita kehendaki, tapi tidak bisa menghendaki apa yang kita kehendaki.”

Akhirnya, sekali lagi harus diakui bahwa sains adalah instrumen yang sangat bisa diandalkan untuk membantu mencapai tujuan yang kita kehendaki. Ia adalah pengetahuan terbaik tentang dunia alamiah yang hari ini kita miliki. Menjadi anti padanya tentu saja adalah pilihan yang merugikan diri sendiri, tapi menganggap bahwa sains adalah pengetahuan yang bebas kepentingan adalah kenaifan belaka.

Dari Habermas dan Calne kita tahu bahwa sains sebenarnya tidak pantas kita salahkan atas dosa-dosa besar modernitas. Sains hanyalah fasilitator alih-alih inisiator. Sama seperti dampak buruk yang dimungkinkannya, ia sama siapnya untuk kita gunakan sebagai sarana kebaikan ataupun alat pembebasan. Sains hanya perkakas untuk membangun rumah bernama modernitas. Seperti apa gaya rumahnya, seberapa besar ukurannya, dan siapa saja yang boleh tinggal di dalamnya ditentukan oleh naluri dan emosi yang termanifestasi dalam kepentingan-kepentingan manusia.

Dengan menyadari bahwa sains selalu berjalin kelindan dengan kepentingan, berarti pertama-tama kita harus berhati-hati dengan kebenaran yang ditemukannya. Sains sangat layak dan memang harus kita ragukan—karena sejarah sains menunjukkan bahwa ia sangat mungkin salah—tetapi tidak lantas anti padanya. Setelahnya, kita harus menyelami misi tersirat di dalamnya, mengautopsi selubung tirani di baliknya. Kita harus mengevaluasi apakah kepentingan yang didukung oleh kesaktian sains adalah kepentingan yang mengemansipasi atau justru mendominasi, apakah menciptakan kebebasan atau justru memberikan ruang bagi penindasan.

Referensi

Calne, D. B. (2004). Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia. (P. T. Simbolon, Penerj.) Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Hardiman, F. B. (2023). Kebenaran dan Para Kritikusnya: Mengulik Idea Besar yang Memandu Zaman Kita. Daerah Istimewa Yogyakarta: PT Kanisius.\

Tjahyadi, S. (2003). Teori Kritis Jurgen Habermas: Asumsi-Asumsi Dasar Menuju Metodologi Kritik Sosial. Jurnal Filsafat, 184.

Schopenhauer, A. (2023). Tentang Pesimisme. (K. Maqin, Penerj.) Yogyakarta: Antinomi.

M. Ja'far Baihaqi

Mahasiswa Aqidah Filsafat di UIN SATU Tulungagung

Comments

Berikan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Baca Juga